Selasa, 16 April 2013

Sebentar Lagi Andien Ujian


            
shutterstock.com
Andien membuka mata. Sebelah tangannya menekan dada dalam hening. Dalam kegelapan kamarnya di loteng, ia bisa melihat berkas cahaya matahari yang mengintip dari sela gorden. Sedikit nafasnya tertahan. Setelah menutup mata, menarik nafas panjang, dan menghitung sampai sepuluh ia pun berani sepenuhnya membuka mata. Dengan lambat ia membereskan ranjang dan menuju kamar mandi.
            Tanpa semangat Andien menikmati sarapan yang disiapkan Bi Sumi di meja makan. Meja makan itu selalu kosong. Hanya Andien yang setia mengisi, setiap pagi. Orang tuanya sudah berangkat sejak pagi buta untuk menghindari macet di jalanan ibu kota. Kemudian pulang ketika hari telah gelap dan Andien telah lelap. Di antara tegukan teh manis dan kunyahan nasi goreng di mulutnya, Andien berbisik dalam hati, bagaimana rasanya sarapan pagi bersama ayah bunda.

            Dibiarkannya rambut hitam legamnya diikat seadanya di tengkuk. Tanpa bedak atau parfum, ia berangkat ke sekolah diantar Pak Diman yang setia mengantarjemputnya sejak TK. Mata Andien menerawang keluar, melihat barisan kendaraan di jalan. Sepertinya ia akan terlambat.
            Satu bulan lagi Andien akan mengikuti Ujian Nasional.
            Selama tiga tahun ia sekolah, bunda telah mempersiapkan banyak hal untuknya. Mulai dari mendaftarkan les mata pelajaran, les bahasa asing, les balet, sampai les piano. Menurut bunda, mengisi masa remaja Andien dengan segudang kegiatan akan banyak manfaatnya. Membuat Andien yang pendiam nan pemalu mau tak mau berinteraksi dengan sebayanya. Membuat Andien memiliki banyak pengalaman sekaligus keahlian.
            Bunda lupa akan satu hal.
            Betapa lelahnya menjadi seorang Andien yang baru pulang ke rumah pukul tujuh malam. Sementara teman-temannya bisa bermain sepulang sekolah, ia harus mematuhi jadwal yang telah dibuatkan bunda. Setiap kali teman-temannya mengajak main, Andien menolak dengan senyuman sekaligus alasan.
            “Aku mau berangkat les.”
            “Sekali-sekali aja kamu bolos, bundamu juga ga akan tau. Bundamu sibuk kan? Ayolah Andien, masak ga capek belajar terus?”
            “Ga ah. Aku udah ditunggu Pak Diman. Duluan ya teman-teman.”
            Lama-lama Andien menyadari jarang ada lagi teman-temannya yang menawari bermain. Mungkin mereka bosan dengan penolakan Andien. Ia sadar itu. Namun ia merasa tidak punya pilihan. Baginya, membolos itu pelanggaran kedisplinan. Ia ingat bagaimana bundanya menasehati bahwa ayahnya sudah bekerja keras, mencari uang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup Andien. Kadang Andien bertanya-tanya, toh ia tidak minta? Ia tidak menuntut didaftarkan les kemana-mana. Itu murni bukan keinginannya.
            “Andien, kamu sudah terlambat tiga kali minggu ini,” ujar Bu Indah di ruangannya. Andien menunduk. Tanpa sadar ia menggigit bibir.
            “Kamu dengar apa kata ibu, Andien?”
            “Dengar, bu.”
            “Ini surat buat orang tua kamu. Tapi sebelum itu, ibu mau bicara baik-baik sama kamu. Kamu sakit? Cerita sama ibu.”
            “Begini bu.... saya...”
            Tok tok tok!
            Pintu ruangan Bu Indah diketuk. Tak lama kemudian Bu Indah pamit karena dipanggil kepala sekolah. Andien bernafas lega. Entah jawaban apa yang harus ia berikan pada Bu Indah.
            Surat dari Bu Indah tanpa sadar diremasnya . Buru-buru Andien memasukkan surat itu ke dalam tasnya.
            Malamnya, dengan terbata, Andien meminta bunda datang ke sekolah besok.
            “Buat apa? Kamu kan ga pernah nakal di sekolah?”
            “Bunda ini gimana sih? Dipanggil wali kelas anaknya malah bilang anaknya ga pernah nakal. Anak bunda ini kan anak yang manis. Mungkin Bu Indah cuma pengen silaturahmi sama bunda,” ujar ayah sambil mengusap puncak kepala Andien. Andien tidak menjawab. Ia takut. Bunda benar, ia tidak pernah nakal di sekolah. Tapi ia tidak berani pula mengiyakan kata-kata ayah karena minggu ini ia bermasalah. Tiga kali terlambat!
            Esoknya, bunda bicara empat mata dengan Bu Indah. Ketika meninggalkan sekolah, raut wajah bunda terlihat sedih. Bunda tidak mau bicara. Andien semakin gugup. Ia tidak punya alasan untuk terlambat karena ia selalu diantar jemput. Tapi bayangan Ujian Nasional yang semakin dekat membuatnya membenci bangku sekolah. Ia bosan. Ia tidak punya semangat!
            Hari-hari menjelang Ujian Nasional semakin dekat. Membuat Andien merasa semakin sesak. Beberapa kali ia tidak masuk karena demam. Ia makin meragukan kemampuannya. Andien menghabiskan waktu dengan melahap buku-buku soal yang ia beli secara impulsif. Agar fokus, Andien mengurung diri di kamar. Ia lupa makan, lupa caranya bersenang-senang. Sudah lama ia tdak menonton televisi atau mendengar radio. Ponselnya pun tak tersentuh. Andien bagai membentengi diri.
            Kemudian hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Andien berulang kali memeriksa kotak pensilnya. Menajamkan pensilnya. Melihat lalu menyimpan kembali kartu ujiannya.
            “Jangan takut. Kamu anak bunda. Kamu pasti bisa.”
            Bunda mengecup kening Andien. Hatinya berdesir. Justru melihat tatapan bunda dan ayah membuatnya semakin gelisah. Sikap orang tuanya juga berubah. Mereka sengaja tidak masuk kantor, menemani Andien sarapan, bahkan mengantar Andien ke sekolah. Bi Sumi dan Pak Diman disuruh istirahat.
            Andien duduk paling depan di dekat pintu. Wajahnya terlihat pucat. Setelah pengawas mempersilakan, ia membuka lembaran soal. Keringatnya mulai menitik. Mendadak ia teringat penghapusnya yang tertinggal. Diperhatikannya lermbar jawaban miliknya. Beberapa bulatan yang ia lingkari keluar dari garis. Pandangan Andien mendadak gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar