Sabtu, 31 Januari 2015

Karena Media Tidak Boleh Berbohong

fajarbukan.blogspot.com
Hai! Kalian suka Drama Korea? Saya akan meresensi salah satu Drama Korea, salah satu yang terbaik dari yang pernah saya tonton, tentunya selain drama kolosal. Bagi kalian yang kurang suka drama, jangan khawatir. Serial ini tidak menitikberatkan pada kisah cintanya saja kok. Baik latar belakang cerita yaitu dunia jurnalistiknya dikupas mendalam meski tetap ringan dan mudah dicerna. Oh iya, saya lupa menyebut judulnya. Yap, Pinocchio!


facebook.com/pinocchiotv
Drama ini pertama kali tayang November tahun lalu dan baru saja tamat pertengahan Januari 2015. Kisahnya mengenai Choi Dal Po dan Choi In Ha yang bekerja sebagai jurnalis di dua stasiun televisi berbeda. Mereka memperjuangkan idealisme mereka sebagai pekerja media. Tidak hanya itu, mereka pun memiliki misi membongkar kejahatan yang media lakukan pada tiga belas tahun lalu yang mengakibatkan penghakiman sosial pada sebuah keluarga. Sedihnya, tiga belas tahun kemudian tuduhan yang diberikan kepada keluarga itu tidak terbukti. Padahal kasus itu menelan korban jiwa.

Choi Dal Po (Lee Jong Suk) merupakan tokoh sentral dalam serial ini. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan identitas milik orang lain sembari membawa dendam pada orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Ia begitu membenci media karena membuat nama almarhum ayahnya rusak dan ibunya bunuh diri. Namun karena cintanya pada Choi In Ha (Park Shin Hye) yang tak lain adalah keponakannya sendiri, ia memantapkan niat menjadi jurnalis. Sebenarnya mereka bukanlah paman-keponakan sedarah. Choi Dal Po yang kecelakaan diselamatkan oleh kakek Choi In Ha dan diangkat menjadi anak.

Kenapa judulnya Pinocchio? Sebab tokoh utama wanitanya, Choi In Ha, memiliki Sindrom Pinokio. Orang yang memiliki sindrom tersebut tidak bisa berbohong. Jika berbohong, ia akan terus cegukan hingga mengakui kebenarannya. Namun sindrom ini tidak benar-benar ada.

Seringkali dalam sebuah drama atau tayangan tentang kisah cinta hanya menjadikan karakter tokohnya sebagai tempelan. Tokoh yang bekerja sebagai pengacara misalnya tidak benar-benar ditampilkan kehidupannya sebagai pengacara. Sebaliknya, kisah cinta si pengacara inilah yang diekspos habis-habisan. Jika rumus itu yang selalu digunakan oleh penulis skenario, bukankah membosankan? Semua kisah cinta akan sama saja, hanya berbeda tokohnya.

Namun Pinocchio tidak terjebak dalam kesalahan itu. Pinocchio justru benar-benar menguliti karakter-karakter dalam serialnya. Sejujurnya menonton serial ini bagi saya yang anak Komunikasi menjadi ajang flashback. Mulai dari lelahnya mencari berita, dikejar deadline, berita yang kurang memuaskan bisa kena semprot, hingga perebutan mencari yang paling eksklusif. Pinocchio menggambarkan dengan detail suka duka kehidupan para jurnalis dan tidak menampilkan mereka seperti sosok sempurna.

Namun masalah tidak sampai di situ. Setelah Choi Dal Po dan Choi In Ha terjun ke dunia jurnalistik, mereka baru menyadari bahwa mereka bisa membongkar kasus tiga belas tahun lalu. Saksi kunci dari kesalahan media ketika itu adalah ibu Choi In Ha sendiri, pembaca berita ternama Sung Cha Ok (Jin Kyeong). Ialah yang menggulirkan isu pertama kali bahwa ayah Choi Dal Po bertanggung jawab atas kematian sembilan pemadam kebakaran pada sebuah tragedi di pabrik pengolahan limbah. Pertentangan dalam batin Choi Dal Po pun terjadi. Jika ia membongkar kekejaman Sung Cha Ok, mau tidak mau ia juga akan menyakiti Choi In Ha. Meski Choi In Ha tidak pernah bertemu ibunya atau sekedar menerima kabar selama tiga belas tahun, ia begitu mengidolakan sang ibu.

Tiap episode selalu menampilkan konflik baru meski tetap berkaitan pula dengan Choi Dal Po dan Choi In Ha yang saling mencintai tapi terhalang restu karena takdir mereka sebagai keluarga. Konflik-konflik tersebut terjalin rapi, memiliki penjelasan yang masuk akal, dan tidak dibuat-buat. Melalui Pinocchio, kita dapat melihat bagaimana kebobrokan media dan pengingkarannya terhadap kontrol sosial. Media seharusnya bertanggung jawab memberitakan apa yang benar, sesuai fakta, akurat, dan telah dikonfirmasi untuk diberikan kepada masyarakat. Pinocchio justru menunjukkan sisi gelap media yang membungkam kebenaran, mengalihkan perhatian, dan memanfaatkan posisinya di masyarakat dalam menyuarakan sesuatu berdasarkan kepentingan pihak tertentu.

joonni.com
Kesalahan media tiga belas tahun lalu yang mengorbankan keluarga Choi Dal Po bukanlah tanpa disengaja. Meski Sung Cha Ok membela diri dengan mengatakan bahwa ia menyampaikan apa yang ia lihat di depan mata. Apa yang ia sampaikan adalah kemungkinan. Sayangnya, sebuah kemungkinan akan diterima sebagai kebenaran bila ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Sung Cha Ok pun tidak berusaha mengonfirmasi apa yang ia sebut sebagai kemungkinan. Ia justru terus mengorek kemungkinan itu hingga orang lupa, mana kebenaran yang sebenarnya.

Begitu pula yang terjadi pada kita. Setiap hari kita mengonsumi baik media cetak, media elektronik, maupun media siber. Sebagian dari kita belum tentu mau mengonfirmasi sebuah berita atau malah isu beredar. Berapa banyak sih dari kita yang membandingkan sebuah berita dari satu media ke media lainnya? Berapa banyak dari kita yang menerima sebuah berita dengan hati-hati, membacanya dan berusaha memahaminya hingga kita mengerti? Sudahkan kita meminimalisir kemungkinan salah paham?

Pinocchio mengajarkan pada saya bahwa sebuah isu yang dibiarkan berkembang tidak hanya mematikan nama tapi juga nyawa. Saat ayah Choi Dal Po mendapatkan penghakiman sosial, keluarganya ikut diperlakukan tidak adil. Ibu Choi Dal Po tidak bisa memberi makan anak-anaknya karena tidak ada yang mau menjual barang padanya. Kehidupan Choi Dal Po dan kakaknya menjadi tidak bahagia karena tiap kali keluar rumah, jurnalis dari berbagai media mengikuti dan berusaha memancing komentar mereka. Semua menyudutkan tanpa membiarkan mereka menjelaskan.

Pinocchio juga menunjukkan pada saya apa itu agenda setting. Opini publik dipengaruhi oleh media. Satu media cukup bersuara, media-media lain bisa jadi mengikuti gelombang, berikutnya masyarakat akan ikut termakan. Melalui pengalihan isu dan penggiringan opini publik, Sung Cha Ok berhasil menyelamatkan Ketua Park dalam mengamankan bisnisnya sekaligus kroni-kroninya, para politikus kotor. Kasus kebakaran pabrik pengolahan limbah tersebut dilakukan atas kesepakatan yang dilakukan oleh Ketua Park sebagai pemilik saham terbesar media tempat Sung Cha Ok bekerja dengan beberapa senator berpengaruh yang menelurkan kebijakan berkaitan dengan bisnisnya.

Dari sini kita dapat belajar bahwa kita perlu berhati-hati terhadap kepentingan media. Kita harus mencermati siapa pemiliknya, bagaimana kedudukannya dalam kehidupan sosial, bagaimana afiliasinya di dunia politik, dan lain-lain. Pinocchio pun menunjukkan bahwa media tidak selamanya benar atau memiliki niat murni memberikan pencerahan kepada masyarakat. Justru dengan menutupi kebenaran yang ada, media mengingkari fungsi kontrol sosialnya sehingga masyarakat pun menjadi tidak tahu kebobrokan pemerintah.

Tidak hanya media yang perlu melakukan kontrol dan menjadi pengamat atas apa yang terjadi di sekitar kita. Kita juga perlu curiga jika sebuah berita panas dan penting yang diekspos besar-besaran oleh media tiba-tiba meredup. Apakah ada sesuatu yang ditutupi? Apakah ada posisi seseorang atau sekelompok orang yang terancam? Apakah jika media terus memberitakannya, kebenaran akan terungkap?

Saat Choi Dal Po mengancam Sung Cha Ok bahwa ia tidak akan tinggal diam dalam menginvestigasi kasus kebakaran di pabrik limbah tahun ini yang ternyata memiliki kemiripan dengan kasus tiga belas tahun lalu, sang pembaca berita meragukannya. “Bisakah kau mengobarkan api yang telah padam?” Perkataan Sung Cha Ok ternyata merupakan keyakinannya bahwa kasus itu akan dilupakan masyarakat. Kasus itu tidak lagi menjadi perhatian utama masyarakat akibat munculnya berita baru yang dianggap akan lebih menyita minat. Choi Dal Po tidak membiarkannya padam. Maka ia terus menginvestigasi dan melaporkan kasus tersebut hingga masyarakat tetap ingat.

kapanlagi.com
Walau sebagai sebuah drama Pinocchio begitu serius dalam menggambarkan dunia jurnalistik, drama ini tidak berubah menjadi membosankan. Akting yang cukup mumpuni, romantisme yang membumbui, dan karakter kuat tokoh-tokoh utamanya menjadikan Pinocchio memiliki kemasan yang menakjubkan. Adukan emosinya pun tepat. Pinocchio juga berhasil memancing perasaan penonton terlebih pada kehidupan Choi Dal Po yang ironis.


Drama ini tidak menjual mimpi tentang cinta. Drama ini menggambarkan kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa di dunia, tidak segala yang kita lihat benar atau indah adalah gambaran sesungguhnya. 

6 komentar:

  1. Setuju Linda, bahwa isu yang dibiarkan berkembang, akan mematikan nama.
    Ya, aku juga pernah merasakan itu, Linda.
    Jadi ya, lebih baik, pintar-pintarlah menyeleksi berita yang kita terima :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pernah merasakannya miss?

      nah iya. seleksi :)

      Hapus
  2. saya juga nulis tentang pinocchio nih mba. tapi pembahasannya gak dalem seperti mbak. sekedar cerita gimana sukanya saya sama pinochhio aja. silahkan mak kalau mau ditengok -> http://lianurmalasari.blogspot.com/2015/01/why-do-i-love-pinocchio-so-much_16.html

    BalasHapus
  3. semua orang Indonesia mesti nonton ini biar engga mudah kemakan sama berita-berita ngeness di tivi ya mak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak. biar kita juga ga gampang ketipu di jaman kayak gini.

      Hapus