Jumat, 08 Agustus 2014

Menantang Maut Ala Into The Storm

imdb.com
Suka kegiatan yang menantang adrenalin? Mungkin ada baiknya Anda berprofesi sebagai pemburu badai yang mendokumentasikannya untuk mendapatkan uang. Atau Anda mengunggahnya di Youtube hanya agar terlihat keren. Begitulah kira-kira penggalan kisah dalam Into The Storm yang baru saja dirilis beberapa waktu yang lalu.


intothestormmovie.com
Jika membicarakan siapa tokoh utama dalam film ini mungkin akan terasa sulit. Sebab begitu banyak pemain dan rata-rata memiliki porsi tampil yang sama banyak. Untuk memudahkan, sebaiknya dibagi menjadi tiga cerita. Pertama, seorang wakil kepala sekolah, Gary, yang memiliki dua orang putra. Ketika bencana tornado terjadi, sang ayah bersama anak bungsunya sedang berada di acara wisuda sekolah. Sementara sang kakak yang kabur dari kewajibannya mendokumentasikan acara wisuda justru terjebak di bangunan bekas pabrik kertas bersama perempuan yang selama ini ia taksir, Kaitlyn.

itsartmag.com
Kedua adalah sekelompok orang yang mencari nafkah dengan cara mendokumentasikan tornado. Mereka sengaja mengejar tornado dan berusaha ada di dalamnya. Tentu itu bukan pekerjaan main-main. Pete si kepala tim dan Allison yang memiliki latar belakang pendidikan sesuai untuk menjadi seorang pemburu badai harus menantang maut ketika badai yang mereka kejar ternyata abnormal. Tidak hanya satu dua badai, ada banyak badai yang menghantam Kota Silverton dalam satu hari dan waktu yang hampir bersamaan. Bahkan salah satu badai bertemu dengan api dan memakan korban jiwa.

Cerita ketiga adalah dua sekawan pembuat video Youtube pencari sensasi melalui aksi-aksi berbahaya. Mereka mengejar badai dan melompati kolam api tanpa pengetahuan apalagi alat keselamatan memadai. Keduanya melakukan berbagai hal konyol dan menertawakan setiap kejadian yang dialami.

Into The Storm bukanlah sebuah omnibus. Seluruh tokoh bertemu tanpa segaja ketika menghadapi badai yang makin mengamuk. Mereka yang awalnya tidak saling mengenal kemudian berinteraksi dan saling membantu maupun berempati. Meski badai terasa menakutkan, mereka tidak patah semangat untuk menyelamatkan diri.

screenrant.com
Dari film ini saya terkesan dengan aksi tanggap darurat di Amerika. Karena saking seringnya terjadi tornado, di sepenjuru kota dipasang sirene yang akan berbunyi kencang untuk memperingatkan penduduk kota bahwa bahaya tornado menghantui. Para pemburu badai profesional pun melengkapi diri dengan berbagai peralatan canggih. Tentu film dokumenter yang dibuat para pemburu badai juga berguna untuk ilmu pengetahuan. Di sini kita bisa melihat seperti apa hari-hari sekelompok pemburu badai yang menggunakan hitung-hitungan matematis untuk "mencari masalah".

blackfilm.com
Teknologi yang digunakan dalam Into The Storm semakin menambah ketengangan. Menarik sekali melihat satu per satu kait badai muncul di langit dan turun menyentuh tanah lalu menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Semakin menarik karena film ini menggunakan pengambilan gambar dengan cara yang unik. Sebagian menggunakan teknik hand-held. Misalnya, tokoh Donny yang mendokumentasikan kesehariannya dan orang-orang di sekitarnya menggunakan kamera video yang ia genggam. Gambar pun menjadi terasa lebih hidup karena penonton merasakan apa yang dilihat oleh Donny melalui kameranya (atau matanya). Begitu pula ketika sebuah kamera video diletakkan di salah satu sudut ruangan bersama tripod. Gambar diam, merekam seluruh kejadian dari satu sudut pandang. Lainnya, gambar diambil dari CCTV. Tak kalah uniknya adalah kamera-kamera yang berada di sekujur tubuh kendaraan lapis baja milik para pemburu badai atau di helm salah satu tokoh. 

Namun saya merasa bahwa backsound dalam film ini kurang dramatis. Beberapa adegan memang cukup memainkan emosi penonton (diketahui dari teriakan di dalam bioskop) tapi musiknya kurang greget. Audio yang tepat bahkan luar biasa mampu menjadi salah satu pemicu agar gambar menjadi lebih dramatis. 

Dari segi cerita, Into The Storm memang layak dinikmati. Sebagai film yang menggambarkan bencana alam yang mengundang kegetiran, Into The Storm berhasil membuat penonton terpaku. Bisa jadi itulah alasan mengapa Into The Storm sempat menjadi trending topic. Jika dibandingkan dengan Gravity, saya lebih menyukai film Sandra Bullock ini. Jauh lebih membuat depresi. Secara keseluruhan Into The Storm mendapat 7 poin dari skala 1 sampai dengan 10.

4 komentar:

  1. informasi yang sangat bermanfaat terimakasih

    BalasHapus
  2. sempet pengen nonton kmrn, begitu baca review di yutub kok hampir sama aja seperti tornado tonado terdahulunya.....yg beda mgkn dari visual efeknya,mau gak mau kecanggihan tekno makin tahun makin berkembang lah ya.
    hmmm....bosen mgkn ya kalo temanya itu itu terus....

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheehhe begitulah. pengambilan gambarnya menarik, itu nilai plus selain teknologi. di luar itu ya biasa

      Hapus