Sabtu, 21 September 2013

Cerfet #MFF: Hujan Deras Di Luar Sana

shutterstock.com
Mungkin seperti ini rasanya menjadi lengkap, menemukan pemilik tulang rusuknya dengan sebelah sayap.

Alya semakin merapatkan tubuhnya pada dada bidang Rio. Meski hujan turun dengan deras, seluruh tubuhnya terasa hangat. Seakan sel-sel tubuhnya bekerja lebih aktif. Membuat suhu tubuhnya meningkat. Membuat detak jantungnya makin cepat. Kemudian kedua pipinya bersemu. Kulit mereka bertemu.


Alya menelengkan kepalanya lalu meletakkannya di bahu Rio. Sedikit bagian wajahnya bersentuhan dengan leher Rio. Dunia Alya terasa tentram.

“Kamu kenapa?”

“Aku kangen.”

“Tapi tiap hari kita ketemu.”

“Aku sayang kamu.”

“Lapar? Tadi siang aku masak plecing kangkung dan tempe mendoan.”

“Mau!”

Menurut Alya, masakan Rio adalah masakan terenak nomor dua di dunia, satu tingkat di bawah rasa masakan ibunya. Menikmati masakan Rio sama menyenangkannya dengan menatap ekspresi kekasihnya itu ketika makan dengan lahap. Entah karena ia jatuh cinta atau Rio memang mempesona. Padahal Rio tidak setampan teman-teman kampusnya. Dulu, mungkin ya, Rio yang juara. Sekarang, kerut-kerut halus yang mulai muncul di sudut mata Rio tak bisa ditutupi. Juga sedikit uban yang muncul di sela-sela rambutnya. Namun, bagi Alya, Rio satu-satunya lelaki yang patut dicintai.

Dulu Alya mengenal Rio dari dosennya di tingkat pertama. Alya dan timnya membutuhkan sponsor demi keberlangsungan acara kampus mereka. Sang dosen merekomendasikan Rio. Maka, sebagai kepala divisi humas, Alya turut berkepentingan menemui pihak yang menjadi calon penyumbang dana.

Kesepakatan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan. Seringkali divisi dana usaha kerepotan menjalankan tugas-tugas mereka. Sehingga Alya kebagian jatah membantu tugas mereka untuk bertemu dengan Rio. Hingga acara berhasil dengan sukses. Alya pun bermaksud mengucapkan rasa terima kasihnya secara personal.

“Saya senang membantu kawan-kawan mahasiswa. Kalian anak muda yang pandai dan kreatif. Usaha kalian menyelenggarakan acara patut diacungi jempol. Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya saya melakukan hal yang diperlukan.”

“Apa Pak Rio dulunya aktif dalam kegiatan kemahasiswaan? Saya ingat, tiap kali saya bertemu bapak untuk melaporkan perkembangan persiapan acara kami sesuai yang bapak minta. Bapak selalu bersemangat. Seakan bapak menunggu bertemu saya untuk mengetahui apa saja yang telah tim kami lakukan. Perhatian dan pertolongan bapak di luar ekspektasi saya.”

“Ya, saya dulu memang aktif. Saya orangnya tidak suka diam. Bahkan selesai PKL dulu pun saya mencuri kesempatan magang. Awalnya dosen pembimbing saya melarang karena belum keluarnya jadwal sidang. Saya bujuk dia sampai luluh. Untunglah saya sanggup lulus sidang sekaligus menyelesaikan magang dengan sama baiknya.”

Menurut Alya, Rio adalah lelaki tertampan di dunia setelah ayahnya. Mendiang ayah yang cuma bisa ia nikmati rupanya melalui foto. Cara Rio membawa dirinya membuat Alya berpikir seandainya lelaki ini adalah ayah. Ia tak ingat rasanya punya seorang ayah. Ia ingin merasakan menjadi anak perempuan kesayangan ayah. Memiliki pengalaman menjadi daddy’s little girl.

“Saya sedang masak, sebelum kamu datang. Ayo, ikut makan.”

Alya tak menolak. Ia biarkan perasaannya hanyut dalam impian seandainya ayah masih ada. Beginilah mungkin rasanya. Apalagi Rio sangat baik. Mengambilkannya makanan dan menyuruhnya makan yang banyak. Mengatakannya padanya jangan takut bertambah berat tapi mulai menaati jadwal olahraga dengan semangat.

Sejak itu, komunikasi di antara Alya dan Rio semakin intensif. Alya banyak mencurahkan hatinya dan menceritakan apa saja. Sebaliknya, Rio dengan sikap yang dewasa, membuatnya nyaman sekaligus aman. Hingga tanpa malu-malu Alya mengatakan perasaannya pada Rio.

“Aku sayang Rio.”

Rio terdiam cukup lama.

“Usia kita...”

“Jauh bedanya, aku tahu. Aku lebih muda, aku sadar. Aku kekanakan, memang benar. Tapi boleh kan aku sayang Rio?”

Rio selalu merasa ada wajah seseorang yang ia kenang setiap menatap Alya. Namun saat wajah itu mengucapkan kata sayang, kenangan milik Rio menggenang. Menari-nari di kepalanya, mencuat keluar, memaksa hatinya mengakui hal itu. Bahwa ia memang menyukai gadis di depannya. Gadis yang lebih pantas jadi putrinya. Gadis yang terlalu hijau untuk jadi kekasihnya.

“Boleh.”

Satu kata itu cukup membungkam Alya, membuat segalanya tak lagi serupa hari yang telah lalu. Alya mendekap Rio erat-erat, setiap yang ia bisa, seperti hari ini. Mencintai dan lebih mencintai Ferdi Orion setiap hari.

Dan ketika senja, wajah Alya memuncat. Membuatnya terancam kehilangan sebelah sayap.

***
Ini merupakan karya fiksi yang dikerjakan secara estafet. Untuk bagian selanjutnya saya serahkan pada Miss Rochma. Di bawah ini karya-karya sebelumnya:



10 komentar:

  1. mantep! ada juga ya cerfet! kirain cerita mefet! bhahaha

    BalasHapus
  2. Kadang usia memang tak lagi menjadi masalah... #eh

    BalasHapus
  3. Alurnya maju mundur ya mbak di cerita ke 4 ini?

    kalo boleh sedikit komentar, dari paragraph "Dulu Alya mengenal Rio dari dosennya....sampai 'daddys little girl" menurut saya, maaf ini menurut saya lho ya, sekali lagi menurut saya ...sedikit...yaa..sedikit membosankan.. :D.

    tapi yang baca cerfet ini bukan cuma saya lho, jadi itu cuma menurut saya aja :D.

    yang saya suka, dicerita ke empat ini, kamu betul2 keluar dari alur yang dibawa cerita ke 2. That's cool.
    Dan shock, ternyata Dio udah setua itu. :D

    keep spirit, Linda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih ga apa apa hehe berarti itu tantangan saya biar flashbacknya tidak membosankan ;)

      soalnya kalo alya saja sudah mahasiswa, berarti seusia saya, itu umur ibunya wajar empat puluh tahunan. ibu saya umurnya segituan, ayah saya sekitar lima puluhan. hehe. jadi saya bayangkan dio ya setua itu

      Hapus
  4. AAhh...iya, saya baru ngerti ini maksud cerita ke empat ini. Jadi si Alya ini suka sama si Ferdi Orion itu jugaaa...AAhh...mati deh gue komen di cerita ke 5-nya salah... :(

    BalasHapus
  5. Lin, aku baru sadar, dirimu di cerita ini menulisnya Rio, bukan Dio. kan yang bener tuh Dio :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah saya jelasin di fb ya mbak hehe

      Hapus