Jumat, 06 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-Bagian 11

Rim
Aku membutuhkanmu seperti bumi butuh langitnya. Kau mengerti kan? Artinya, aku dan kau sudah takdir. Satu paket lengkap yang tak terpisahkan.
            Dulu kupikir, aku tak butuh siapapun.
            Sekarang kupikir, tidak adanya kau menyesakkan dadaku. Setiap hari aku datang ke makammu. Menaburi peristirahatan terakhirmu dengan bunga-bunga. Menyirami tempat berteduhmu dengan air telaga. Aku yakin kau merasakannya di bawa sana, merasakan tiap titik perhatian dan rinduku yang menyebar mengakar menjumpaimu.

            Aku menatap perkamen ini dengan hati hancur. Ini surat cinta Jem untuk istrinya yang meninggal dunia akibat sakit paru-paru. Aku menemukannya di ruang perpustakaan rahasia. Perpustakaan ini berada di bawah tanah. Pintu masuknya melalui kamar Jem. Tidak ada seorang pun yang memasuki kamar ini sebelumnya sejak kepergian Jem. Aku orang pertama. Ayah menyuruhku mengambil beberapa gulung perkamen penting yang harus kupelajari.
            Kamar Jem sungguh lembab. Dindingnya dingin dan terasa rapuh. Ruangannya kecil, berisi sebuah ranjang dengan lemari pakaian kecil dan meja rendah. Untuk masuk ke perpustakaan, cukup menggeser meja rendah itu dan membuka sebuah kait. Tangga turun agak curam. Di bawah sana jauh lebih lembap dan gelap. Sarang laba-laba telah lama menghuni langit-langitnya. Rak-rak buku berdiri berdampingan dengan peti-peti terkunci yang entah dimana kuncinya disimpan. Kupikir Jem membawa pergi banyak rahasia ke liang kuburnya. Tak banyak yang bisa kulakukan dalam meneruskan kepemimpinannya selain menyerap ilmu dari perpustakaan atau mendengarkan ayah. Jem tidak membimbingku. Padahal aku membutuhkannya.

            "Ayah, kenapa Jem tidak menikah lagi setelah istrinya pergi?"
"Ia pikir waktunya sudah tercurah banyak untuk kaumnya. Ia tak punya waktu memperhatikan seorang perempuan yang menyandang status sebagai istrinya."
"Apa ia tidak kesepian?"
"Sejauh yang kutahu, Jem memang penyendiri. Ia sering berjalan-jalan ke hutan sendirian. Jem hampir tidak pernah mengeluhkan apapun padaku. Tak ada yang musti ia ceritakan padaku. Semua ia telan habis."
"Aku menemukan surat cinta untuk mendiang istrinya."
"Jem sangat memuja perempuan itu. Walaupun asal-usulnya tidak jelas. Dia bukan kaum kita."
"Bagaimana awal mula mereka bertemu?"
"Kakekku bercerita, suatu hari Jem tiba-tiba datang bersama seorang perempuan. Orangtua Jem merestui perempuan pilihannya dan menikahkan mereka. Kakek Jem adalah pemimpin kaum kita kala itu. Ia memimpin upacara pernikahan Jem dan kelahiran Ancehe."
"Seperti apa Jem di masa mudanya?"
"Ia pendiam dan lebih suka menyibukkan diri di kebun kesayangannya di bukit. Ia memang dipersiapkan dengan baik oleh kakekknya untuk memimpin. Jem sempat tinggal di kota selama beberapa tahun dan dididik di istana. Ia belajar berbagai hal yang tidak dapat ditemukan di sini. Ilmu alamnya berkembang hebat. Salah satu alasan keberhasilannya sebagai pemimpin, sebab ia berhasil membaca tanda-tanda alam dan menyelesaikannya."
"Apa lagi?"
"Jem menguasai ilmu perniagaan dan pelayaran. Ia pandai berkuda, memanah, dan berenang. Segala macam latihan fisik pun kerap ia latih sendiri. Ia seperti prajurit siap tempur. Bahkan dalam seleksi pihak istana, harusnya Jem menjadi prajurit. Namun Jem menolak dan memilih tetap bersama kaumnya. Setelah kedua orangtuanya mangkat, Jem memutuskan memberi hidup dan matinya pada kaum tanah timur."
"Aku tidak tahu banyak masa kepemimpinan Jem."
"Ia rela turun tangan menggali parit untuk mengalirkan air dari sumber mata air di balik bukit ke penampungan air di lapangan desa. Ia bukan pemimpin yang malas atau hanya duduk mendengar keluh kesah kaumnya. Ia bertindak sepenuh hati tanpa diminta. Kau tahu gudang makanan raksasa di dekat lapangan? Itu idenya. Pengolahan limbah olahan hasil panen, pembagian petak berladang di area sekitar bukit, penggunaan air sungai, pembangunan sekolah, pengumpulan uang untuk dana kesehatan penduduk. Kebijakan-kebijakan baru muncul sejak Jem menjadi pemimpin. Itulah alasan ia begitu dicintai kaumnya."
"Apa ia tidak pernah melakukan kesalahan? Nampaknya ia begitu sempurna."
"Kesalahan pertama dan terakhirnya adalah membiarkan Chang hidup tanpa memahami tanggung jawab dan silsilah keluarganya.
            Percakapanku dengan ayah masih membuatku penasaran. Aku memang belum pernah bertemu dengan sosok istri Jem. Langit mulai gelap dan salju kembali menderas. Aku bersiap menuju peraduan. Ketika hampir tertidur, suara keras gedoran pintu rumah menyadarkanku. Aku mendengar keributan kecil di luar. Bergegas, kuraih sepotong mantel panjang dan syal untuk membungkus tubuh.
            Kukira ada penduduk yang mencariku dan ingin mengadukan masalah. Namun aku justru ditemui seseorang yang tidak kukenal dan pasti bukan penduduk desa tetangga. Ia terlihat kelelahan. Tubuhnya kotor penuh debu. Kakinya gemetar di hadapku. "Rim, kemari!" ayah memberi isyarat. "Dia utusan dari desa Wring," bisik ayah. Setelah memperkenalkan diri, tanpa basa-basi ia melaporkan suatu keadaan menyeramkan padaku. Tentang mayat-mayat di desa Gosheang dan permohonannya agar aku menampung penduduk desanya. "Siapa yang mengganggu Gosheang?" tanyaku. "Pasukan Kerajaan Selatan! Mereka bahkan meracuni seluruh penduduk desa Gloem dan menyebarkan berita bohong tentang wabah penyakit di perbatasan."
            Aku tidak langsung menangkap kata-kata pria di depanku. Otakku tengah mencerna arit dari serangan dan tumpkan mayat yang dibakar. Kepalaku sakit membayangkan hal-hal buruk itu. "Kaum tanah timur akan menampung perempuan dan anak-anak dari desamu. Bagaimana dengan para lelaki?" Lalu ia bercerita panjang lebar bahwa para lelaki sibuk memblokade jalur masuk di perbatasan. Mereka benar-benar menghadapi serangan ini dengan serius. Terpaksa, aku membangunkan penduduk dan menggelar rapat mendadak di tengah lapangan. Orang-orang datang dengan wajah kusam akrena terganggu tidurnya. Beberapa mengenakan selimut demi melindungi tubuh dari hawa dingin yang menyakiti kulit dan tulang.
            "Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat darurat. Ini tidak hanya berkaitan dengan tanah timur tpai juga Kerajaan Timur." Hening. Semua diam memperhatikanku. "Seorang utusan dari desa Wring menceritakan padaku sebuah kabar yang tak mengenakkan. Perbatasan telah diserang pasukan Kerajaan Selatan. Seluruh penduduk desa Gloem mati akibat diracun. Penduduk desa Gosheang dibantai. Kita harus menyelamatkan tanah kita, hak hidup kita. Aku ingin kita menampung dan memberi pertolongan bagi saudara kita dari desa Wring. Sediakan kamar kosong di rumah-rumah kalian sebagai tempat beristirahat bagi perempuan dan anak-anak desa Wring."
            Kesenyapan menjadi batas akhir ucapanku. Kaum tanah timur terlihat kaget dengan informasi yang kusampaikan. Mereka bergerak cepat, menolong perempuan dan anak-anak dari desa Wring. Sementara sang utusan kuberi tempat di rumahku. "Kapan pemuda-pemuda lain datang kemari?"
"Secepatnya. Mereka pasti sudah menuju kemari."
            Ayah menghampiriku. "Nak, kau baru diangkat menjadi pemimpin dan cobaan langsung datang menyapamu. Bagaimana kau menuntaskan kekusutan ini?"
"Sebelumnya,aku akan melapor pada pihak istana dan kota-kota lain di sekitar ini untuk bersiap-siap. Selanjutnya, kita akan berperang membela tanah moyang kita."

Chang
            Aku tidak melihat ada tanda-tanda badai. Harusnya ada satu dua kapal yang bersandar di dermaga. Namun entah mengapa semua jadwal pelayaran benar-benar dihapus. Seluruh kapal menaati jadwal bodoh itu dan membuatku tak punya kesempatan keluar dari pulau ini. Uem pergi ke pasar ikan besar yang diadakan seminggu sekali. Ini merupakan tempat transaksi jual beli ikan terbesar di pulau. Ikan-ikan segar maupun olahan dari transaksi ini biasanya dibawa keluar pulau dan didistribusikan ke tempat-tempat jauh. Seandainya aku bisa menumpang kapal-kapal ikan itu.
            "Chang, kau ingin pergi dari pulau ini kan? Ayo, kau bisa menemui orang ini," ujar Uem. "Apa maksudmu?" tanyaku. "Seorang nahkoda kapal pengiriman ikan membuka lowongan untuk anak buah kapal. Ia kehilangan salah satu anak buah kapalnya akibat sakit. Ia akan menerimamu asal kau pekerja keras dan mau beradaptasi. Tujuan pelayarannya ke Hallendoirf!" Aku membelalakkan mata. Segera kucari nahkoda kapal itu. Menurut Uem, ia lelaki bertubuh gemuk dengan kumit tebal dan rambut botak. Namanya Waldon.
            "Tuan Waldon?" sapaku. Laki-laki itu menoleh. "Kau ingin melamar menjadi anak buah kapalku?"
"Ya! Apa saja yang harus kukerjakan di atas kapal?"
"Kau akan cepat belajar. Tenang saja, anak buahku yang lain siap membimbingmu. Cepat kembali kemari bersama barang-barangmu." Tanpa membuang waktu aku segera kembali ke rumah Uem. Setelah berpamitan yang kurang pantas karena aku tidak dapat membalas kebaikannya menampungku, segera kutemui lagi Waldon. "Kau tidak membawa apapun, nak?" tanya Waldon heran. "Aku tidak punya apapun untuk kubawa. Aku hanya membawa diri."
"Baiklah, kita segera berangkat."
            Kapal ini tak beda jauh dengan kapalku sebelumnya yang hampir menghilangkan nyawaku. Tentunya selain alasan bahwa di bawah tempatku berpijak terdapat kotak ikan super besar. Cuaca terlihat tenang dan sekali lagi aku cukup yakin tidak ada tanda-tanda datangnya badai. Waldon belum memberiku instruksi. Namun aku tahu diri. Ketika jam makan tiba, aku mengambil alih dapur. Di kapal ini tidak ada perempuan atau juru masak resmi. Para anak buah kapal terbiasa makan masakan sederhana. Kehadiranku mendapat sambutan hangat sebab aku menyediakan makanan-makanan enak. "Jadilah juru masak tetap bagi kami," pinta Waldon. "Aku tidak tahu, Waldon. Tujuanku adalah menemui teman lama di Hallendoirf. Aku memang belum memiliki pekerjaan tapi aku juga tidak ingin merencanakan sesuatu untuk jangka panjang. Jika sudah siap, aku akan kembali ke tempatku, Kerajaan Timur."
            Waldon terlihat ragu, "Maksudmu Kerajaan Timur di Benua Mata Angin? Yang tengah diperangi oleh Kerajaan Selatan?" Makanan yang kukunyah mencelat keluar. Terbatuk-batuk aku dibuatnya. Waldon mengangsurkan minuman. Aku menenggaknya cepat-cepat. "Perang? Kau bercanda!"
"Tidak, Chang. Aku baru mendengarnya. Sebelum ke pulau di mana aku bertemu denganmu, aku singgah di salah satu pelabuhan kecil Kerajaan Selatan. Kabar burung menyebar tentang pergerakan prajurit kerajaan dalam jumlah besar memasuki perbatasan Kerajaan Timur. Ada pula yang mengatakan, sebelum kelompok besar itu menembus perbatasan, kelompok lebih kecil telah menyelinap. Kelompok kecil itu berhasil menghancurkan dua buah desa."
            Chang merasa limbung. Ia tak adapat berbuat apa-apa di saat kaumnya membutuhkannya. Tubuhnya bergetar. Ia memandangi gelombang laut.
Rim
            "Sialan kau, Chang! Kau bawa pusaka tanah timur! Kau lari dari tanggung jawabmu! Kau bebankan tugasmu padaku! Apa maumu?" aku berteriak-teriak kesetanan. Pagi ini, aku bertemu pemuda-pemuda desa Wring. Mereka menceritakan padaku penyergapan yang mereka lakukan pada dua prajurit Kerajaan Selatan. Sebagai bukti, mereka meyerahkan panji berlambang Kerajaan Selatan. Berita ini menyebar. Desa-desa di perbatasan diserang kepanikan. Kini aku tak sungkan merutuki Chang. Aku belum siap menghadapi dan memimpin sebuah usaha membela diri ketika diperangi. Sungguh bodoh bila aku berpikir menjadi pemimpin hanya sebatas memimpin upacara atau ritual kaum kami.
            Terompet kulit lembu adalah pusaka kaum tanah timur. Ini sudah dijelaskan berulang kali. Kegunaannya sebagai cara memanggil kaum kami untuk beribadah ketika matahari telah terbenam. Terompet itu juga berfungsi sebagai tanda dimulainya perang, upacara pernikahan, kelahiran maupun kematian. Seorang pemimpin tidak boleh jauh dari terompetnya. Terompet itu akan selalu melindungi dan memastikan kemakmuran bagi sebuah kaum. Chang membawa terompet pusaka kaum kami bersamanya. Seakan ia menyatakan diri sebagai pemimpin kaumnya dan tidak rela ada orang lain yang menggunakannya. Namun mengapa ia tidak tinggal di sini? Ia meninggalkan kami tanpa penjelasan atau sekedar berpamitan. Ia begitu pengecut!
            Segera kami, pemimpin dari desa-desa di sekitar perbatasan menggelar pertemuan penting di Knvan. Dua puluh orang pemuda dari beberapa desa akan mengawal evakuasi bagi perempuan dan anak-anak untuk menjauhi perbatasan. Mereka akan diungsikan ke Gunung Elyadoujelo. Letaknya di utara Gunung Suci. Mereka akan menggunakan jalur rahasia, melewati terowongan bawah tanah. Dua puluh orang pemuda lainnya kami sebar ke kota-kota dan ke ibukota kerajaan untuk mengabarkan perihal serangan dari Kerajaan Selatan. Kini kami tengah menyusun rencana penyergapan.
            "Kita harus menempatkan orang di jalur-jalur utama menembus perbatasan. Meskipun jalur-jalur itu telah dibokir, bisa saja berhasil mereka tembus," saran kepala desa Wring. Aku mengangguk-angguk. "Aku akan mengirim pemuda desaku untuk berjaga-jaga ke sana," ujar kepala desa Bvath. "Kita tidak punya cukup peralatan perang! Pemuda-pemuda desaku tidak cakap menggunakan pedang atau tombak. Apa kita akan mengantar nyawa pada prajurit-prajutir terlatih itu?" tanya kepala desa Feohm. "Aku dapat memahami kegundahan hati kalian. Kaum tanah timur juga tidak mahir berperang. Kami cinta damai. Namun kita tidak boleh menyerah dan membiarkan mereka menghancurkan tanah kita. Kita harus bersatu dan memperjuangkan masa depan penerus kita di sini," aku memperhatikan wajah-wajah ketakutan dihadapanku. "Percayalah akan kemenangan. Ambil apapun yang dapat kita pakai untuk membela diri. Kudengar strategi pemblokiran desa Wring menarik dan dapat menahan laju pergerakan pasukan Kerajaan Selatan."
            Seseorang berdiri. Aku tahu dia bukan penduduk sini. Ia juga bukan penduduk desa lain atau bahkan kepala desanya. Dia orang asing. "Aku Peppe, pedagang dari Kerajaan Utara. Rombongan dagangkulah saksi mata pergerakan pasukan Kerajaan Selatan. Kami juga melihat sendiri penyiksaan menggunakan racun terhadap penduduk desa Gloem. Aku dan desa Wring bekerja sama membangun parit-parit dalam dan mengisinya dengan tombak agar pasukan Kerajaan Selatan tidak dapat lewat. Itu saran terbaikku. Mereka akan terpaksa memutar jalan atau menembakkan anak panah dari jauh." Aku mengagumi kepercayaan diri lelaki ini. Meskipun bukan kampong halamannya yang diserang, ia rela turun tangan memberikan pemikirannya untuk menolong kami.
            Hampir dua ratus orang laki-laki gabungan desa-desa di perbatasan menggali parit. Desa terdekat dengan garis perbatasan adalah desa Wring. Parit itu digali selebar dua kaki dan sedalam lima kaki. Tanpa lelah kedua ratus lelaki itu terus mengayunkan sekop. Sebagian lelaki menyiapkan tombak-tombak yang akan ditancapkan di dasar parit.
            Lima puluh orang lelaki disebar ke beberapa titik untuk memantau kedatangan pasukan Kerajaan Selatan. Sebagain kecil sisanya memblokir jalan-jalan dengan menumbangkan pohon besar dan melilitkan tanaman rambat berduri. Kami benar-benar bekerja keras. Kapanpun pasukan Kerajaan Selatan bisa datang tanpa menunggu kesiapan kami.

Xzat
            "Kenapa kau tidak membantu kami, penyihir? Kau disuruh raja mengawal pasukanku untuk mepermudah segala urusanku. Harusnya kau bsia melindungi anak buahku. Sekarang, dua orang prajurit telah hilang. Dan kau duduk manis di sini menikmati semangkuk cacing." Aku mual. Kupalingkan wajah ketika si penyirih melahap cacing-cacing itu dengan rakus. "Jangan palingkan wajahku. Nikmatilah cacing-cacing ini bersamaku. Kau tentu lapar," rayunya. "Apa kau akan menolong kami membuka pemblokiran jalan yang dilakukan orang-orang desa?"
"Tentu saja tidak!"
"Lalu untuk apa kau di sini?"
"Aku akan menyiapkan kejutan. Tunggu saja. Aku tidak melakukan pekerjaan remeh temeh seperti mengangkat batu atau pohon tumbang bila itu maksudmu. Aku sedang mengumpulkan kekuatan. Nanti kau akan tahu seberapa hebatnya aku." Ia mengerlingkan mata padaku.
            "Setidaknya kau bisa ramalkan kemenangan kami."
"Aku tidak bisa membunhi orang-orang itu satu persatu. Aku juga tidak mau membantumu agar pedangmu dan anak buahmu lebih tajam dari pedang mereka. Tidak sesederhana itu. Cara kerjaku rapi. Kemenangan kalian adalah hasil usaha terbaik kalian. Jadi jangan minta aku memastikannya. Kalian hanya perlu mendesak mereka ke Gunung Suci. Di sana sebagian besar dari mereka akan menemui ajalnya. Saat dalam perjalanan untuk meyerang, perhatikanlah tanda-tanda alam."
            "Apa rencanamu?"
"Gunung Suci adalah gunung berapi aktif yang sudah lama tertidur sejak lima ratus tahun yang lalu. Aku akan membangunkannya. 
            

2 komentar:

  1. huuuhh seru juga nihhh tulisaann tadi kirain gak bakal sampe akhir ngebacanya ehhh malahh sampe ujung juga, tulisan dan makna,a bagus

    BalasHapus