Rabu, 31 Oktober 2012

Tangkap Maling


            “Gus, sudah ketangkap malingnya?”
            Ramu yang baru saja datang langsung duduk di bangku panjang di sampingku. Seperti biasa, bila banyak hal yang sedang menumpuki pikiran, ia akan mulai menyulut rokok kretek dan mengangkat sebelah kaki ke atas bangku. Dengan pandangan menerawang ke langit-langit, ia nampak berpikir keras.
            “Heran aku! Tiap malam ada ronda keliling kampung, masih saja kecolongan. Hebat betul malingnya! Bukan main, sudah 3 ekor sapi dan 2 motor bebek dia bawa lari. Gus, bagaimana ini? Bisa melarat nanti Pak Haji.”

                        Pak Haji yang dimaksud Ramu adalah pamannya, si pemilik 3 ekor sapi yang dicuri tempo hari. Pak Haji bukan orang yang kaya raya. Hidupnya sederhana. Tapi bukan karena Pak Haji adalah pamannya lantas Ramu peduli akan harta sang paman. Lebih karena pamannya itu acap kali menjadi tumpuan harapannya ketika menghadapi hari-hari paceklik.
            Masalahnya, hampir setiap hari bagi Ramu adalah paceklik.
            Lelaki tamatan sekolah dasar ini pengangguran. Kerjanya hanya merokok dan minum kopi di warung. Berhutang pula. Kadang bila kasihan pada pemilik warung, aku yang membayari hutang-hutang Ramu.
Sambil mengepulkan asap, ia kembali mengoceh. “Padahal kan hansipnya kamu, Gus. Mana ada maling yang berani macam-macam di wilayah kekuasaanmu. Mukamu saja lebih sangar dari genderuwo. Hahahahaha!"
            “Kamu dapat uang dari mana, kok merokok?” tanyaku. Ramu terkekeh. “Dari Pak Haji.” Aku menggeleng-geleng. “Kalau ibumu masih hidup, dia akan sedih melihatmu, Ramu.”
            Ramu menunduk. “Dan kalau ibumu yang masih hidup, dia akan bertanya mau sampai kapan kamu mengasihaniku dengan membayari hutang-hutangku di warung.”
***
            Sinar bulan terlihat pucat, menerobos celah di antara dedaun pohon pete cina. Aku mengendap-endap, berusaha menghindari timbulnya suara. Samar kudengar bunyi batuk seorang yang renta. Kutarik sarung menutup wajahku, membentuk cadar. Dalam hitungan ketiga, aku mulai bergerak menghampiri rumah itu.
            Pemiliknya sedang tidur lelap. Sepasang suami istri tidur tanpa menyadari kehadiran tamu di rumahnya. Dengan leluasa aku berhasil mengambil laptop dan ponsel. Aku baru akan memeriksa kamar sebelah ketika kenop pintunya bergerak. Tanpa berpikir panjang, aku berlari melewati pintu belakang yang tadi kugunakan untuk jalan masuk.
            “Maling! Maling!”
            Sekilas aku melihat seseorang yang beberapa tahun lebih muda dariku berteriak. Pasti dia anak dari suami istri yang tadi tidur lelap. Keringat dingin mulai mengalir. Belum pernah aku tertangkap.
            Tidak juga dengan malam ini.
            Aku berlari kesetanan, menerobos kebun, dan tetap memeluk erat laptop beserta ponsel hasil curian. Seakan seisi kampung terbangun. Kudengar teriakan-teriakan yang menandakan bahwa mereka mengejarku. Nafasku memburu. Sebagai pelari tercepat di sekolahku dulu, aku tidak meragukan kemampuanku.
            “Malingnya ke sana!”
            Sebuah suara yang terdengar dekat, hanya beberapa meter jaraknya dariku, membuatku seperti ditikam. Lariku memang cepat, tapi dengan penduduk kampung yang ada dimana-mana membuatku tidak leluasa bergerak.
            Beberapa meter lagi aku sampai di rumah Ramu.
            Waktu ibunya Ramu masih hidup, aku sering tidur di rumahnya. Ia banyak mengeluhkan Ramu yang menurutnya tak punya masa depan. Tak ada bekal pendidikan, pengalaman, apalagi keinginan untuk mengubah nasib. Seakan ia percaya hidupnya bisa membaik. Ramu sudah membuat ibunya menjadi bersedih dan membuatku berjanji akan memberinya pelajaran. Walaupun aku cuma hansip di kampung, jelas aku berpenghasilan karena aku bukan pengangguran.
            Kubuka jendela kamarnya yang tak pernah dikunci. Aku melompat masuk. Laptop dan ponsel kusimpan di kolong ranjang. Kemudian aku kembali melompat keluar setelah melepas sarung yang membuatku terlihat seperti ninja.
            “Gus, kamu ronda malam ini?”
            Pak Dudu, yang baru saja berhenti berlari mengejar maling, terengah-engah. Tadi dia yang melihatku sekelebat di kebun dan meneriaku.
            “Pak, tadi sekilas saya lihat malingnya di sekitar sini,” kataku.
            “Wah, larinya cepat sekali.”
            “Pak, maaf, bukannya saya menuduh. Tapi, apa mungkin malingnya sudah kabur? Dimana-mana orang mengejar maling. Bisa jadi dia ketakutan. Mungkin dia sedang sembunyi.”
            “Ah, sembunyi kemana?”
            “Pak, bagaimana kalau kita periksa rumah-rumah di sekitar sini? Bisa saja malingnya sembunyi di rumah warga. Atau bisa jadi, malingnya warga sini.”
            Mataku memandangi rumah Ramu. Ia tidak sedang merokok malam ini. Ia mungkin bermimpi buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar