Minggu, 26 Januari 2014

Menjadi Ratu

shutterstock.com
“Itu siapa, Lan?”

“Oh itu. Pacar barunya Tio. Cantik ya? Kata orang-orang sih, mereka belum lama pacaran. Mereka jadi dekat sejak KKN. Padahal cewek itu banyak yang mendekati lho. Hebat ya, dia lebih memilih Tio. Aku kira wajar saja, mereka terlihat seperti pasangan sempurna,” komentar Lani panjang lebar. Aku menanggapi dengan senyum hambar.


Semalam Tio bilang padaku, ia sedang sibuk bekerja. Pintanya, jangan hubungi dia. Kukira, atau cuma perasaanku saja, semua kerja keras yang ia lakukan demi aku. Demi sebongkah berlian yang pernah ia janjikan untukku. Juga sebongkah masa depan di sebuah rumah sederhana tempat tinggal sebuah keluarga bahagia. Tempat kubertahta sebagai ratunya.

Aku masih ingat kali pertama bertemu dengan Tio. Lelaki yang tampan sekaligus menawan. Bicaranya sopan, sapaannya hangat, dan tawanya renyah. Khas lelaki impian semua perempuan. Kalau kalian tidak percaya dan berpikir lelaki itu cuma ada di dalam cerita, kalian salah. Aku bisa buktikan lelaki seperti Tio ada di dunia nyata. Lelaki yang juga ada di dunia perempuan-perempuan yang mencintainya.

“Lan, kita cari makan di tempat lain yuk. Aku bosan menu yang itu-itu saja di kantin kampus. Katanya kafe yang baru buka di dekat lampu merah itu enak lho,” ujarku sambil membuang muka. Aku malas melihat Tio yang tengah pamer kemesraan bersama pacar barunya. Aku muak karena ingat hal-hal manis yang Tio lakukan padaku.

“Lho, kok gitu, San? Kan kita sudah sampai sini. Baru datang masak pergi?”

“Masak kamu mau makan makanan yang sama seumur hidup kamu. Kita kan kuliah di sini sudah tiga tahun. Kita sudah kenyang makan makanan dari kantin.”

Lani mengalah. Tanpa banyak tanya ia mengikutiku. Sementara Tio tidak menyadari kehadiranku tadi. Juga ketika aku pergi. Matanya menatap perempuan di depannya dengan lekat. Seakan takut bila ia mengalihkan pandangan, perempuan itu bisa hilang dalam sekejap. Tapi aku tahu itu cuma caranya berpura-pura cinta. Sebetulnya dia mencintaiku dan ia tahu itu. Perempuan itu hanya tempatnya singgah bila bosan atau membutuhkan hiburan.

Tio mungkin bukan lelaki paling tampan di dunia. Tapi ia punya kharisma. Ia orang yang menyenangkan dan tahu caranya mengambil hati perempuan. Ia juga mengambil hatiku semudah rasa dingin yang menyergap ketika turun salju. Apalagi saat ia membeberkan kata-kata cinta dan mengajakku bertemu orang tuanya.

“Tante senang sekali kamu datang ke sini. Tio banyak cerita tentang kamu. Sudah lama tante penasaran mau ketemu kamu. Akhirnya kesampaian juga sekarang. Benar kata Tio. Kamu bukan cuma cantik tapi juga baik.”

Ucapan ibunya Tio membuat hatiku bungah. Tanggapan serupa juga kuterima dari ayah dan saudara-saudaranya. Mereka menyambutku dengan tangan terbuka. Tentu mereka membuatku makin percaya, Tio memang untukku. Dia selalu menunjukkan sisi terbaik dalam dirinya di depanku. Sampai suatu hari ia bilang ia bosan dengan sikapku yang kekanakan.

“Kita putus saja. Kalau jodoh, kita pasti bertemu lagi. Aku mau kamu belajar lebih dewasa dalam berhubungan. Kita bukan anak-anak. Aku ingin kamu mengerti, waktuku bukan cuma buat kamu. Bagaimana aku bisa mengumpulkan tabungan untuk pernikahan kita nanti kalau kamu marah tiap aku sibuk bekerja? Ingat, aku juga sama capeknya dengan kamu. Mauku juga kita selalu bertemu. Tapi aku harus kuliah dan bekerja. Demi siapa? Pasti demi kita. Demi rumah yang akan kita bangun nanti. Demi anak laki-laki yang aku ajak main bola sambil kamu suapi.”

Air mataku menitik waktu Tio menyebut anak laki-laki. Itu impianku. Menjadi seorang ibu dari anak laki-laki yang lucu. Anak yang wajahnya adalah perpaduan mata bulat dan wajah lonjongku dengan hidung mancung dan tulang pipi tinggi seperti Tio. Anak yang akan kuajari memanggilku bunda. Anak yang diajak Tio bermain bola.

“Kamu tidak marah, kan? Kita butuh waktu untuk introspeksi. Walaupun kita putus, kita harus tetap berkomunikasi. Tapi kalau aku sibuk, jangan marah-marah ya.”

Kalau mengingat kata-kata manisnya, aku semakin membenci Tio. Sibuk katanya? Menabung demi masa depan kami, katanya? Masa depan macam apa yang aku punya kalau Tio bersama dia! Bersama perempuan yang menjadi orang ketiga! Argh, aku tidak tahan lagi.

Tapi tenang saja, nanti kita akan kembali bersatu.

Racun dalam kepalaku berbunyi. Haruskah kuminta Tio kembali? Bisakah dia meninggalkan perempuan itu dan memilih aku? Ayah ibunya saja lebih menyukaiku. Kurang apa aku bagi Tio? Cintaku tulus. Kesetiaanku bisa diuji. Aku lebih dulu mengenal Tio dibanding perempuan itu. Sudah pasti aku lebih memahaminya. Rasanya tak layak membandingkan aku dengan perempuan perusak hubungan.

“San, awas!”

Lani menarik tanganku ke pinggir jalan. Tarikannya yang keras membuat kami berdua jatuh. Aku yang terkejut hanya duduk dan terdiam.

“San, kamu kenapa sih? Jalan sambil melamun lagi. Sadar tidak, kamu baru saja membahayakan nyawa kita. Apa sih yang kamu pikirkan? Tadi kamu hampir ditabrak metromini.”

“Maaf Lan. Aku tidak sadar. Maaf. Kamu baik-baik saja? Aduh tanganmu lecet. Ayo kita ke klinik.”

Sebuah tangan terjulur padaku. Aku mendongak sembari menyambut tangannya. Itu Tio. Dia sendiri. Entah kemana pacar barunya. Tanpa banyak bicara ia membantuku dan Lani berdiri.

“Kamu ini kenapa?”

“Tidak apa-apa. Jangan tanya-tanya.”

“Aku tadi lihat Lani menyelamatkan kamu. Kamu seperti orang linglung. Ayo, cerita. Bukannya kita janji akan saling terbuka?”

“Jangan pedulikan aku. Urus dirimu sendiri dan pacar barumu.”

“Kamu cemburu?”

“Menurutmu?”

Tio memelukku erat. Sampai aku malu pada Lani juga semua orang yang mungkin berpapasan atau melihat adegan kami di pinggir jalan. Sejenak waktu seperti melambat dan dunia menjadi hening. Akhirnya aku menangis sesenggukan dalan pelukan Tio. Aroma tubuhnya begitu kurindukan.

“Dia bukan pacarku tapi orang-orang mengira begitu. Kami sudah putus karena aku memilih kamu. Aku tahu kamu yang terbaik. Kita mulai lagi semuanya dari awal. Bisa kan?”

Air mata bahagia menggenang di kelopak mataku. Aku siap kembali menjadi ratu.

***
Cerpen ini ditulis untuk seorang teman di kampus. Semoga kisah cintanya abadi J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar