Jumat, 15 Februari 2013

Rahasia dalam Buku Tanpa Nama

rosesmerah.com

           
Judul Buku : The Book With No Name
Penulis : Anonymous
Alih Bahasa :            M. Baihaqqi, S.T
Cetakan : Keempat, Februari 2012
Tebal : 493 halaman
Penerbit : Kantera
            Carilah Kota Santa Mondega di peta dunia. Maka anda tidak akan menemukannya. Inilah kota satu-satunya di dunia yang dikuasai makhluk bukan manusia. Mereka berbaur di antara kita, minum-minum di bar, dan melakukan pembunuhan. Kematian akibat tembakan adalah pemandangan yang wajar.
            Tapi, benarkah ada kota semacam ini di dunia?

            Ada dan karenanya Detektif Jensen ditugaskan ke sana untuk memecahkan perkara aneh. Seperti benarkah Kota Santa Mondega adalah kampung halaman bagi mayat hidup atau legenda mengenai Mata Rembulan yang dapat mengekekalkan kegelapan.
            Cerita tidak hanya seputar perjuangan Detektif Jensen dalam menyibak misteri di balik daya magis Mata Rembulan, sebuah kalung dengan bandul dari batu biru yang selama ini berada di bawah kekuasaan kelompok biarawan Hubal. Bukan hanya sang detektif yang berkepentingan terhadap rahasia dari Mata Rembulan. Akibat kalung batu biru itu, separuh dari penduduk Kota Santa Mondega meregang nyawa lima tahun yang lalu. Dan akibat daya tarik yang dihasilkan dari desas-desus daya magis si batu biru, Sanchez kehilangan sang kakak dengan istri kakaknya.
            Saya tidak dapat menentukan siapa sebenarnya yang menjadi tokoh utama dalam buku ini karena separuh dari tokoh-tokoh yang sering disebut namanya memiliki andil sama besarnya dalam jalan cerita. Bahkan penulisnya-yang bahkan tanpa nama-memberi kesempatan pada masing-masing tokoh untuk unjuk gigi. Ada Sanchez si pemilik bar yang menjadi saksi hidup kebrutalan yang muncul akibat kehadiran si batu biru ke kota. Lalu Dante dan Kacy; sepasang kekasih yang mencoba mencari keuntungan dari si batu biru, Detektif Archibald Sommers yang menjadi rekan satu tim investigasi Detektif Jensen, Elvis The King yang membantu Sanchez dalam mencari pembunuh kakaknya, Jefe yang berniat menjual si batu biru, El Santino yang memiliki kepentingan khusus terhadap batu biru, Rex si jagoan pencabut nyawa kiriman Tuhan, hingga sepasang biarawan Hubal yaitu Kyle dan Peto yang berupaya mengembalikan Mata Rembulan ke tempat asal.
            Banyaknya tokoh dalam novel ini dan betapa hampir sama besarnya porsi yang diberikan penulis pada tiap-tiap tokoh cukup membuat saya kesulitan, minimal sekedar mengingat nama. Masih ada banyak nama tokoh lain yang tidak saya sebutkan yang hilang timbul keberadaannya sepanjang kisah berjalan. Novel ini bukan sekedar menceritakan si batu biru tapi juga semua orang baik langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan Mata Rembulan. Walau bisa dibilang tokoh protagonis dalam novel ini adalah sepasang biarawan Hubal yang ditugaskan mencari Mata Rembulan, tetap saja mereka bertingkah tak jauh beda dengan tokoh-tokoh lainnya.
            Sepanjang cerita, banyak adegan pembunuhan dikisahkan. Beberapa terkesan sengaja menimbulkan kengerian yang menurut saya masih kurang nendang. Interaksi antartokoh pun hampir seluruhnya tersurat sehingga terasa agak datar. Beberapa hal terasa timpang di sini semisal, begitu banyak hal kriminal yang terjadi sementara gedung kepolisian masih tegak berdiri. Kemana para polisi? Apa yang dilakukan pemerintah kota terhadap kekacauan yang terjadi di wilayahnya? Kenapa para berandal dan bajingan bebas berkeliaran?
            Gambaran mengenai kota yang hidup dengan gelas minuman, entah bir atau bourbon, terasa kurang pas bila disandingkan dengan gambaran perpustakaan yang megah nan lengkap. Di kota macam itu, yang penduduknya lebih mengenal judi dan mabuk-mabukkan dibanding ingatan akan hari depan, sampai hati mendatangi perpustakaan?
            Pada halaman tiga ratus sekian, saya baru sadar ini bukan novel yang menggambarkan kehidupan para kriminal. Melainkan usaha untuk menjauhkan para vampir dari usaha menguasai kota. Tapi entah mengapa penjelasan mengenai adanya vampir, werewolf, hingga boneka orang-orangan sawah yang hidup di tengah malam terasa dipaksakan. Sebab pada halaman-halaman awal novel ini, cerita fokus pada tokoh-tokoh yang digambarkan sangat keji dan berlomba-lomba mengeruk uang dari kemunculan si Mata Rembulan. Namun setelah halaman tiga ratus sekian, tokoh Rex yang muncul belakangan justru nampak berusaha diangkat oleh penulisnya untuk menguasai panggung dan memberi penjelasan masuk akal mengenai vampir dan werewolf.
            Dari segi ide, novel ini cukup menarik. Penulisnya tentu perlu usaha ekstra demi menyatukan satu demi satu karakter dalam bukunya untuk menjadi satu kesatuan kisah yang berjalan mulus. Selain itu, fakta bahwa masing-masing tokoh tidak ada yang paling menguasai informasi juga cara yang cerdas untuk menggambarkan betapa banyaknya misteri dalam misteri di buku ini.
            The Book With No Name jelas sangat cocok dengan anda yang menyukai kisah penuh petualangan dan misteri. Sebaiknya anda tidak mudah terkecoh karena penulis beberapa kali mengakali keadaan dan menghasilkan twist-twist menarik di beberapa bab. Bagi saya untuk skala satu sampai lima, saya akan memberi angka tiga untuk novel ini. Jika anda tertarik, anda bisa membeli buku ini atau meminjamnya melalui Book Travelling Campaign dari Kampung Fiksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar