Minggu, 27 Mei 2012

Surat Panggilan


            "Ibu, saya mohon kerja sama ibu dalam membimbing Adi. Belajar itu tidak cukup di ruang kelas lho, bu. Di rumah juga harus belajar. Supaya pelajaran itu benar-benar diserap anak ddan tidak cepat lupa. Kalau ibu cuma mengandalkan kami, guru-guru di sekolah, hasilnya kurang memuaskan. Dengan mengulang pelajaran yang sudah diterima Adi di sekolah, Adi akan lebih paham." Perempuan yang di hadapanku tetap berkelit. Melihat kedua tangannya bersidekap saja sudah membuatku kurang nyaman.

            "Saya ini single parent, bu. Saya sibuk. Mana saya punya waktu mengajari Adi di rumah. Kalau saya pulang, Adi sudah tidur. Saya berangkat kerja, Adi belum bangun. Makanya saya serahkan sepenuhnya pendidikan Adi ke tangan pihak sekolah. Saya mohon ibu juga memahami posisi saya dan mau membantu saya. Ibu tidak usah khawatir, kalau Adi perlu les tambahan akan saya bayar di muka biayanya. Asal ibu tidak memanggil ssaya lagi ke sekolah." Kalimat pembelaan meluncur deras dari mulutnya. Perempuan ini benar-benar keras kepala!
            "Bu, tidak ada yang dapat menggantikan peran seorang ibu. Begitu pula kami, guru-guru yang mengajar Adi. Biarpun ibu mampu membayar untuk biaya les tambahan Adi, percuma. Adi tidak membutuhkan waktu lebih lama di sekolah. Adi membutuhkan ibu, perhatian ibu. Coba ibu berusaha meluangkan waktu, sebentar saja." Perempuan ini menolak dengan gelengan keras. Ia bangkit, masih bersidekap. "Saya kira sekolah ini cukup bagus untuk tempat Adi menimba ilmu. Dan saya pikir biaya yang harus saya keluarkan juga pantas membuat Adi mendapatkan fasilitas maksimal. Kalau bu guru masih menuntut saya memperhatikan Adi, apa gunanya ibu dengan teman-teman? Buat apa saya bayar mahal? Saya ibunya, saya paling tahu apa yang dibutuhkan Adi. Saya yakin Adi cuma perlu les tambahan."
            Ibunya Adi meninggalkan ruang guru, membiarkan otakku panas dan jantungku melonjak-lonjak. Adi adalah salah satu muridku yang spesial. Bukan karena ia berkebutuhan khusus atau disable. Dia justru sama saja dengan anak lain. Hanya, Adi anak yang nakal. Ia sulit dikendalikan dan acap kali membuat keributan. Kami, para guru, sepakat bahwa Adi mencari perhatian. Apalagi Adi anak semata wayang dari seorang ibu yang single parent. Sepanjang mengajar Adi, belum pernah aku bersua dengan ibunya. Kudengar ibunya sangat sibuk. Sehari-hari Adi dirawat seorang pengasuh. Kemanapun ia pergi, ada sopir pribadi yang siap menemani.
            Sekolah kami memang tidak bisa dianggap murah karena termasuk sekolah swasta unggulan di kota. Setiap tahunnya, kami terpaksa menolak banyak calon murid yang ingin belajar di sini. Namun Adi adalah salah satu anak yang beruntung karena ia termasuk golongan pertama pendaftar.
            Setiap mendengar Adi membuat ulah, aku merasa tidak nyaman. Bukan sekedar aku wali kelasnya. Aku peduli padanya. Bila sepulang sekolah anak-anak lain dijemput orangtuanya, Adi dijemput oleh sopirnya. Sementara sang pengasuh selalu mengawasi Adi meskipun ada saja kejadian yang membuat ia lengah.
            "Seorang anak harus diasuh dan menjadi tanggung jawab ibunya. Bukan tanggung jawab pengasug!" seruku. Salah satu rekanku, Merry, menepuk bahuku dengan lembut. "Kamu benar. Niatmu baik. Tapi jangan salahkan dia. Kamu dengar sendiri betapa dia sangat sibuk mencari uang. Dia cuma single parent dan dia harus menghidupi Adi. Menurutku, dia hanya ingin yang terbaik untuk Adi. Percayalah." Aku menggerutu lagi, "Bukan berarti ia menjadi single parent lantas ia menumpahkan tanggung jawabnya mendidik Adi pada kita! Lagi pula, siapa suruh cerai? Kalau tidak mau berat menanggung anak, jangan cerai dong." Merry mengelus dada. "Sabar, sabar."
            Adi termasuk muridku yang sering sakit. Dalam sebulan bisa dua sampai tiga kali ia tidak masuk. Selain itu tubuhnya tergolong kurus dan ia susah makan. Bila ada waktu luang, aku berusaha membuatkan camilan sehat bagi anak didikku. Namun Adi selalu menolak camilan pemberianku. Baru kutahu, ia tidak suka makanan manis. Ternyata Adi punya banyak daftar makanan pantangan yang membuatnya tidak leluasa menikmati masakan. Selain makanan manis, ia juga tak bisa menyentuh makanan asam dan pedas.
***
            "Surat panggilan?!" aku mengeryit. "Apa maksudnya?" Pengasuh Adi hanya menunduk takut. "Kamu bisa jaga Adi tidak sih mbak? Saya kan cuma minta tolong, mbak jaga Adi setiap hari. Kenapa sekarang saya malah dapat surat panggilan dari dewan guru?" Kumatikan rokok dan kusambar ponsel. Niatku, menelpon wali kelas Adi dan menyelesaikan masalah melalui telpon. Sayangnya, berulang kali aku menelpon dan tidak mendapat respon.
            Ketika aku muncul di ruang guru sekolah Adi, beberapa pasang mata menatapku dengan janggal. Aku tidak peduli. Mungkin mereka tidak terbiasa melihat perempuan berpakaian modis datang sebagai orangtua murid. Aku memakai rok lace hitam berpotongan asimetris di atas lutut dengan blus kerah V. Rambutku yang dipotong cepak kuberi foam lalu kubentuk acak agar terlihat lebih manis.
            Di hadapanku berdiri seorang perempuan yang menginjak pertengahan dua puluhan tahun. Wajahnya ayu, dengan kerudung modis ala gadis kebanyakan. Penampilannya tentu berbanding terbalik denganku. "Ada masalah apa bu guru? Apa pengasuh saya kurang mengawasi Adi? Saya sudah sering dengar Adi itu nakal dan suka menggangu teman. Tapi saya kira wajar Adi mengusili temannya. Dia kan cuma anak-anak." Bu guru tersenyum. "Kalau soal uang bulanan, apa pengasuh saya belum menyerahkan uang?" Bu guru membuka mulut. "Ini bukan soal Adi nakal atau tidak, bukan pula soal uang bulanan. Tapi tentang Adi dan ibu."
            Deg! Aku? Aku menelan ludah. Apa kaitannya urusan sekolah Adi denganku? "Begini bu, Adi tergolong cepat dalam menangkap pelajaran di kelas. Tapi dia cepat lupa. Padahal kalau pelajaran itu diulang-ulang, tentu lebih mudah ia serap. Apalagi sebenatr lagi kenaikan kelas. Adi belum hafal perkalian lho, bu. Jadi saya mohon ibu memperhatikan Adi ketika sedang belajar di rumah."
            Memperhatikan katanya? Apa kurangnya perhatianku pada Adi? Dia kudaftarkan ke sekolah bermutu, kubekali sopir dan pengasuh. Semua permintaan Adi sebisa mungkin kukabulkan. Adi juga tidak sungkan bermanja padaku. Tapi kenapa aku dianggap kurang perhatian? "Lho, ibu bagaimana sih, ibu kan gurunya Adi, kenapa saya yang harus mengajari Adi perkalian?" tanyaku sengit. Aku memberondongnya dengan segenap argumen dan emosi yang kupunya. Semua terasa memuakkan. Harusnya mereka tahu betapa beratnya menjadi single parent. Apalagi Adi yang daya tahan tubuhnya rendah dan memiliki banyak pantangan membautku sangat berhati-hati dalam menyediakan menu.
            "Bu, tidak ada yang dapat menggantikan peran seorang ibu. Begitu pula kami, guru-guru yang mengajar Adi. Biarpun ibu mampu membayar untuk biaya les tambahan Adi, percuma. Adi tidak membutuhkan waktu lebih lama di sekolah. Adi membutuhkan ibu, perhatian ibu. Coba ibu berusaha meluangkan waktu, sebentar saja." Kekesalanku memuncak. Biar besok Adi kupindahkan sekolahnya ke tempat lain. Tempat yang guru-gurunya tidak berisik dan menggangguku dengan surat panggilan orangtua. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar