Minggu, 30 September 2012

Ketika Ponsel Menciptakan Neraka



http://www.kemudian.com/node/204155
Judul               :           Cell
Penulis             :           Stephen King
Alih Bahasa     :           Esti Ayu Budihabsari
Tebal               :           568 halaman
Cetakan ke      :           Pertama, Juli 2008
Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama

            Bahkan zombie suka musik. Mereka meletakkan bombox di tepi lapangan, tidur di bawah sinar bulan, dan mulai mendengungkan nada lirih dari mulutnya. Mereka dalam kondisi trance. Bisa anda bayangkan, lautan zombie yang tidur di lapangan sekolah? Inilah kira-kira yang akan anda temukan dalam salah satu novel karangan Stephen King, The King of Horror yang telah menjual karyanya jutaan kopi dalam 33 bahasa di seluruh dunia.

            Jangan dulu membayangkan betapa lucunya zombie yang membawa CD. Anehnya, saya justru merasakan aura keputusasaan yang dalam ketika menikmati novel setebal 568 halaman ini. Tidak hanya karena tokoh-tokoh ciptaan Stephen King yang terasa nyata juga karena permainan emosi yang cukup mulus dan alami.
            Alkisah Clayton Riddell, seniman yang baru mendapat rezeki, akan pulang ke rumahnya di Kent Pond dengan membawa hadiah untuk anak istrinya. Tak disangka, di Boston ia mengalami peristiwa demi peristiwa yang mengancam nyawa dan di luar nalar manusia. Di depan matanya ia menyaksikan orang-orang menjadi buas. Seorang pria menggigit telinga anjingnya dan seorang gadis mengoyak leher perempuan di depan mobil es krim. Semua akibat ponsel.
            Satu hal yang sangat saya puji dari Stephen King adalah caranya menciptakan ketegangan. Ia tidak membuat tokoh utama mendapatkan banyak kemudahan. Sebaliknya, ia menjadikan Clayton Riddell bagai tak punya harapan dan kesempatan. Hari demi hari yang dilalui Clayton Riddell sulit ditebak dan penuh ketidapastian. Meski pun ia berhasil bertemu manusia-manusia normal yang menjadi teman seperjalanannya dalam menyelamatkan diri, selalu saja ada kenyataan menakutkan baru yang tak kalah mencekam dari sebelumnya.
            Hal kedua yang menjadi kelihaian Stephen King adalah jalan cerita yang sulit ditebak. Saya terkejut bagaimana Kepala Sekolah yang awalnya merencanakan bunuh diri malah dibunuh oleh zombie. Lalu Alice, gadis muda yang pemberani dan pantang menyerah, mengalami akhir tragis dengan kematian yang berlangsung lambat. Kematian Alice tidak berkaitan dengan kekuatan para zombie atau pertarungannya dengan zombie.
            Tidak ada pahlawan di sini. Kira-kira begitulah mungkin yang ingin dikatakan Stephen King melalui Cell. Jika kebanyakan kisah lain menggambarkan tokoh utama sebagai pahlawan atau tokoh lain yang menjadi pahlawan bagi tokoh utama, maka semua tokoh dalam Cell dipaksa menjadi penolong bagi dirinya sendiri. Benar-benar perjuangan tiada henti. Ketika Clayton Riddell, Tom McCourt, Alice, Jordan, dan Kepala sekolah membumihanguskan selapangan penuh zombie yang trance, mereka malah dipojokkan oleh kaum zombie ponsel maupun kaum manusia normal. Mereka dianggap melakukan kesalahan walaupun mereka hanya berusaha melawan dan mempertahankan diri.
            Namun ada hal-hal yang sulit saya pahami dalam novel ini. Tentu selain merek es krim, toko, akademi, pompa bensin, musik, penyanyi, maupun lelucon yang khas Amerika karena novel ini mengambil setting lokasi yang sebenarnya. Secara keseluruhan, asal anda menikmati ceritanya, anda dapat menghabiskan Cell hinga halama terakhir.
            Umat manusia yang menggantungkan hidupnya atas garis sinyal dan nada dering menuai petaka. Saat kebutuhan berkomunikasi diselesaikan melalui benda seukuran genggaman tangan, nyawa menajdi taruhan. Sisi primitif manusia yang terkubur mendadak bangkit. Manusia tak ubahnya hewan, makan tanpa cuci tangan. Segelintir orang yang masih hidup mencoba menjaga kewarasan mereka sebelum akhirnya para zombie ponsel memaksa mereka ikut berubah menjadi pemangsa sesama. Kisah berakhir hanya karena halaman berakhir. Namun, itu menjadi petualangan baru bagi si tokoh utama, Clayton Riddell ketika ia mendekatkan ponsel ke telinga anak lelakinya. "Hei, Johnny-Gee. Fo-fo-you-you." Siapa yang tahu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar