Minggu, 28 April 2019

Memacari Seorang Feminis

unsplash.com
Bukan saya yang pertama kali menyebut diri saya feminis. Tapi pacar saya. Dia bilang suatu hari di atas motor, "Kamu kan feminis." Dia juga yang mendorong saya lebih vokal di medsos. Menurut dia, saya perlu memperjuangkan apa yang saya anggap benar. Dia tidak pernah marah atau tersinggung ketika saya mengangkat isu gender. Apapun isunya. Semua saya bahas dengan dia. Ini lucu. Seorang laki-laki mendukung saya dibanding kebanyakan teman perempuan saya yang masih menganggap kesetaraan itu tidak perlu. Feminisme itu hal bodoh. Padahal mereka juga tidak mau dilecehkan dan benci pada pemerkosaan. Tapi kok antifeminis?


Bagi saya, memilih lelaki itu harus berpikir 1000 kali. Laki-laki yang baik adalah investasi masa depan sekaligus jaminan kesehatan mental. Saya tidak mau terpaksa menikahi pemabuk, penjudi, atau tukang berkelahi. Saya juga tidak mau di masa depan nanti harus pusing memikirkan tingkah laku suami yang tak peduli pada keluarga atau tak punya tanggung jawab pada istri. Saya tidak minta laki-laki kaya atau tampan atau keturunan bangsawan. Saya cuma butuh laki-laki yang baik.

Tapi ternyata mencarinya sangat sulit. Seperti mencari jarum dalam jerami yang luasnya seperti Padang Sahara. Jadi saya meyakinkan diri sendiri, "Oke, tidak ada orang baik juga tidak apa-apa. Hidup sendiri juga tidak masalah. Lebih baik tidak bersama siapa-siapa dibanding hidup dalam penyesalan seumur hidup." Kalian pasti bilang "ah banyak kok yang baik." Tapi baiknya hanya kalian lihat dari satu sisi. Si A yang kalian bilang baik mungkin rajin ibadah. Tapi ternyata dia tidak bisa mengambil hati mertua. Saya kan tidak mau yang begitu. Si B mungkin baik juga, pekerjaannya bagus. Tapi ternyata kalau masakan istrinya tidak enak, dia marah-marah. Padahal saya bukan koki profesional dan saya malas harus bertengkar seumur hidup karena hal macam itu.

Si C yang kalian bilang baik, ternyata menyimpan banyak video porno di ponselnya. Mungkin sudah candu. Si D yang kalian bilang baik, ternyata suka berhutang. Hanya tidak kelihatan saja dari luar. Saya tahu sih, manusia mana ada yang sempurna. Tapi aduuuuh kok susah sih cari yang baik versi saya? Cuma yang rendah hati, baik ibadahnya, baik sama keluarga dan mertua, juga sayang anak-istri saja kok susah? Saya itu paling jijik juga sama laki-laki yang sombong. Tak peduli mau dia kaya-ganteg-ternama tapi kalo suka pamer aduuuh saya jadi pusing. Saya mau yang sederhana, ga aneh-aneh. Kok susah sih nyarinya?

unsplash.com

Eh ketemu. HAHAHAHAHA. Paket lengkap pula. Saya berani bilang, pasangan saya ini feminis. Kenapa? Lho, dia juga memandang saya setara kok! Dia bilang sendiri kalau orang ikut Women March itu wajar (ga kayak orang-orang yang nyindir pilihan saya ini hahahaha). Kalau dia ke rumah dan lihat pekerjaan rumah saya menumpuk, dia bantu. Saya nyapu, dia cuci piring. Tidak pernah mengeluh! Tidak pernah malu pula. Dia bawakan barang saya bukan karena saya manja atau saya perempuan. Dan dia tidak mengejek saya dengan keperempuanan saya. Tapi dia membawa barang berat karena saya skoliosis. Oh, tahu rasanya gimana? Sakit sekali kadang sampai susah tidur.

Saya juga bawakan barang dia misal saya tahu dia kerepotan. Kami tidak menganggap salah satu dari kami harus lebih bertanggung jawab hanya karena isi di dalam celana. Saya membanjiri dia dengan tulisan-tulisan yang menurut saya penting untuk masa depan kami. Kami baca lalu kami bahas. Saya ajak dia diskusi mengenai kontrasepsi, asi booster, sekolah anak, dan lain-lain. Kebanyakan lelaki mana mau diajak bicara panjang kali lebar? Tapi dia mau. Dia selalu menyimak. Dia juga enak diajak berdebat, tidak membuat hati saya perih-perih amat.

Saya heran mengapa orang selalu berpikir feminisme bertentangan dengan kehidupan rumah tangga. Feminisme tidak disukai lelaki. Kenapa pula kalian pikir feminisme hanya untuk perempuan? Bagi saya, feminisme adalah memanusiakan manusia. Manusia tidak boleh dihakimi hanya karena jenis kelaminnya. Itu mengapa saya pernah angkat topik mengenai baby blues pada ayah. Oh ya, dia juga yang suruh saya angkat topik itu. Dia tidak menganggap pemikiran feminisme saya sebagai ancaman. Dia tidak minder atau takut dengan apa yang saya yakini dalam hati. Bagi dia, kami tidak dirugikan. Tapi justru yang saya lakukan menguntungkan kami.

Saya pernah tanya, kenapa kamu bisa begini? Dia jawab "Aku ga pernah lihat ayah kasar sama ibu. Ibuku juga bekerja." Oh by the way, orangtuanya memang rukun dan lemah lembut. Tidak terlihat bertengkar secara fisik atau verbal. Ayahnya juga senang mendengarkan curhat ibunya. Ayahnya juga memasak atau mencuci pakaian. Pekerjaan rumah tangga dalam rumah tangga calon mertua saya dibagi rata. Itulah mengapa, dia tidak asing dengan feminisme. Karena bagi dia, itulah cara hidup orangtuanya.

1 komentar:

  1. bener banget dan aku ngerasain sendiri, apalagi seiring bertambah usia memilih laki-laki itu bukan karena dia ganteng atau memiliki motor bagus seperti jaman smp atgau sma. tapi dari bagaimana ia bersikap dan bertutur kata serta pemikirannya

    BalasHapus