Senin, 09 Februari 2015

Kudengar, Kau Sudah Mati

Sakit yang Terlalu - Carolina Ratri (@redcarra)
Kudengar, kau sudah mati, benar?

Aku melihatnya di televisi. Seluruh saluran memberitakan kebakaran di lokasi tambang. Padahal pagi tadi kau bilang, hari ini kau dapat giliran. Apa namanya, oh iya, shift. Kau kirim fotomu mengenakan APD. Katamu, sekali-kali kau yang berkirim gambar diri.


Kudengar, kau sudah mati. Haruskah hal itu kupercayai?

Minggu depan kau akan cuti. Pulang. Padahal aku sudah menyiapkan sebuah dekapan. Jahat sekali, sungguh jahat, kalau kau telah pergi. Teganya kau biarkan dekapanku membusuk sendiri. Di depan foto pernikahan kita, kutuding-tuding kau dengan marah. Kuteriaki kau dengan bermacam sumpah serapah. Kau kejam, tak punya hati. Membiarkanku begini. Menjadi gila.

Ibu memelukku, menyuruhku mengingat Tuhan. Tapi Tuhanlah yang telah menjemputmu, bukan aku yang senantiasa menunggu. Harusnya minggu depan aku di bandara, menyiapkan senyum terbaikku, untuk menyambut kedatanganmu.

Makhluk yang bergerak-gerak dalam perutku menunggumu, kau tahu?

Kau cuma menangis di sampingku meski telah kuteriaku namamu hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Kau meratap di sisiku dengan rongga mata-gelap-kosong itu dan asap hitam yang keluar dari lubang di punggung. Baumu seperti daging panggang. Tak ada yang kau lakukan kecuali seperti yang tadi kudeskripsikan. Mungkin kau merasa bersalah. Mungkin kau tak suka aku marah.

Kau akan mengajakku, kan?

Kau bicara melalui rongga di tempat yang seharusnya bola matamu berada. “Ikutlah.”

Aku pasti sudah gila.

Aku mencium bau terbakar. Asap pekat memenuhi kamar. Teriakan ibu dari luar mulai terdengar samar.
“Lia! Buka pintunya! Kamu sedang apa nak? Bicara sama ibu!”

“Lia mau ketemu Mas Banu.”

“Lia! BUKA!”

Ibu menggedor-gedor pintu.

Ibu pernah bilang, aku perlu bersandar pada Tuhan. Jangan meratapi nasib berlebihan. Di balik kepedihan akan selalu ada kebahagiaan. Karena itu aku berhenti menangis, kan? Aku justru mengambil korek api dan obat nyamuk. Katamu, rasanya tidak sakit. Kau sudah mengalami dan sekarang kau ada bersamaku.

Kini aku sedang di ranjang, bergandengan tangan denganmu, beristirahat dengan tenang.

***
APD = alat pelindung diri

Ilustrasi di atas seharusnya merupakan tantangan bagi The Big 6 MFF Idol 2 dengan tema surealis. Karena saya bukan The Big 6, tidak ada ketentuan untuk mengikuti tema. Ini flash fiction latihan saja karena sering bolos di tantangan Monday Flash Fiction :)

8 komentar:

  1. ceritanya terkesan ngajak bunuh diri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, dia berhalusinasi diajak suaminya :)

      Hapus
  2. wah agak gimana ya pas baca ceritanya. serem kalau dipikirkan.

    BalasHapus
  3. Wew kasihan yang didalam rahim gak tau apa2 tiba2 ikut terbunuh T,T

    BalasHapus