Read more: http://www.heyblogger.net/2012/03/menambahkan-widget-social-bookmark-di.html#ixzz2zp49uvnR

Senin, 24 November 2014

Jodoh Tidak Ke mana

Mataku menatapmu nyalang seperti serigala menatap rusa. Bibirmu yang merah penuh senantiasa menggodaku untuk mencumbu. Kalau kau lewat, kesadaranku seakan lenyap. Kepalaku hanya berisi kau, kau, dan kau. Otakku menjadi liar, memutar fantasi permainan gila yang bisa dilakukan seorang pria dengan seorang wanita.

Kata orang, jodoh tidak ke mana.

Kami bersekolah di tempat yang sama, dari SD hingga SMA. Tuhan benar-benar berhati mulia. Tak kusangka kami akan akrab. Kau terikat padaku bagai minyak pada wajan. Hingga suatu hari kau mengangsurkan undangan dengan namamu dan namanya di sampul depan.


Seperti sudah garis Tuhan, kita akan bertemu di pelaminan.

***
Flash Fiction 100 kata

Minggu, 23 November 2014

Prompt #71 Nirvana

monday flash fiction

“Mau ke mana?”

Kamu tidak menjawab. Kamu terlalu fokus melihat jalan. Seakan peta yang tergambar dalam kepalamu sekejap hilang jika kau sempat mengalihkan perhatian. Bulir-bulir keringat menetes perlahan. Namun kau menolak berhenti atau sekedar meneguk minuman. Padahal tak ada yang mengejar. Tak ada yang mengikuti.

“Mau ke mana?” teriakku.

“Diam!” kamu membentak lebih keras.

“Apa sih, marah-marah? Emang aku punya salah? Aku kan cuma tanya, kita mau ke mana. Kamu pikir aku barang, ga bisa bicara. Harus diam saja sampai tempat tujuan. Memangnya cuma kamu yang ada di mobil ini? Aku juga! Aku berhak tanya, karena aku kamu bawa.”

“Aku dengar kamu udah tiga bulan ga kontrol.”

“Kenapa jadi bahas aku? Jangan mengalihkan suasana, brengsek!”

Ganti aku yang menatap fokus ke depan. Napasku naik turun karena terlalu marah. Bukan cuma orang yang punya darah tinggi yang kesulitan mengendalikan emosi. Semua yang penyakitan pun demikian. Sejak dokter mengumumkan vonis sialan itu, aku jadi roller coaster. Naik turun tak terkendali. Marah dan sedih datang silih berganti. Seakan tiap hari berperang melawan diri sendiri.

“Kenapa kamu ga kontrol? Kamu ga mikirin perasaan aku tiap kali lihat kamu muntah-muntah? Kamu ga hargai usaha aku setahun ini berusaha menguatkan kamu, bersabar menghadapi kamu? Egois!” kamu berteriak-teriak.

“Aku bosen ketemu dokter,” jawabku singkat. Sebetulnya bukan itu alasannya. Aku hanya terlalu.... putus asa. Sakitnya makin menjadi tiap hari. Obat anti rasa sakit sudah tidak mempan. Rasanya tiap hari hanya usaha untuk menunda kematian.

“Bosen kamu bilang? Ga sekalian aja kamu minta mati sekarang? Jadi gausah ketemu dokter lagi. Se-la-ma-nya. Puas kan?”

Tiba-tiba mobilnya ngebut. Aku terkejut. Kulirik speedometer. 150 kilometer per jam?!

“Heh! Apa-apaan sih? Kamu mau ikut mati? Bawa mobil jangan kayak gini! Kita mau ke mana sih? Oke, aku mau kontrol besok.”

“Telat!”

“Mau ke mana?”


“NIRVANA!!”
***
Karya lain dapat dilihat di sini. Terinspirasi dari lagu Sam Smith - Nirvana.

Kamis, 13 November 2014

Prompt #70 Wangi di Suatu Malam

Close-up. Arrested man handcuffed hands at the back - stock photo
shutterstock.com
Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat.

Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

Senin, 20 Oktober 2014

Mati atau Lari

mazerunnerbook.tumblr.com
Judul:     The Maze Runner
Penulis:  James Dashner
Tebal:     478 halaman
Cetakan: Dua, September 2014
Penerbit: Mizan Fantasi

Coba sebutkan hal-hal yang membuat Anda putus asa. Putus cinta? Ditolaknya lamaran kerja? Kehilangan gawai? Bandingkan dengan keputusasaan beberapa puluh anak lelaki yang tinggal dalam sebuah labirin tanpa pintu keluar. Lalu tambahkan variabel menarik berupa monster seukuran anak sapi yang siap melumat apa saja. Hal tersebut berlangsung lebih dari dua tahun, seakan hidup tak pernah berjalan. Hanya ada kesengsaraan.

Rabu, 15 Oktober 2014

Turun Ke Jalan

antaranews.com
Kuliah di luar kota benar-benar menyita waktu. Saya harus berangkat jam lima pagi bila tidak ingin terjebak macet setengah jam kemudian. Jika saya keluar kelas jam enam sore, hampir bisa dipastikan saya pulang jam delapan malam. Naik bis, kereta, atau mobil pribadi tetap sama lelahnya jika menghadapi kemacetan. Meski naik kereta tidak merasakan macet pun keluar dari stasiun masih harus menaiki kendaraan umum untuk menyambung perjalanan. Macet juga, kan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...