Rabu, 18 Juni 2014

Prestasi Ditambah Mimpi sama dengan Karir

Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar prestasi seseorang? Berdecak kagum? Tidak peduli? Termotivasi? Opsi jawaban ketiga adalah yang saya rasakan ketika pertama kali membaca biodata Mbak Maya Arvini di cover belakang bukunya, Career First. Bayangkan saja, ia berhasil meraih gelar cum laude double degree dari Universitas Padjajaran! Ia juga menjadi lulusan terbaik Magister Manajemen Universitas Indonesia. Terbayang dong betapa pencapaiannya bikin ngiler.
 
Dokumentasi pribadi
Awalnya saya mendapat surat elektronik dari Gagas Media untuk mengulas Career First dalam program One Book One Day. Saya tidak tahu sih cara Gagas Media dalam menyaring teman-teman blogger yang terpilih untuk membuat ulasan. Mungkin blognya dikepoin dulu kali ya? J Tapi saya seneeeng banget waktu buku ini sampai di rumah. Ternyata buku ini benar-benar layak baca.


Mbak Maya Arvini menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya dari bangku sekolah hingga meraih posisi tinggi di sebuah perusahaan multinasional bidang Teknologi Informasi. Biasanya tuh, teman-teman saya yang berprestasi di bidang akademik bukanlah tipe anak yang aktif dalam kegiatan organisasi. Sebaliknya, teman-teman saya yang aktif berorganisasi kebanyakan kesulitan dalam menjalani pendidikannya. Tapi Mbak Maya Arvini berhasil mematahkan hal itu. Ia tidak hanya rajin mendulang prestasi di bidang akademik tapi juga nonakademik. Ia aktif mengikuti beragam organisasi bahkan menjadi ketua Koperasi Mahasiswa di kampusnya dan berhasil membukukan penghasilan yang sangat besar.

Meski bukan dari keluarga yang tergolong mampu, Mbak Maya Arvini menjadi teladan bagi kita untuk berani bermimpi. Tentu karena usaha keras dan tidak pantang menyerah pula, selepas S1 ia meraih beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S2. Keinginan kuatnya untuk hidup lebih baik tercapai sudah. Walau berada di jajaran senior manajemen, ia belum merasa puas. Ia masih merangkai mimpi-mimpinya untuk meraih lebih banyak hal.

Dokumentasi pribadi

Kelihatannya kisah hidup Mbak Maya Arvini ini sempurna ya? Sudah pintar, berprestasi, karirnya mulus pula. Eh, jangan salah. Ia juga manusia biasa. Dengan jujur ia menceritakan kegagalannya memasuki bangku kuliah melalui jalur PMDK. Ia juga mengatakan dengan jujur kekurangannya sebagai pribadi yang individual dan perfeksionis. Karena menurutnya, kekurangan bisa menjadi kelebihan begitu pula sebaliknya. Mungkin kita berpikir bahwa bersikap perfeksionis adalah hal baik terutama menyangkut pengerjaan tugas-tugas. Namun ada kalanya sesuatu yang baik bisa menjadi buruk lho.

Dengan cara bertutur yang sederhana dan mudah dicerna, Mbak Maya Arvini mengungkapkan berbagai hal seakan tengah mengobrol dengan temannya. Tidak hanya bagaimana mencapai sesuatu atau mengatasi hambatan-hambatan dalam meraih sebuah pencapaian, Mbak Maya Arvini juga mengajak kita untuk melihat sekeliling. Bukan cuma usaha pribadilah yang membuat seseorang berhasil. Dukungan dari orang-orang di sekitarnya baik keluarga, sahabat, maupun mentor yang menjadikannya mampu melakukan banyak hal.

Ada beberapa hal yang saya suka dalam buku ini. Misalnya di halaman 60, “Loyalitas saya adalah terhadap komitmen untuk belajar dan mencari pengalaman baru, juga untuk meningkatkan performa kerja saya sebaik mungkin. Bisa dibilang, loyalitas saya adalah terhadap profesi dan keinginan untuk berkontribusi.” Kutipan ini merupakan bagian dari pembahasan Mbak Maya Arvini mengenai seseorang yang betah pada posisi stagnan dalam karirnya sebagai comfort zone atau dengan alasan loyalitas. Baginya, ia selalu ingin mengembangkan diri karena itu adalah bagian dari loyalitasnya sebagai seorang profesional.

Lainnya ada di halaman 80, “Menurut saya, proses dan hasil harus seimbang. Jika seseorang hanya berorientasi pada tujuan akhir, kemungkinan besar dia akan tergoda untuk mengambil jalan pintas dan berbuat curang. Sebaliknya, bahaya juga jika orang hanya berfokus pada proses tanpa tahu arah tujuan. Pada akhirnya, dia tidak akan sampai ke mana-mana.” Sekali lagi pendapatnya membuat saya tercerahkan. Dalam hati saya berkata, “Benar juga ya.”

Terakhir di halaman 138 Mbak Maya Arvini menjelaskan bahwa proporsi kehidupan kerja dan di luar pekerjaan ditentukan masing-masing individu berdasarkan apa yang disebut seimbang. A belum tentu menilai sesuatu seimbang seperti B menilainya. Seimbang adalah pandangan subjektif.

Kutipan-kutipan yang mengisi berbagai ruang dalam buku ini ikut semarak beserta grafis yang memanjakan mata. Visualisasi seorang perempuan berambut hampir cepak yang mirip dengan penulisnya beserta warna merah yang mendominasi bagian luar maupun dalam buku sungguh memesona. Lay out-nya memang patut diacungi jempol.


Intinya jika Anda membaca buku ini, Anda akan didorong mewujudkan mimpi!

4 komentar: