Rabu, 18 Februari 2015

FFRabu Bibir Merahnya

Woman with red lips
shutterstock.com
Perutku mengejang. Bulu kudukku tegang.


Dia tersenyum sembari melepas sepatu. Lalu baju. Merayap ke ranjang yang berderit perlahan.

“Kenapa tidak di apartemenku? Lebih nyaman. Ranjangnya tidak goyang.”

“...”

“Apa kau malu datang ke tempatku? Lupakan saja mulut-mulut nyinyir mereka. Cinta tidak mengenal kasta.”

“Tapi kita terlalu berbeda. Bagimu tak apa?”

Dia mulai bekerja.

“Besok katakan pada orang tuaku, kau akan menikahiku. Kalau mereka tidak merestui, kita kawin lari.”

Wajahku panas melihat bibir merahnya. Sejak pertama melihatnya, pandanganku tak pernah beralih dari bibir itu. Sulit sekali menahan diri sebagai seorang lelaki.

Kukulum bibirnya sampai lepas. Darah yang mengalir membuatku tersenyum puas.

***
Yuk ikutan bikin flash fiction 100 kata tiap hari rabu. Cek di @MondayFF ya!


6 komentar: