Senin, 22 April 2013

Dicari, Lelaki Batak Untuk Si Galak


           
Demi Ucok
 Siapa yang menonton film dengan poster ini malam Minggu kemarin? Saya salah satunya
J Film berjudul “Demi Ucok” ini adalah film yang langka. Kenapa saya bilang langka? Soalnya jarang ada film Indonesia yang bertemakan budaya dengan pangsa pasar anak muda dan bergenre komedi. Nah, selain keunikan tersebut, film ini juga diproduksi dengan cara yang belum jamak dilakukan di Indonesia. Film ini diproduksi secara patungan bersama 10.000 orang donatur yang disebut co-producer (co-pro). Masing-masing co-pro diabadikan namanya di poster film. Mungkin Anda salah satunya.
            Film berkisah tentang Gloria Sinaga, perempuan galak yang hampir menginjak kelapa tiga. Ia bermimpi sukses menjadi sutradara. Namun mimpi tidak seindah kenyataan ketika ia justru bergulat dengan usia yang tak lagi muda dan kondisi keuangan yang masih ditopang ibunda. Sang ibu, Mak Gondut, berharap anak gadisnya segera menikah dengan pemuda Batak. Gloria tidak setuju dengan gagasan ini. Ia tidak mau menikah sebelum berhasil membuat filmnya yang kedua.

            Sebetulnya ide film ini sederhana. Lazim bukan, kita mendengar orang tua ingin anaknya menikah dengan orang sesuku? Tapi interaksi antara Mak Gondut dan Gloria yang menjadikannya tak biasa. Salah satunya ketika Mak Gondut menawarkan uang satu milyar agar Gloria bisa membuat film. Itu disebut contoh kasih ibu sepanjang masa. Namun pada kata masa, terdapat tanda bintang dengan tulisan kecil di bawahnya, “syarat dan ketentuan berlaku”.
            “Asaaaal, nikahlah kau dengan orang Batak.”
            Ekspresi Mak Gondut tidak seperti ekspresi emak-emak yang biasa saya lihat di film. Bukan, bukan tokoh ibu bijaksana yang lembut. Bukan pula tokoh ibu yang galak atau menyebalkan. Tapi gambaran seorang ibu paruh baya yang konyol dan kelewat percaya diri. Gloria juga bukan tipe tokoh utama yang biasa saya lihat di film-film Indonesia. Ia gadis bertubuh tinggi besar yang judes, menganggap ibunya menyebalkan, dan keras kepala. Selain itu terdapat tokoh lain seperti Niki, lesbi cantik yang menjadi teman Gloria; opung, neneknya Gloria; dan Acun, lelaki Tionghoa teman akrab Gloria.
            Banyak kutipan menarik sepanjang film ini. Misalnya, “Film Indonesia itu harus ada banci, hantu, dan susu,” atau “Kalo nurutin orang lain terus, kapan kita happy?” dan satu yang saya suka, “Ada dua alasan dalam hidup ini. Takut atau cinta. Kalau takut pasti salah jalan!”
            “Demi Ucok” ditayangkan Kompas TV dalam rangka memeringati Hari Kartini. Kompas TV juga menunjukkan Behind The Scene pembuatan film ini. Tokoh Mak Gondut yang mengocok perut ini tak lain adalah ibu dari sang sutradara, Samaria Simanjuntak. Film ini juga diproduksi di rumah sang sutradara yang menjadi setting utama film.
            Saya berharap lebih banyak lagi lahir film-film keren macam ini yang ditujukan untuk anak muda. Bukan hanya film-film berkisah cinta atau hantu. Film yang realistis, kental nilai budaya, sangat Indonesia seperti “Demi Ucok” benar-benar melepaskan dahaga akan film lokal yang berkualitas. 

2 komentar: