![]() |
http://www.shutterstock.com/pic-86265376/ |
Entahlah,
siapa sebenarnya ibunya Nabila. Ibuku lebih banyak mengambil keputusan
berkaitan dengan Nabila dibanding aku. Semisal, memberi izin bermain atau ikut
darma wisata. Tak heran, Nabila sangat terbuka dengan ibu. Aku sering mencuri
dengar Nabila tengah mencurahkan hatinya pada ibu. Mulai dari masalah sepele seperti
teman atau nilai tugas hingga yang sedikit konyol dan membuatku naik pitam,
cinta monyet. Kenapa anak zaman sekarang cepat menjadi dewasa? Sejak kapan
Nabila kecilku mengenal laki-laki?
Tentu
saja Nabila menyanyangi ibuku, neneknya. Ibu menetapkan peraturan yang populis.
Bila aku tidak di rumah, Nabila bersenang-senang. Ibu mengizinkannya pulang
terlambat. Tidak sampai larut malam tapi mampu membuatku terbakar. Ibu menjadi
terlihat lebih muda dibanding usianya. Aku juga heran dengan ibu yang berpikiran
terbuka dan cenderung santai dalam membesarkan Nabila. Nabila pernah
menjulukiku ibu yang kolot sementara ibuku adalah nenek yang gaul. Ketika itu,
aku langsung menghukum Nabila dengan menguncinya di loteng.
"Ibu,
jangan memanjakan Nabila seperti itu, nanti jadi kebiasaan!" larangku
keras. Ibu menggeleng-gelengkan kepala. "Dira, Dira. Sudahlah! Jangan
terlalu keras pada anakmu sendiri! Itulah sebabnya Nabila takut padamu. Coba
lihat, Nabila dekat dengan ibu. Apa kamu tak iri melihat keakraban kami sebagai
sepasang nenek dan cucu?" Aku semakin bersungut-sungut mendapat argumen
tak terduga dari ibu. "Bukan begitu, bu! Aku hanya keberatan kalau ibu
terlalu memanjakan Nabila. Bisa manja dia! Apalagi kalau dia tahu ibu
membelanya dariku. Aku tidak mengerasi Nabila, aku hanya ingin mendidiknya
mandiri dan disiplin. Ibu mengerti kan?" Ibu mengangkat bahu. "Ibu
pikir-pikir dulu apakah ibu berniat menyeberang ke pihakmu."
"Ibu!
Ini bukan soal ibu berada di pihak mana! Tapi bagaimana cara ibu membantuku
mengasuh Nabila. Kasihani aku, bu. Kasihan Nabila juga. Aku harus bekerja tiap
hari sementara Nabila tak mungkin kutinggal sendiri. Jadi aku titipkan pada
ibu. Harusnya ibu mendukung caraku membesarkan Nabila. Kalau aku disiplin dan
ibu tidak, dia akan bingung harus meniru yang mana. Percayalah, semua kulakukan
demi kebaikan putriku! Tidak ada pihak yang memisah aku dan Nabila tapi aku
menyarankan ibu memahami tindakanku dan memberi dukungan." Ibu meletakkan
jari telunjuknya di depan bibirku. "Dengarkan ibu," pintanya.
"Ibu
tahu ayah membesarkanmu dengan disiplin tinggi. Apalagi kamu anak tunggal,
semua tumpuan harapan menjadi bebanmu seorang diri. Kamu tumbuh membanggakan
kami, orangtuamu. Kamu berprestasi dan berbakat. Ibu tidak ingat kamu pernah
mengecewakan kami. Kamu selalu tahu cara menghibur kami. Tapi masa itu sudah
lewat. Ibu ingin kamu tahu, tiap anak berhak mendapat cara dibesarkannya
masing-masing. Kamu tidak bisa menyamakan cara ayah mendidikmu pada Nabila.
Kamu dan Nabila hidup di zaman berbeda, begitu pula kamu dengan ibu." Aku
menelan ludah. Tiba-tiba ibu laksana obor yang memberi penerangan ketika rumah
kami mati lampu. Ibu memberikan alasan masuk akal.
"Izinkan
Nabila menginap di rumah temannya dan terlambat pulang besok," ibu
berbisik. Aku meraih ponsel. "Sayang, kata nenek kamu mau menginap di
rumah Franca ya? Ibu bawakan kamu kue ya sayang. Besok mau ibu jemput jam
berapa?"