Senin, 22 Juli 2013

Prompt #21 (2) Hari Terakhir

shutterstock.com
“A-ak-aku... a-a-a.....”

“Apa Lin? Apa?”

“A-ak-ak.....”

Air mata Lin tumpah ruah dalam pelukanku. Ia menutup kedua mulutnya, tak bisa bicara. Mendadak gagapnya yang telah sembuh tetiba kambuh. Lin yang selalu ceria dan terlihat bagai perempuan paling bahagia sedunia itu gemetar hebat. Suara tangisnya makin keras, membuatku makin kalut karena tak bisa berbuat apa-apa. Kucoba menenangkannya tapi ia menggeleng.


“Kamu bisa cerita nanti kalau kamu sudah tenang. Ayo, kita pulang. Sudah malam.”

“Ga bisa, Kris. Aku ga bisa pulang! Aku ga pantas pulang!”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Aku bunuh Angga, Kris. Aku bunuh Angga. Aku ga sengaja. Angga mati. sebentar lagi polisi akan mencariku. Aku masuk penjara. Kamu pasti ga sanggup punya istri seorang pembunuh!”

Baru kusadari muncratan darah di tubuh Lin. Syok. Istriku yang cantik dan baik hati itu baru saja mengatakan hal-hal berupa mimpi buruk. Aku percaya dia tidak sedang bercanda. Kecuali bajunya memang punya pola berwarna merah. Sayangnya istriku tidak suka warna merah.

Bayangan tentang hotel prodeo dan istriku di dalamnya langsung menghentikan detak jantungku dan membuatnya jatuh sampai ke telapak kaki. Lin mengandung anakku. Bagaimana bisa Lin harus melahirkan dengan status sebagai tahanan?

“Pulanglah, sayang. Setir mobil sendiri, ya. Nanti aku menyusul. Sebelum turun dari mobil, pakai jaketku. Ada di jok belakang. Jangan biarkan ada yang melihat noda di bajumu. Sampai rumah langsung mandi. Cuci bajumu sampai bersih lalu buang.”

“Kamu mau kemana?”

“Percaya padaku. Jangan tanya-tanya lagi, ya?”

Kucari-cari tubuh Angga yang sudah tak bernyawa. Lelaki pemabuk itu adalah mantan suami istriku sebelum menikah denganku. Ia tak terima kalau Lin dinikahi pria lain. Ia sering mengganggu istriku. Sebetulnya aku akan melaporkannya ke polisi besok. Tapi aku terlambat dua puluh empat jam. Kesalahanku.

Mungkin tadi Angga memaksa istriku berbuat mesum. Lalu Lin yang selalu kubekali dengan pisau lipat berhasil membela dirinya dengan baik. Lin mungkin kalap dan terlanjur mendendam pada lelaki itu sehingga wajahnya terlihat tak berbentuk lagi. Terlalu banyak tusukan.

Polisi tentu tahu bukan lelaki kekar sepertiku yang menikam Angga. Tapi seseorang yang lebih mungil, kurang bertenaga, dalam keadaan terdesak, dan putus asa. Kalau kepala Angga kuhancurkan sehingga korban sulit dikenali bahkan diketahui bagaimanya caranya mati, maka.....

Kepala Angga yang sudah kupisahkan dari tubuhnya kubawa ke lokasi kerjaku. Sebuah proyek pembangunan real estate. Aku butuh sedikit semen. Sambil menunggu monumen kepala itu kering, tubuhnya kuikat dengan kayu, pipa, dan batu besar. Kubiarkan tubuhnya terbenam dalam waduk. Proses ini sungguh lama.

Hampir dua belas jam.

Kepala Angga sudah kering. Kutinggalkan kepalanya di rel kereta. Kutonton ketika kepalanya pecah di bawah kereta yang lewat. Sesi terakhir dimulai.

“Man, sudah bisa bayar utangmu?”

“Jadi kamu menyuruhku ke sini buat menagih utang?”

“Soalnya kalau kamu butuh keringanan, aku ada pekerjaan yang butuh bantuanmu.”

“Oke. Apa?”


Kutikam sekuat tenaga wajah Darman berulang kali. Persis seperti wajah Angga. Postur mereka sepintas sama. Lantas kubakar tubuhnya. Kutunggu sampai Darman benar-benar hitam. Akan ada yang melihatnya asapnya di kejauhan. Dompet Angga sudah kutinggal dekat Darman, kuambil uang dan kartu kreditnya. Semoga mayat ini segera ditemukan. Aku tersenyum. Ini terakhir kalinya aku menghirup udara bebas. 

12 komentar:

  1. hm...buat apa menghilangkan jejak dengan membunuh satu orang lagi? logikanya, jika mayat sudah disingkirkan, pembunuh akan merasa lebih tenang. Apalagi tidak ada saksi dari kasus pertama.
    seperti tagline rumah gadai itu saja, "mengatasi masalah dengan masalah."
    :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. kata kuncinya ada di paragraf terakhir mas :) iya, pembunuhan angga harus disembunyikan. tp si angga ini kan hilang, masak ga ada penjelasan dia kenapa atau kemana? jadi kris membunuh darman yg posturnya mirip sama angga. jd kalo ditemukan polisi, memang dikira itu mayat angga. dan kalopun dicari pelakunya, yg ditangkap kris. bukan lin :D

      Hapus
    2. sadis.. trus gak ada yg nyariin darman gitu mba? :D

      Hapus
    3. itu salahnya saya mas. harusnya bisa dijelaskan. tp saya maksain cerita ini padahal terbatas jumlah katanya. ini kan FF. hehehe. kalo bisa lbh panjang ya ada penjelasannya..

      Hapus
  2. Mbak... Kok kayanya ini malah mbulet ya? Seandainya dia mau membela Lin, cukup mengganti sidik jari di pisau yang dipakai Lin lalu mengaku ke polisi bahwa dia pembunuh Angga. Udah, gitu aja. Nggak usah menghilangkan jejak lalu malah bunuh orang lain. IMHO

    Gitu sih pendapat saya. Apalagi bawa-bawa Darman dan sampai harus membunuhnya.
    Tadi saya juga sempat mikir apa mayat Angga ini mau dijadiin tumbal atau gimana. Ternyata malah lebih ribet lagi. Trus pas kepalanya kegiles kereta apa nggak menimbulkan masalah baru?

    Oya, ini cerita tersadis pagi ini yang saya baca. Soalnya cerita sadis yang lain udah dibaca kemarin. *eh? :D

    Salam kenal ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak ya atas masukannya heheh jadi malu saya XD

      Hapus
  3. komennya mbak rini panjang euyyy :D. setuju sama mbak rini en mas atar ^^. smgt smgt mbak linda :)

    BalasHapus
  4. Wow horor sekali Mbak Linda, main bunuh-bunuhan :)

    BalasHapus
  5. Hmmm.. Sbenernya gak mbulet plotnya. Gmpang dipahami dan datar aja. Pertanyaannya cuma kronologi penghilangan jejak yg ribet dan boros bgt! Knp musti mo sepusing itu buat nyalahin diri sendiri?

    Bener kata si attar, jd emg kasus pembunuhan si Istri kan tanpa saksi? Tinggal buang si Korban dan case closed! So, gak perlu cari korban laen! Hadeeuhhh, kasus yg unik! Gudjob! :-)

    BalasHapus