Jumat, 22 Juni 2012

Perempuan Bernama Annisa



            Annisa cuma perempuan biasa. Perempuan yang diajari hidup untuk mematuhi. Bahwa hidup sudah ditakdirkan dan selayaknya takdir itu dijalani sebaik-baiknya. Takdir sebagai perempuan yang harus lembut dan anggun. Perempuan itu secanggih apapun sosoknya tetaplah menjadi ibu maupun istri. Dapur adalah tempat kembali. Perempuan diciptakan untuk peka dan perasa. Perempuan yang dipimpin kaum lelaki. Begitulah kira-kira kumpulan opini yang disematkan dalam pikiran Annisa sejak belia. Atau, cuma itulah yang ia pahami benar tentang identitas keperempuanannya.

            "Perempuan itu tidak pantas membantah. Sebagai perempuan, kamu harus mendengarkan dan mematuhi apa kata ibumu. Dia lebih tua dibanding kamu, lebih berpengalaman. Ibumu sudah hafal lika-liku jalannya hidup. Kenyang makan asam garam kehidupan. Jadi jangan khawatir sama petuah-petuah dari ibumu. Pasti yang dia katakan pada kamu adalah hal benar. Makanya belajar nurut. Kalau sudah terbiasa nurut, kamu akan lebih mudah memahami nasehat ibu," jelas ayah panjang lebar di suatu sore yang panas dan menyemprot sinarnya. Annisa mengangguk tanda paham. Dipikirnya, benar juga kata ayah. Buat apa mengeluhkan ibunya yang terus berkomentar pada pekerjaannya. Niat ibu baik, gumam Annisa.
            Sebenarnya, tidak mudah bagi Annisa merelakan dirinya mengikuti apa kata orang. Annisa kecil tumbuh menjadi perempuan keras kepala yang tidak suka diperintah.
Pupuk kemandirian memacunya sejak kecil agar siap mengambil keputusan dan membenahi diri tiap waktu. Annisa bukan ditakdirkan menjadi perempuan cengeng. Kesusahan hidup menempanya menjadi tangguh.
            Ketika ayah dan ibunya bercerai, Annisa terpaksa tinggal bersama eyang putri. Kekecewaan ditinggal ayah ibu yang sibuk berebut harta gono-gini dan saling menyalahkan atas nama kegagalan perkawinan membuatnya frustasi. Annisa terlalu muda-belia untuk memahami seluk beluk pertengkaran orang dewasa. Bagaimana ia mencerna masing-masing dari ayah ibunya saling main mata? Ternyata ayah dan ibu sudah punya pasangan masing-masing. Enam bulan berikutnya, perebutan kuasa atas Annisa dimulai. Ketika ayah dan ibunya menikahi pasangan mereka, Annisa dituntut tinggal bersama salah seorang di antara kedua orang tuanya. Bagaimana cara Annisa memilih tanpa menyakiti hati salah satu? Bagaimana cara Annisa memilih jika cintanya bukan cuma satu? Hatinya dipaksa belah dua.
            Annisa berkeras, "aku tinggal bersama eyang." Ibu memohon-mohon, "kamu masih di bawah umur. Hak asuhmu pada ibu." Peduli apa Annisa tentang hak asuh? Dia hanya peduli kedua orang tuanya tetap membayarkan uang sekolahnya. Annisa lebih peduli pada kesehatan eyang putri yang menurun akibat usia tua renta. "Ibu dan ayah bisa berbagi waktu menjagamu. Kamu akan digilir. Setiap tiga hari kamu berganti pengasuh. Pertama ayah, selanjutnya ibu. Tiga hari di rumah ayah, tiga hari di rumah ibu. Mau kan?" rajuk ayah. Aku seperti barang, pikir Annisa sedih. Dia bukan pajangan. Annisa anak semata wayang.
            Tapi bukan orang tua namanya jika membiarkan Annisa memutuskan. Ujung-ujungnya, pengasuhan terhadap Annisa digilir. Padahal Annisa tidak enak hati. Wajah ibu tirinya merengut tajam setiap ayah mengantar Annisa pulang ke rumah ibu. Suami ibu bersikap angkuh setiap melihat Annisa datang. Betapa repot Annisa dibuatnya. Mana nyaman dengan keadaan begini?
            "Kamu perempuan. Kamu butuh ibu. Ibu akan mempersiapkanmu menjadi calon ibu sekaligus istri yang bisa dibanggakan suami," sabda ibu suatu ketika. Annisa mengernyit. Seberapa menakutkannya sebuah pernikahan? Lebih menakutkan mana dibanding menghadapi perceraian? Sementara ayah ibunya nampak santai di depan mata. Membuat Annisa curiga, benarkah setegar itu?
            Perempuan tidak cuma butuh ibu. Perempuan butuh lelaki. Meski sekedar menjadi kawan reproduksi. Tapi ajaran ibu yang seperti apa yang akan membuat Annisa mampu? Menjadi ibu sekaligus istri. Dalam pandangan Annisa, ibu menggarisbawahi dan menebalkan besar-besar satu kata kunci, nurut. Menuruti kata ibu. Nurut sama ibu. Pokoknya yang ibu bilang pasti benar. Soalnya kata-kata ibu punya tujuan baik. Ingat, ibu kenyang makan asam garam, sehingga ibu punya tujuan. Mulai dari mengajari Annisa kapan waktu tepat tersenyum atau menundukkan kepala terutama menghadpai lawan jenis. Dan ibu sangat disiplin tentang ini.
            "Annisa, jangan ikut bicara," adalah salah satu dari sekian arti lirikan ekor mata ibu bila diterjemahkan dalam kata-kata. Annisa hafal betul arti tiap lirikan ibu. Ibu kurang suka Annisa yang cerewet dan tidak henti berkicau. Ibu lebih suka Annisa yang diam dan tenang. Padahal itu bukan Annisa. Annisa adalah perempuan, sosok yang penuh semangat dan ringan dalam berceloteh. Annisa tidak cocok duduk diam dan menjadi pendengar pasif dalam suatu pembicaraan. Annisa ingin terlibat. Namun apa daya, mata ibu melarangnya.
            "Annisa, perempuan yang sempurna adalah perempuan yang memakai rok." Mungkin ibu bercanda. Perempuan seperti Annisa, yang lincahnya tidak ketulungan, dipinta berjalan seperti putri keraton dalam balutan rok-rok panjang. Annisa yang suka berlari dan meloncat harus berjalan pelan-pelan. Aduh, itu bukan Annisa dan tidak pernah menjadi Annisa! Namun ibu berkeras. "Ingat Annisa, perempuan itu harus.." ibu belum selesai berkata ketika Annisa menyahut dari balik pintu sembari berteriak, "nuruuuut!" yang panjang. Sejak itu, Annisa punya gaya jalan baru. Mengangkat rok tinggi-tinggi agar tidak menghalangi. Gerakannya tetap lincah meski dihalangi.
            "Annisa, perempuan harus pandai merawat diri. Rambut boleh aroma bawang, baju boleh aroma ikan, tapi dandan tetap yang utama." Kadang Annisa tak habis pikir. Mengapa sempat memikirkan dandan kalau pekerjaan di dapur saja banyak. Annisa yang tidak suka dibikin repot lebih senang menggelung rambutnya yang panjang. Kulit wajahnya bebas dari polesan. Annisa tidak suka penampilan macam-macam. Baginya, penampilan makanan yang disajikan di piring olehnya harus membuat orang yang menikmati merasa puas dengan tampilan. Makanan tak sekedar enak di mulut atau kenyang di perut. Makanan juga butuh estetika.
            Annisa membuat cita-cita. Kapan lagi bisa bebas dari aturan-aturan ibu? Kesempatan Annisa muncul juga. Kecerdasan menjadi berkah dalam hari-hari kita, begitu pun ia. "Kalau aku menikah nanti, lepaslah tanggung jawab ibu. Semakin cepat aku menikah, semakin mudah aku meraih rencana-rencana." Menikah muda adalah pilihan Annisa. Ia takut kalau tidak segera menikah, ibu semakin menekannya. Ibu kurang mendukung pekerjaan Annisa. Malah, ibu ingin Annisa di rumah saja. Menunggu lamaran orang dengan berpangku tangan. Tanpa sumber penghasilan apalagi ilmu yang diamalkan. Rencana ibu sungguh menyiksa kepala, memaksa Annisa merasa pusing. Apa guna pendidikan kalau hasilnya tidak dinikmati?
            Annisa ngotot mencari calon suami. Ia tidak keberatan didatangi. Pintunya dibuka lebar dan menampakkan rumahnya yang berantakan. Kini Annisa memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin berdekatan. Dasar perempuan manis, tentu mudah bagi Annisa memikat lelaki. Ia melupakan ajaran ibu yang memintanya menjaga pandangan apalagi kata-kata yang dilontarkan. Annisa tidak melaksanakannya.
            "Pilih suami tidak boleh asal tunjuk. Lihat dulu bibit, bebet bobotnya. Siapa dia, dari mana asalnya. Asal mapan, ibu setuju." Namun Annisa terlanjur yakin. Tak usah repot-repot memeriksa identitas calon suami. Baginya, menikah menjadi tujuan sekaligus impian. Ketika tombol ditekan, lenyap masa kekanakan. Selamat datang mesin yang ditunggu mengerjakan kedewasaan.
            Annisa tidak menduga, ini melebihi mulusnya rencana. Dukungan mereka―orang di luar sana―terhadap pemikirannya menumbuhkan harapan. Kepada siapa ia minta dilamar? Annisa berjanji tidak akan jual mahal. "Menikah itu ibadah," ujar Annisa pada teman-temannya. Hingga Annisa bertemu seorang pria yang siap membina rumah tangga dan menebarkan senyum dunia. Rasanya jatuh cinta bagi Annisa sama halnya dengan dibawakan sebongkah dunia. Ibunya terus mengawasi dan berkomentar dengan slogan pamungkasnya "istri nurut suami." Annisa cuma minta doa, supaya langgeng dan sejahtera. Hidup hanya sekali, kenapa harus disia-sia? Jadilah Annisa menjikah muda dengan tanggung jawab melebihi usia.
            Dari dulu, Annisa menyimpan cita. Suatu saat, ia ingin keluar dari zona nyamannya. Ia ingin memulai petualangan baru, menjadi aktivis sekaligus penulis. Mumpung masih muda dan banyak hal yang mau diwujudkan, Annisa mulai menyusun daftar kegiatan. "Usia muda adalah usia produktif," ujarnya sembari bersenandung. Annisa tidak sabar melepas masa lajangnya. Kemudian, ia yakin, suaminya akan memberi kebebasan yang selama ini ia impikan. Suaminya adalah pejuang yang membebaskannya dari peraturan. Memang terdengar konyol, kau dibebaskan dari aturan ibumu sendiri. Tapi begitulah Annisa.
            "Jadilah ibu rumah tangga. Dedikasikan waktumu untuk keluarga. Menjadi istri adalah pekerjaan mulia," suaminya berpidato pada malam mereka telah terikat. Ingin Annisa mengurungkan niat. Ketika ia berpikir, ia baru saja mendengar sumber peraturan yang baru….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar