Rabu, 19 Juni 2013

Prompt #17 Lima Puluh Ribu

            Bruk!
            Danang berlari sekencang-kencangnya ketika dompet seorang perempuan telah berada dalam genggaman. Pemiliknya yag baru tersadar dari rasa terkejut refleks berteriak keras. Teriakannya segera menarik perhatian orang-orang di pasar. Mereka mengejar Danang.
            Tanpa ragu, Danang memanjat sebuah tembok setinggi tiga meter dengan bantuan tumpukan kotak kayu dan sampah yang menggunung. Lantas ia loncat dari ketinggian dan menghindar dengan lihai melalui gang-gang sempit yang ia kenal baik. Tak sedikit pun rasa khawatir akan ditangkap timbul dalam benaknya.

            Setelah sampai di tempat yang ia kira aman, Danang membuka dompet itu. Isinya selembar uang lima puluh ribuan, KTP, SIM, dan foto keluarga. Danang melempar dompet itu begitu saja dan hanya mengambil uangnya. Uang itu ia sembunyikan di rumpun bambu. Nanti ia pakai bermain game online sepuasnya. Kemudian ia mengenakan seragam sekolah yang baru dan bersiul.
            Ibunya cuma seorang janda yang menjadi buruh cuci atas belas kasihan para tetangga. Karena orang-orang yang memakai jasa ibunya pula ia mendapat kesempatan bersekolah lagi. Kalau bukan akibat ibunya yang baik hati, orang-orang akan malas membantu Danang. Meski ia anak yatim, ia tak mampu mengambil simpati orang. Kenakalannya sudah di luar batas pemakluman.
            Danang menelan ludah. Ini hari pertama sekolah. Jam istirahat pun tiba dan anak-anak menghambur ke kantin. Cuma dia yang tak beranjak dari bangku karena tak punya uang saku. Sudah bisa memakai seragam saja ia beruntung.
            Seseorang mengamati Danang dari kejauhan. Ia menghela nafas, mengingat kejadian belum lama berselang di dekat pasar. Setelah satu tarikan nafas, ia menghampiri Danang dengan senyuman.
            “Ayo, ikut ibu ke kantin. Makan sama ibu. Biar ibu yang bayar karena kamu sudah menjadi anak pintar. Tadi kamu kan yang pertama kali memperkenalkan diri di depan kelas?”

            Danang menatap wajah perempuan itu. Dengan gemetar, ia terima uluran tangan ibu guru.

20 komentar:

  1. Baik banget dia udah dicopet masih mau nraktir makan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dia mau jadi contoh teladan buat danang hehe

      Hapus
  2. Jadi malu deh Si Danang...

    BalasHapus
  3. Lho? Ibu nraktir pake apa hayooo? kan dompetnya dicopet Danang? *halah*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya sih mbak rasanya kurang masuk akal ya? saya biasanya kalo bawa uang, ga semua ditaro di dompet jadi ada cadangan gitu hehe, biasanya saya kantongin

      Hapus
  4. ibunya punya simpenan duit dlm dompet kedua di balik baju, mbak orin. hihi

    btw, masih banyak typo-nya mbak.
    dan lagi masih pakai teknik tell
    tapi overall idenya bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe tekniknya kurang nendang ya? :D

      waduh padahal udah dibaca ulang sebelum posting, kurang jeli ini mata hehe maaf atas ketidaknyamanannya

      Hapus
  5. Pendekatan yang baik dari seorang guru untuk menyadarkan muridnya :)

    Saran aja, Mbak. Karena sudah pergantian setting tempat maupun waktu, lebih baik memakai tanda bintang. Agar tidak membingungkan pembaca ^_^

    BalasHapus
  6. guru teladan nih...memberi pelajaran dengan cara yg halus dan santun walau jadi korban :D

    BalasHapus
  7. adegan pertama itu semacam adegan parkour :))))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini orang pengen parkour tapi ga kesampean jadinya ditulis di FF hehe

      Hapus
  8. Coba aja kalo gak di cerpen... Entah juga...
    hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe pasti ada guru kayak gini, pastiiii

      Hapus