Selasa, 16 Juli 2019

Dua Garis Biru (Bukan Review)

Gambar: Starvision (via cultura.id)

Saya pernah berdebat dengan Faisal ketika dia mengatakan bahwa kita tidak bisa berkomentar karena tidak benar-benar tahu mengenai kasus nikah dini. Saat itu kasus yang kami bicarakan ada di Sulawesi. Saya marah sekali ketika orang tidak menganggap isu ini krusial. Sambil menangis histeris saya bilang ke Faisal apapun alasannya anak saya tidak boleh menikah dini. Mau alasannya cinta atau sudah akil baligh, itu tetap kekerasan seksual. Anak-anak tidak seharusnya menikah. Mereka seharusnya bermain dan belajar. Masa kecil mereka tidak boleh hilang.
Saya sering berdebat dengan orang-orang yang membenarkan pernikahan di usia ini. Mulai dari katanya bukan urusan saya sampai bilang toh anaknya sudah punya KTP. Ada juga yang berasalan lebih baik menikah dibanding berzina. Apakah menikah hanya untuk berhubungan badan saja? Apakah menikah menyelesaikan masalah? Apakah tujuan hidup kita, terutama perempuan, hanya untuk menikah? Menyakitkan sekali rasanya mendengar orang-orang yang membenarkan pernikahan dini. Bahkan kalaupun alasannya karena hamil di luar nikah, melakukan pernikahan bukanlah solusinya. Pernikahan yang tidak direncanakan dan dilakukan hanya sebagai keharusan saja malah menjadikannya lebih berisiko. Kedua belah pihak malah jadi sama-sama tertekan.

Saya tidak hentinya menangis selama menonton Dua Garis Biru. Saya belum menikah apalagi punya anak. Tapi saya dapat merasakan bagaimana hancurnya hati orangtua bila anaknya menghamili atau dihamili di usia begitu muda. Saya terluka. Saya takut. Saya marah. Saya bingung. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana masa depan anak saya? Kenapa kita tidak membicarakan hal semacam ini lebih terbuka? Kapan kita sadar edukasi sex itu penting? Apa mulut kita hanya digunakan untuk menghakimi saja? Memangnya masalah akan selesai?

Saya paham sekali bagaimana rasanya jadi Lulu Tobing. Saya juga paham rasanya jadi Cut Mini. Saya kan juga perempuan. Bila suatu saat nanti saya menjadi ibu, saya bertekad akan mengajarkan edukasi sex kepada anak saya nanti. Dia tidak boleh patah hati karena menikah dini atau hamil di usia dini. Dia tidak boleh kehilangan haknya untuk sekolah. Tapi jalan keluarnya bukan dengan melarang berpacaran. Jalan keluarnya juga bukan dengan membatasi dia nonton ini itu atau baca ini itu dan membuat otaknya jadi terkungkung.

Saya pernah ada di usia yang sama dengan Dara. Saya membaca apapun, tak peduli apakah bacaan itu sesuai atau tidak dengan usia saya. Tapi saya tidak hamil di luar nikah. Ini adalah bukti justru ketika pikiran terbuka, akses terhadap konten edukasi tak terbatas, saya justru mampu menjaga diri dan tahu risikonya. Seharusnya Dara bisa seperti saya. Bima juga. Tapi Dara dan Bima tidak mendapatkan privilege itu. Anak-anak saya nanti harus demikian. Saya melindungi mereka dengan cara tidak membatasi ruang berpikir mereka.

Apakah orang-orang masih akan membenarkan pernikahan di bawah umur kalau mereka sudah nonton Dua Garis Biru? Apa mereka masih sepicik itu?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar