Sabtu, 14 Februari 2015

Sepuluh Jam yang Lalu, Ketika Nomor Tak Dikenal Menghubungiku

dramabeans.com
Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.

Aku yang tak suka diganggu ketika menikmati waktu seorang diri−yang jarang kumiliki−memilih untuk tak mengacuhkan telpon. Sejak lulus kuliah lima tahun lalu dan bekerja di sebuah stasiun televisi, aku tak punya banyak kesempatan untuk sekedar membaringkan tubuh di ranjang atau membaca buku hingga larut malam. Aku lebih banyak di jalan atau di kantor. Pulang menjelang pagi kemudian menghabiskan waktu dengan tidur hingga matahari agak tinggi. Berangkat bekerja lagi, begitu terus sampai hari ini.

Aku terlalu menikmati pekerjaanku.


Begitu kata orang-orang. Mereka jarang melihatku liburan. Atau mungkin tak pernah. Mereka jarang menemukanku sedang tidak memikirkan pekerjaan. Duniaku bergerak cepat. Dua puluh empat jam rasanya tak muat. Kalau hari ini aku harus meliput banjir di Jakarta, besok pagi bisa jadi aku tengah meliput banjir di Semarang. Ponsel selalu kuletakkan dalam jangkauan karena aku tahu ia takkan diam. Semua keluargaku tahu, aku selalu siap berangkat liputan jam berapapun dibutuhkan.

Pilihanku.

“Kamu kan anak perempuan. Masak jadi wartawan? Tiap hari pulang malam. Bepergian tanpa kawan. Apa kata orang? Banyak lho yang tanya sama ibu, kok bisa-bisanya mengizinkan kamu memilih pekerjaan itu. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih cocok untuk dilakoni perempuan. Lagi pula, kamu ini orang Islam. Perempuan seharusnya bepergian dengan mahramnya.”

Kalau ibu mulai menceramahi, aku cuma bisa tutup telinga. Pura-pura tidak dengar apa yang beliau ocehkan. Kubiarkan ibu bicara panjang lebar sampai ia lelah, sampai ia sadar aku tak mau dengar. Kemudian ia mengalah dan memilih diam. Jika ibu telah diam, baru aku yang bicara. Kukatakan, zaman telah berbeda. Perempuan pergi sendirian bukan karena melanggar agama, tapi menunjukkan kemandirian. Perempuan zaman sekarang bisa membela dan menjaga diri. Toh aku punya kemampuan bela diri. Toh aku tahu caranya membawa diri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Tapi ibu lebih rela kalau kamu cari pekerjaan lain.”

“Yang lain aku tidak suka, bu. Aku ini pembosan. Jangan-jangan aku mengundurkan diri tiap tiga bulan. Aku memang sarjana Komunikasi, pekerjaanku bukan cuma di televisi. Bisa saja aku jadi humas di pemda atau jadi pegawai di kampusku dulu. Tapi bagaimana caranya menghadapi jenuh, bu? Duduk di belakang meja sama rasanya dengan dipenjara.”

“Bagaimana kalau kamu menikah nanti? Sudah punya anak? Suami dan anakmu siapa yang urus?”

“Aku, bu. Memangnya ibu pikir kalau jadi wartawan, lantas kutinggalkan kodratku sebagai perempuan? Lantas aku tak bisa memasak atau mencuci pakaian? Masih bisa, bu.”

Ibu makin diam. Lama-lama, ibu bosan. Beliau berhenti menceramahiku.

Kembali ke awal. Biasanya, jika itu hal penting, orang yang menelponku dan tidak berhasil bicara denganku akan menelpon kembali. Namun kali ini tidak terjadi. Nomor itu diam.

Entah apa yang membuatku merasa penasaran. Mungkin saja kan, itu cuma telepon salah sambung? Telepon iseng, mungkin? Beberapa kali aku harus memaki ketika menunda sesuatu hal yang tengah kukerjakan hanya karena telepon iseng. Sekarang, justru aku yang ingin menghubungi sebuah nomor asing di ponselku.

Setiap kali aku sedang diam, menikmati kopiku yang pahit tapi tidak asam, aku memikirkan banyak hal yang terlupakan. Kata-kata ibu. Umurku. Adik-adikku. Mendiang bapak. Banyak sekali. Semua berseliweran tak mau mengantri. Saling mencuri fokusku. Di antara semua pikiran-pikiranku, cuma satu yang kini benar-benar mencuri perhatian. Pernikahan.

“Kapan kamu nikah? Kamu janji sama ibu kalau pekerjaanmu sudah tetap, keuanganmu keluarga kita stabil, adik-adikmu lulus sekolah, kamu akan segera menikah. Sampai sekarang ibu belum pernah kamu kenalkan dengan lelaki manapun. Memangnya kamu tidak ingin punya pacar? Adikmu, Sartika, sudah mulai menggoda ibu agar menerima lamaran si Wahyu. Padahal dia masih sangat muda. Kalau Wahyu sampai melamar, ibu tak bisa menolak. Wahyu lebih tua tujuh tahun, sudah bekerja, sekarang punya cicilan rumah. Cukup bagi ibu, dia jadi menantu. Apa kamu mau diloncat Sartika?”

Mungkin nomor asing ini milik seorang lelaki baik hati. Mungkin dia jodoh yang dikirim Tuhan.

Aku menekan tombol call. Apakah sopan aku menelepon seseorang jam tujuh pagi? Bagaimana jika dia jauh lebih sibuk dibanding aku? Mungkin ia sedang di jalan. Menuju ke kantornya, terjebak kemacetan, maka ia sarapan pagi di dalam kendaraan. Atau malah ia naik angkutan umum, tergencet karena kapasitas kendaraan tak sebanding dengan jumlah penumpang. Kubayangkan pagi-pagi begini, seseorang yang keluar rumah dengan wangi akan segera bau begitu ia menempuh perjalanan.

“Kirana?”

Ingatanku melayang. Lima tahun lalu ketika aku sedang mengantri untuk daftar seminar, salah satu syarat kelulusan selain persidangan. Citra mencolekku, menunjuk papan pengumuman.

“Eh, ada seminar tuh. Mau ikut?”

“Seminar apa?”

“Jurnalistik! Dari televisi nasional. Waaah aku fans berat news anchor-nya. Dia menang penghargaan jurnalistik terpuji tahun lalu, lho!”

“Tidak, ah. Jangan jurnalistik. Kalau periklanan atau humas, aku mau.”

“Kamu ini kenapa sih? Anak komunikasi kok anti jurnalistik.”

“Lho, cita-citaku kan jadi humas. Bukan jadi wartawan.”

“Apa salahnya mempelajari hal lain? Lagi pula, humas itu kan berhubungan juga sama wartawan. Coba kalau kamu kirim press release, ke siapa? Wartawan kan? Kalau kamu butuh liputan, siapa yang kamu cari? Wartawan!”

“Sekarang, aku tanya balik sama kamu. Memang kamu percaya semua berita yang  ada di media? Kamu percaya mereka karena pasang slogan terdepan atau tepercaya? Aku benci sama media itu ada alasannya. Kemarin aku baca di kolom opini kenapa media-media gigih setengah mati memberitakan bencana alam dan membuka rekening kemanusiaan. Kamu tahu kenapa?!”

Citra menggeleng. Raut mukanya sedikit syok karena nada suaraku meninggi dan wajahku menjadi serius.

“Prestis! Popularitas! Citra! Itu asalan mereka gila-gilaan turun ke lapangan, memberitakan sebuah peristiwa hampir dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, dan empat pekan sebulan. Mereka sengaja keluar modal besar untuk turun ke tempat kejadian supaya mendapat berita paling eksklusif, paling aktual, paling mengguncang. Tapi mereka mengeksploitasi kesedihan korban-korban bencana alam! Pertanyaan mereka dangkal! “Apakah Anda sedih?” Kalau aku di tenda pengungsian dan ada seseorang yang bertanya seperti itu, menurutmu apa yang kulakukan? Akan kuhajar dia.”

Mata Citra melotot. Setelah itu dia cuma diam.

Anehnya, aku justru menemaninya datang ke seminar itu. Sebetulnya aku hanya ingin mempertegas kebenaran−atau keyakinan−yang kupegang teguh tentang media. Kebencianku pada media meluap seperti anjing yang alergi pada kutu. Membuatku gatal-gatal dan tak ingin berhenti menggaruk. Tiap menemukan satu saja kesalahan media; entah dari dangkalnya pertanyaan, buruknya pembingkaian, atau berlebihannya pemberitaan aku akan sepuas hati menghina. Bagiku, media tidak bisa dipercaya.

Aku dan Citra duduk di deretan paling depan. Pembicara yang pertama kali muncul bukan news anchor favorit Citra. Tapi seorang lelaki yang belakangan kutahu adalah seorang wartawan yang memiliki acaranya sendiri dan mendalami politik. Kadang aku menontonnya karena bagiku itu bukan sepenuhnya tayangan berita. Justru menurutku tayangan dialog seperti acara yang dibawakannya itu pantas ditonton karena mendorong orang berdiskusi dan membuka pikiran.

“Kenapa kamu ada di sini?”

Ia mengarahkan mikrofon padaku. Mungkin ini bagian dari ice breaking. Sayangnya ia salah memilih orang. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kalau kukatakan bahwa aku datang hanya untuk memperkuat kebencian, terdengar bodoh dan kekanakan rasanya. Aku diam.

“Kamu ingin jadi wartawan?”

“Tidak.” Aku terpancing menjawab.

“Kenapa?”

“Saya tidak yakin apa pekerjaan seorang wartawan.”

“Apa kamu tidak ingin menjadi orang yang paling tahu terhadap sesuatu? Apa kamu tidak tertarik menjadi orang yang paling pertama memberi tahu dunia tentang suatu peristiwa?”

Aku kembali diam.

“Menjadi wartawan itu bukan sekedar bicara di depan kamera, menulis untuk dicetak di halaman koran, atau diperdengarkan suaranya di siaran radio. Menjadi wartawan adalah bagaimana kita menjaga etika, melakukan yang menjadi tanggung jawab kita, dan memberi pencerahan kepada masyarakat. Jika ada sesuatu yang salah, kabarkan! Supaya semua orang tahu. Jika ada yang merugikan orang banyak, sebar luaskan! Agar orang-orang dapat belajar dan tidak merugi lagi di kemudian hari. Bukankah menjadi wartawan itu terdengar mulia? Apa kamu masih tidak suka?”

“Tapi media tidak selalu beretika.”

“Itu dia! Justru kita perlu meluruskan hal-hal yang kita tahu adalah salah. Karena kamu tahu media tidak selalu beretika, kenapa kamu tidak masuk ke dalamnya? Supaya kamu bisa menunjukkan bagaimana caranya menjadi seorang wartawan yang beretika. Nah, bisa tolong sebutkan contoh kasus ketika media melanggar etika?”

Detik itu juga, pikiranku berubah. Lelaki itu benar. Kalau aku tahu ada sesuatu yang salah, harusnya aku berusaha memperbaikinya. Jangan biarkan yang bengkok tetap bengkok.

Sejak itu, aku memupuk mimpi. Menjadi seorang wartawan. Tiap lelaki itu muncul di televisi, aku menontonnya. Aku menelan tiap tayangan berita. Aku memamah berlembar-lembar yang diwartakan koran. Aku memutar radio sehingga tidak ketinggalan informasi terbaru ketika aku sedang tidak memegang koran atau menonton televisi. Aku berlatih menjadi seorang reporter di depan cermin. Aku melakukan semuanya. Semua yang kubisa. Karena aku telah menemukan apa yang kucinta.

Dan kukira, aku berutang budi pada lelaki itu. Lelaki yang mengenalkanku pada sebuah dunia baru. Jurnalistik. Setiap kali aku membuat pencapaian atau melakukan suatu hal baik−entah liputan eksklusif atau pujian dari tim karena berhasil mengambil framing yang berbeda pada sebuah berita−di dalam hatiku terucap doa untuknya. Berkat dia, aku menjadi seperti ini.

“Kirana? Kamu masih di sana?”

“Iya, pak.”

Entah dari mana ia mendapatkan nomorku. Kartu namanya selalu kusimpan di dalam dompet. Aku tak pernah menghubunginya selama lima tahun ini. Tapi aku selalu mendoakannya.

“Bagaimana? Senang jadi wartawan?”

***
Rujukan:

Jumlah kata: 1.462
Cerpen ini ditulis untuk Giveaway-Berawal dari Kata Pertama



6 komentar:

  1. Cinta dengan pekerjaan. Bagus. :))) Btw, itu jangan dikacangin si Bapak yang nelpon. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan suka terpaku gitu mbak kalo kaget ditelpon orang hebat heheheh

      Hapus
  2. belum bisa nulis cerita berbau-bau idealis, jadinya 'iri' dengan cerpen bagus ini.

    mengomentari soal etika. sekarang mah yang sering melanggar etika tidak hanya medianya, tetapi juga wartawannya.

    di kalimantan sini, wartawan termasuk yang pertama yang minta 'jatah' ke tambang-tambang nakal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanti juga bisa asal dicoba :)

      media, wartawan, maupun bidang lain semua rentan sama pelanggaran etika. tinggal bagaimana individu dan organisasnya bersikap, mau memperbaiki diri atau tidak, lagian persoalan etika ini kadang abu2 sih ya....

      nah pihak tambang baiknya juga tegas dan ga khawatir kalo hal semacam itu bakal mempengaruhi pemberitaan. dan wartawannya juga malu sama kartu persnya. kalau memang ada pelanggaran etika di sana.

      Hapus
  3. Diksinya keren dan idealismenya kental banget. Girl power nih ceritanya :))

    BalasHapus