Rabu, 03 April 2019

Curhatan Freelancer Part 1: Saya Baru Senang Kalau Dapat Uang


Sebetulnya punggung saya lelah. Saya ingin sekali tidur. Tapi di sisi lain, mata ini sulit tertutup. Pikiran saya menerawang ke masa kecil. Ketika menjadi anak yang paling cepat lancar membaca dan menulis saja sudah membuat saya senang. Sekarang? Saya baru senang kalo sudah mendapat uang. Bekerja sebagai pekerja lepas begini, apalagi yang baru mulai dari nol, memang tidak mudah. Saya harus kebal. Bukan masalah dikritik, tapi dihina.


"Memangnya kamu siapa? Kan belum pernah kerja. Saya bayar 3000 ya untuk 1 tulisan. Kamu saya sewa buat 50 tulisan.

Rasanya ingin memaki. Saya menolak permintaan tersebut. Tentu saja, mereka tidak mau menaikkan bayaran. Jadilah saya pusing tujuh keliling. Walau sudah menunjukkan portofolio pun berupa tulisan-tulisan yang saya kumpulkan di blog ini selama bertahun-tahun, mereka tetap memandang sebelah mata. Bagi mereka, tanpa portofolio profesional, kemampuan saya tak ada artinya. Saya harus dibayar serendah-rendahnya. Tukang parkir saja bisa mendapatkan penghasilan lebih tinggi walau memiliki jam kerja yang sama.

Kalau ditanya bagaimana perasaan saya, jelas saya sangat sedih. Jaman sekarang, berkarir di perusahaan besar sampai jadi pekerja lepas yang hanya duduk di dalam rumah pun butuh pengalaman kerja. Ini mendorong saya untuk bertekad agar anak-anak saya nanti memiliki pengalaman kerja yang cukup. Mereka harus mampu bersaing lebih baik dibanding saya. Tidak, saya tidak menyesal karena menghabiskan waktu untuk kuliah sejak 2011. Saya senang dan sangat bersyukur. Itu salah satu pengalaman hidup terbaik. Tetapi seandainya saya sedikit lebih lelah dan sibuk lagi dengan bekerja di sana sini, mungkin saya tidak harus lelah-lelah menghadapi berbagai penolakan.

Sekarang, sudah ada klien yang bermurah hati dan memberi saya bayaran yang manusiawi.

Namun ternyata kendala tidak sampai di situ. Awalnya saya menawarkan jasa menulis review film. Ini kelebihan yang saya kuasai dengan sangat baik. Saya ingat ketika SMA dulu seorang teman dari kelas lain bertanya bagaimana proses saya berlatih menulis untuk lomba resensi se-Jabodetabek. Saya menunjukkan lembaran-lembaran kertas yang saya tulis tangan sendiri. Saya berlatih tiap malam. Dia membacanya lalu bilang bahwa kekuatan saya ada di paragraf pertama. Review-review yang saya tulis mampu memikat pembaca.

Tapi saya tidak pernah mereview musik. Atau makanan. Atau tempat wisata. Namun karena sudah kepalang tanggung menulis untuk klien ini akhirnya saya iyakan saja semua. Kok susah ya ternyata. Saya takut sekali tulisan-tulisan itu akan mengecewakan pembaca. Bagaimanapun juga, walau saya menulis demi mendapatkan uang, jiwa idealis saya masih ketat membelenggu pikiran. Hati dan otak saya tidak terima kalau yang baca tidak suka.

Ternyata banyak yang suka. Senangkah saya? Luar biasa senangnya.

Namun karena baru memulai beberapa bidang penulisan yang baru, saya membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk belajar. Untungnya klien saya tidak mematok waktu. Menurutnya kualitas lebih berharga dibanding kuantitas. Soal ini, saya juga senang karena didukung pacar. Dia mau menghabiskan waktu membaca dan mengkritisi tulisan-tulisan saya. Saya  sangat berterima kasih memiliki proof reader seperti dia. Padahal dia tidak menyelami bidang ini.

Ada beberapa tips yang ingin saya katakan. Daripada bingung ketika lulus kuliah harus kemana mencari uang, sebaiknya habiskan saja banyak waktu untuk magang. Harusnya ini mudah dilakukan. Nyatanya, tidak semua kampus memiliki waktu yang fleksibel dan nyaman bagi mahasiswanya. Tidak banyak pula perusahaan yang mau menerima mahasiswa magang dengan hati tulus tanpa berniat mempekerjakan mereka bagai budak korporat tanpa gaji. Jadi saya sangat menyarankan untuk menjadi pekerja lepas. Bahkan kalaupun kamu kuliah di bidang pertanian, tidak masalah bila kamu menjadi pekerja paruh waktu di Starbucks. Ambil semua kesempatan itu sebelum kamu menyesal dan merasa menjadi orang paling tidak berguna ketika telah wisuda nanti.

Tapi tentu saja semua pengalaman itu akan percuma kalau kamu benar-benar tak punya keahlian. Pengalaman saja tidak akan ada gunanya tanpa keahlian. Karena itu kuasailah satu dua hal. Saya harus mengakui bahwa apa yang saya petik hari ini adalah hasil kerja keras hampir seumur hidup. Saya sudah bercita-cinta menjadi penulis sejak usia lima tahun dan berlatih hingga usia dua puluh lima tahun. Bahkan kalaupun kadang menulis suatu topik terasa berat karena tidak familiar, setidaknya saya tahu bagaimana membuat sebuah tulisan seperti bernyawa. Kamu juga bisa berlatih bicara atau berlatih menjadi pendengar yang baik. Keahlian-keahlian yang kamu kira sepele itulah justru dapat menjadi sandaran hidupmu kelak.

Hal lain yang harus kamu perhatikan adalah menjadi pribadi tahan banting. Tidak semua klien akan berkata lembut dan sopan. Kadang, ketika merasa memiliki uang, mereka akan bersikap pongah dan menghinamu. Prinsip saya sih, jangan sampai membuat diri saya serendah dia. Walau kata-katanya menghina (bahkan secara eksplisit), biarkan saja. Tetap kerja secara profesional. Bagaimanapun juga, hidup tidak akan selalu seperti maumu. Yang penting kamu punya etos kerja baik dan mau berusaha untuk belajar. Seburuk-buruknya klien, mereka tetap berharga untuk kamu. Dari merekalah kamu mendapat pengalaman mengerjakan berbagai project.

Sebenarnya saya masih punya ambisi. Tapi tenagalah yang tidak saya punya. Saya tidak suka menjalankan sesuatu setengah-setengah. Walau kadang rasa malas melanda dan hasil kerja saya hanya setengah-setengah. Saya ingin sekali merealisasikannya. Pacar saya juga sudah mendorong habis-habisan. Ya mungkin tahun depan sudah terlaksana. Baiklah kita tunggu saja.

Oh ya, saya juga punya saran lain. Selain dirimu sendiri yang diperkaya dengan berbagai keahlian, kamu juga bisa memanfaatkan media sosial sebagai portofolio. Cobalah untuk membuat caption yang menarik dan desain gambar yang bagus, tentunya berdasarkan satu niche yang kamu pilih. Jangan selalu menilai media sosial dengan sebelah mata. Kamu bisa cari uang dari sana. Dan jangan pula sepelekan pekerjaan di bidang itu. Rasanya lelah, saya juga pernah :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar