Rabu, 28 Agustus 2013

#TributeToPram Sebuah Kesan Tentang Seorang Sastrawan

#TributeToPram

Jika saya harus menulis kesan tentang Pram, maka saya awali cerita ketika berkenalan dengan karyanya. Waktu itu saya kelas 2 SMA dan akan mengikuti sebuah lomba resensi dalam rangka memeringati Bulan Sastra. Saya sering mendengar nama Pram di mana-mana tapi menyedihkan, saya belum pernah membaca bukunya.

Akibat mendaftar lomba resensi tersebut saya pun harus membaca buku Pram. Karena ada empat buku yang akan diundi untuk diresensi tiap peserta, salah satunya adalah Gadis Pantai. Buku karya Pram tersebut saya dapat sebagai pinjaman dari guru Bahasa Indonesia. Saya pun membaca buku tersebut sampai habis.


Seingat saya, itu pertama kalinya membaca novel dengan tidak ada nama bagi tokoh utamanya. Si tokoh utama ini disebut Gadis Pantai. Bagi saya itu bukan nama. Namun saya tidak mempermasalahkan ketiadaan nama itu.

Saya terhanyut dengan kisahnya. Saya merasakan pedih dan perihnya keadaan Gadis Pantai. Apalagi endingnya yang menohok dan membuat saya memikirkan buku itu berhari-hari. Di sinilah saya mengerti kenapa buku Pram berbeda dari novel-novel lain yang pernah saya baca pada masa kini.

Saya terpikir mengapa kurikulum yang digunakan pada masa saya sekolah dulu, tidak menekankan betapa pentingnya para murid membaca dan menikmati karya-karya sastra penulis Indonesia tempo doeloe. Mengapa murid-murid tidak dibiasakan dengan bahan bacaan beragam yang menyentuh sisi humanisme sekaligus menggambarkan Indonesia pada zaman sebelum mereka ada? Bukankah dari karya-karya sastra itu para murid mendapat gambaran Indonesia yang lampau? Sehingga mereka dapat belajar dan menghargai sejarah maupun masa lalu.

Saya ingin sekali dapat menikmati karya-karya Pram yang lain. Saya juga ingin agar kurikulum maupun pendidik di lembaga-lembaga pendidikan mengenalkan tidak saja karya Pram. Namun juga karya sastrawan lain baik yang seangkatan dengan Pram maupun tidak seangkatan.

Gadis Pantai merupakan sebuah karya yang sangat menyentuh empati dan mengorak-abrik hati. Tentu buku ini memperkaya bacaan saya juga menginspirasi sekaligus membuat saya mensyukuri keadaan sebagai seorang perempuan di masa ini. Saya tak dapat membayangkan ada seorang perempuan yang masih mengalami dan merasakan yang dilalui Gadis Pantai.


Andai buku-buku Pram dan sastrawan lainnya memenuhi perpustakaan sekolah yang biasanya sekedar disesaki buku pelajaran dan ensiklopedi. Andai tidak hanya satu dua guru bahasa yang peduli tapi semua guru yang merasa perlu ambil bagian agar karya sastra Indonesia tetap lestari. Dan andai pelajar-pelajar Indonesia kini tidak asing dengan karya seorang sastrawan Indonesia yang namanya berkibar pula di mancanegara. Ya, itulah sekedar kesan yang saya punya. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway #IWriteToInspire

4 komentar:

  1. Saya mau ikutan ini juga lho, tapi belum selesai nulisnya. Good luck yaaa... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi tulisan fiksinya belum jadi mbak hehehhe

      Hapus
  2. huaaaa ngiriii bisa ikutan 30 hari ngeblog..
    klo aku udah teler tuh,hehe :p
    temanya apa tuh tiap tulisannya??
    aku isi catatan perjalanan naik gunung bisa kali ya,hehe :p
    atau koleksi foto hasil hunting,hehe..

    mampir ke EPICENTRUM
    ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. temanya bebas kok tapi hari ini ditentukan :)


      bisa dong heheheh


      iya meluncur nih

      Hapus