Senin, 27 Agustus 2012

Masuk TV

techpp.com


            "Saya masuk TV!" kata Pak Budi dengan girang. Pak Budi adalah salah satu tetangga saya di kampung halaman. Waktu perayaan lebaran besar-besaran tempo hari, salah satu stasiun televisi meliput langusng di kampung kami. Dan Pak Budi kebagian jatah masuk tv. Ia diwawancara atas perannya sebagai ketua panitia pelaksanaan perayaan lebaran.
            Lebaran di kampung kami dirayakan dengan festival. Bukan cuma ketupat atau opor yang disediakan. Pokoknya sudah menjadi kebiasaan turun temurun yang tak pernah terlewat satu tahun pun. Kebetulan beberapa generasi keluarga Pak Budi selalu menjadi panitia. Dari buyutnya, kakeknya, bapaknya, sampai Pak Budi sendiri.
            Pak Budi itu senang masuk tv.

            "Wajah saya kan ganteng!" katanya berapi-api sembari berkacak pinggang di saming televisi. Saya cuma mesem. Pak Budi memang punya kebanggan tersendiri terhadap brewoknya yang mirip Osama Bin Laden. "Nanti saya harus masuk TV lagi. Jadi artis." Kemudian makin banyak orang yang mesem. Tapi Pak Budi tak peduli. Kebanggaannya benar-benar membuncah.
            Sejak itu, ada semacam kompetisi yang tumbuh di antara beberapa orang, antara Pak Budi dan beberapa tetangga. Mereka berlomba disorot kamera televisi. Awalnya saya kira bercanda. Toh, kampung kami bukan di kota besar, buat apa sering-sering diliput?
            Pak Tohari menunjuk televisi di suatu pagi dengan berbinar. Tangannya melambai dan wajahnya tersenyum lebar, menunjukkan beberapa giginya yang rontok karena usia. Itu dia, muncul di televisi, waktu seorang reporter menyiarkan arus balik yang padat merayap. Katanya, ia tengah suntuk menunggu mobilnya berjalan karena kemacetan parah. Tiba-tiba dilihatnya seorang reporter menyiarkan berita kemacetan tersebut. "Saya harus ambil bagian dong. Biar orang Indonesia lihat saya."
            Hidung Pak Budi terlihat kembang kempis. Ia iri. Tak salah lagi. Lain cerita dengan Murni, anak Bu Mugi. Gadis yang kuliah di jurusan Komunikasi ini juga masuk televisi. Tapi bukan seperti kisah Pak Budi atau Pak Tohari, Murni masuk televisi karena tugas kuliah. Katanya sih, kunjungan media. "Kalau saya tidak kuliah, saya bisa masuk juga non?" Giliran si Benu yang tukang angon sapi itu kepingin.
            Hingga setelah beberapa minggu, keinginan diliput menurun. Orang-orang sudah tidak lagi membicarakan beberapa warganya yang masuk televisi. Namun Pak Budi masih tetap menunggu. "Saya bakal masuk TV lagi." Orang-orang mencemooh. "Tidak penting," kata Bu Mugi. "Tidak ganteng," kata Bu Sella. "Tidak perlu ditonton," kata Bu Dar.
            Suatu hari, saya tengah menonton televisi. Ada wajah Pak Budi tengah menangis meraung-raung. Bukan sedang akting dalam sinetron. Bukan pula main film. Pak Budi menjadi korban penipuan. Ia tengah ke kota dan uangnya habis diambil orang ahli gendam.
            Akhirnya Pak Budi masuk televisi lagi.

2 komentar: