Selasa, 09 Juli 2013

Prompt #20 Setelah Turun Restu

            
darahkubiru.com
“Kapan kita nikah?”
            Aku sudah bosan mengajukan pertanyaan yang sama. Kata “nikah” sudah berjamur di dalam kepala. Sepuluh tahun pacaran dengan segala hiruk pikuk pertentangan sudah kenyang kutelan. Dari awalnya sembunyi-sembunyi sampai tak mau menutupi lagi. Kalau bukan karena cinta, mana mau aku sebodoh ini?

            Setelah lelah menumpahkan ceramah dan segala bentuk amarah, akhirnya orang tuaku merestui. Namun hubungan kami belum juga resmi. Aku pasti mengerti jika seandainya yang menjadi masalah di antara kami adalah soal dana. Tapi bukan! Dia kaya, investasi di mana-mana, warisan berkelimpahan. Jelas bukan materi yang jadi perkara. Sementara aku yang sudah turun restu pun telah bersiap dari jauh-jauh hari. Bukan cuma hasil tabungan dari menyisihkan gaji, aku mendapat bantuan dari patungan keluarga.
            “Apa lagi yang kamu tunggu? Jangan ragu-ragu, kamu terlalu buang waktu! Aku sudah bilang dari awal, aku tahu konsekuensi hubungan kita. Apa lagi yang kamu takuti? Kamu akan punya sebuah keluarga. Kamu akan diterima. Orang tuaku menganggap kamu seperti anaknya sendiri. Mereka bahkan siap melindungi kamu, seperti aku. Aku akan jadi suami yang baik, suami yang penuh cinta, suami yang setia. Kamu tidak bisa menemukan orang lain yang lebih kamu percaya. Cuma aku, sayang, cuma aku. Bukannya kamu sendiri yang membuat aku yakin dengan masa depan hubungan kita? Lupakan dengan apa kata orang, mereka tidak tahu apa-apa. Karena yang tahu cuma kita, sayang.”
            Setelah aku mengoceh panjang lebar, dia masih diam sambil memutar-mutar gelasnya.
            Aku tahu apa yang merusak pikirannya. Ya, orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang bicara suka-suka tanpa tahu bagaimana faktanya. Tahu apa mereka soal cinta? Bah! Mereka cuma tahu apa yang sudah seharusnya atau pada umumnya. Mereka terlalu mainstream! Sedikit-sedikit takut jadi bahan pergunjingan, sedikit-sedikit bilang nanti apa kata orang. Kalau terus mendengar apa kata orang, kapan kita mendengar kata hati sendiri? Cinta itu tidak bisa dikotak-kotakkan. Cinta itu datang dengan sendirinya, tanpa bisa kita setir kemana tujuannya!
            “Sayang?”
            Aku mulai merajuk karena dia masih akrab dengan diam.
            Dia mengelus kepalaku dengan lembut. Dia sering bilang aku harum sekali.Padahal dia sendiri yang minta agar aku mengganti tancho yang biasa melekat di kepala dengan pomade favoritnya. Sejak pacaran dengannya, aku rajin diajak ke barbershop premium di selatan kota. Itu tempat andalannya untuk bergaya.
            “Sayang, aku mau beli minum lagi, kamu juga?”
            “Ga usah, gelasku masih setengah.”
            Kugenggam tangannya. Aku tahu dia juga lelah memikirkan hubungan kami. Ketika minumanku tiba, kami larut dengan cangkir masing-masing. Setelah jeda yang begitu panjang, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. Lelaki itu, kesayanganku, seperti cintanya rambutku pada pomade.

karya lain bisa dilihat di sini

35 komentar:

  1. Balasan
    1. Ok, berarti setting-nya bukan di Indonesia ya? Kan di Indonesia nggak bisa nikah sesama jenis.

      Hapus
    2. di sini emmang ga dijelaskan secara gamblang settingnya dimana tapi dalam pikiran saya ini indonesia hehe kenapa mereka butuh dana besar itu karena ga bisa di indonesia peresmiannya :)

      Hapus
  2. Hmmmm sebentar saya baca ulang ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa ada yg aneh atau ga konsisten ya? ga ketangkep ya mbak?

      Hapus
  3. Aku gak ngeh kalo mereka adalah homo, sebelum baca komen. trus aku mikir lagi, cluenya di tancho dan pomade ya Mbak? etapi pas baca lagi, kayaknya di barbershop itu ya :D maaf kalo aku lemot ^_^

    BalasHapus
  4. Bener kan Lin. Hampir semua cerita yang kamu buat selalu out of the box. Aku selalu gak bisa ngira- ngira gimana endingnya. Selalu bikin surprise.. Terus berkarya ! :D

    BalasHapus
  5. ah...cinta serumit ini biasanya hanya membawa luka...

    BalasHapus
  6. nah, ini tema LGBT yang lain lagi. dibumbui dengan pomade yang kenampakannya kayak es krim. *teteup* :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. es krim buat buka puasa enak ya sluurp #eh

      Hapus
  7. baru ngeh klo ini homo, setelah baca komentar :D

    BalasHapus
  8. aih, sumpah. ga ngeh kalo mereka gay. tapi kayaknya dari tahun2 lampau ya? soalnya masih pakai pomade dan tancho. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya malah gatau soal pomade sama tancho, tp katanya pomade lg in di barbershop premium, tp di ibukota hehe soalnya di kota saya ga ada sik denger2 anak cowok bahas ini :D

      Hapus
  9. wiiiiiw cinta sejenis toh :P

    BalasHapus
  10. aku tahu sih kalau dari awal ini gay... hihhi...
    tapi tancho dan pomade itu bikin nostalgia jaman embah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhahaha gitu ya? saya gatau fisiknya dua benda itu kayak gimana haha

      Hapus
  11. kok saya ga tau tancho & pomade yah :D

    BalasHapus
  12. Pamode itu apa? Heu *ketinggalan*

    Oya, ada satu paragraf kalimat langsung yang kepanjangan. Bisa dipadatkan jadi kalimat yang lebih efektif. IMHO :)

    BalasHapus
  13. Jadi penasaran sama tancho dan pomade :D

    BalasHapus
  14. Ternyata homo ... baru paham setelah baca lagi

    BalasHapus