Sabtu, 14 April 2012

Ibu Vs Nenek


http://www.shutterstock.com/pic-86265376/
            "Tadi siapa yang menelpon, bu?" tanyaku. Ibu tidak menyahut dari dapur. Biarlah, mungkin pendengarannya sudah jauh berkurang. Maklum, ibuku sudah kepala tujuh. Namun aku masih kagum dengan semangatnya. Ia termasuk nenek yang aktif. Setiap pagi, ibu menemani Nabila putriku berjalan kaki mengitari komplek. Memang keluargaku penyuka olahraga. Tak heran, di usianya yang sudah tua, ibu tetap segar bugar akibat kebiasaannya jalan kaki. "Bu?" panggilku. "Itu telpon dari Nabila, dia minta izin menginap di rumah Franca." Aku langsung berkacak pinggang. "Franca? Rumahnya jauh dari sini. Aku belum kenal orangtua Franca. Buat apa Nabila menginap di sana? Memangnya dia tidak punya rumah?" suaraku meninggi.

            Entahlah, siapa sebenarnya ibunya Nabila. Ibuku lebih banyak mengambil keputusan berkaitan dengan Nabila dibanding aku. Semisal, memberi izin bermain atau ikut darma wisata. Tak heran, Nabila sangat terbuka dengan ibu. Aku sering mencuri dengar Nabila tengah mencurahkan hatinya pada ibu. Mulai dari masalah sepele seperti teman atau nilai tugas hingga yang sedikit konyol dan membuatku naik pitam, cinta monyet. Kenapa anak zaman sekarang cepat menjadi dewasa? Sejak kapan Nabila kecilku mengenal laki-laki?
            Tentu saja Nabila menyanyangi ibuku, neneknya. Ibu menetapkan peraturan yang populis. Bila aku tidak di rumah, Nabila bersenang-senang. Ibu mengizinkannya pulang terlambat. Tidak sampai larut malam tapi mampu membuatku terbakar. Ibu menjadi terlihat lebih muda dibanding usianya. Aku juga heran dengan ibu yang berpikiran terbuka dan cenderung santai dalam membesarkan Nabila. Nabila pernah menjulukiku ibu yang kolot sementara ibuku adalah nenek yang gaul. Ketika itu, aku langsung menghukum Nabila dengan menguncinya di loteng.
            "Ibu, jangan memanjakan Nabila seperti itu, nanti jadi kebiasaan!" larangku keras. Ibu menggeleng-gelengkan kepala. "Dira, Dira. Sudahlah! Jangan terlalu keras pada anakmu sendiri! Itulah sebabnya Nabila takut padamu. Coba lihat, Nabila dekat dengan ibu. Apa kamu tak iri melihat keakraban kami sebagai sepasang nenek dan cucu?" Aku semakin bersungut-sungut mendapat argumen tak terduga dari ibu. "Bukan begitu, bu! Aku hanya keberatan kalau ibu terlalu memanjakan Nabila. Bisa manja dia! Apalagi kalau dia tahu ibu membelanya dariku. Aku tidak mengerasi Nabila, aku hanya ingin mendidiknya mandiri dan disiplin. Ibu mengerti kan?" Ibu mengangkat bahu. "Ibu pikir-pikir dulu apakah ibu berniat menyeberang ke pihakmu."
            "Ibu! Ini bukan soal ibu berada di pihak mana! Tapi bagaimana cara ibu membantuku mengasuh Nabila. Kasihani aku, bu. Kasihan Nabila juga. Aku harus bekerja tiap hari sementara Nabila tak mungkin kutinggal sendiri. Jadi aku titipkan pada ibu. Harusnya ibu mendukung caraku membesarkan Nabila. Kalau aku disiplin dan ibu tidak, dia akan bingung harus meniru yang mana. Percayalah, semua kulakukan demi kebaikan putriku! Tidak ada pihak yang memisah aku dan Nabila tapi aku menyarankan ibu memahami tindakanku dan memberi dukungan." Ibu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku. "Dengarkan ibu," pintanya.
            "Ibu tahu ayah membesarkanmu dengan disiplin tinggi. Apalagi kamu anak tunggal, semua tumpuan harapan menjadi bebanmu seorang diri. Kamu tumbuh membanggakan kami, orangtuamu. Kamu berprestasi dan berbakat. Ibu tidak ingat kamu pernah mengecewakan kami. Kamu selalu tahu cara menghibur kami. Tapi masa itu sudah lewat. Ibu ingin kamu tahu, tiap anak berhak mendapat cara dibesarkannya masing-masing. Kamu tidak bisa menyamakan cara ayah mendidikmu pada Nabila. Kamu dan Nabila hidup di zaman berbeda, begitu pula kamu dengan ibu." Aku menelan ludah. Tiba-tiba ibu laksana obor yang memberi penerangan ketika rumah kami mati lampu. Ibu memberikan alasan masuk akal.
            "Izinkan Nabila menginap di rumah temannya dan terlambat pulang besok," ibu berbisik. Aku meraih ponsel. "Sayang, kata nenek kamu mau menginap di rumah Franca ya? Ibu bawakan kamu kue ya sayang. Besok mau ibu jemput jam berapa?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar