Selasa, 06 Maret 2012

Romeo-Juliet dari India


            Judul               :           Devdas
            Penulis             :           Saratchandra Chattopadhyay
            Penerjemah      :           Meithya Rose Prasetya
            Penerbit           :           Kayla Pustaka
            Tebal               :           257 halaman
            Cetakan           :           Pertama, Juni 2007

            Saratchandra Chattopadhyay adalah salah satu penulis kenamaan India selain Rabindranath Tagore. Mungkin, anda masih asing dengan namanya. Begitu pula dengan saya. Ini kali pertama saya membaca sebuah novel karangan penulis India. Namun, ini juga kali pertama saya terpesona dengan novel ala Rome-Juliet dari India. Novel Devdas sendiri saya dapat dari pinjaman seorang teman, AnnishaFathullah Jay.

            Kisah bermula dari dua orang yang bertetangga dan berkawan sejak kanak-kanak. Anak lelaki yang bengal dan kasar bernama Devdas berasal dari kasta Brahmana, bergelimang harta dan keluarganya disegani. Temannya, seorang anak perempuan bernama Parvati yang menjalani kehidupannya dengan sederhana dan berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Sejak berusia delapan tahun, Parvati telah mematri dalam-dalam di hatinya bahwa Devdas adalah kepunyaannya, miliknya yang berharga. Kemanapun Devdas melangkah, Parvati dengan senang hati mengikuti dan melayaninya. Sedikit terasa janggal memang. Hubungan pertemanan sekaligus kakak-beradik ini kurang seimbang. Parvati memosisikan diri seakan ia pelayan dan Devdas bisa berlaku seenaknya. Salah satu contohnya, Devdas tak segan melukai Parvati dengan memukulinya ketika ia marah.
            Hubungan mereka diperumit oleh kenyataan kedua orangtua Devdas tidak merestui bila mereka menikah. Selain perbedaan kasta, menikah dengan tetangga dianggap hal memalukan. Akibat penolakan dari keluarga Devdas, keluarga Parvati pun mempersiapkan pernikahan antara Parvati dengan seorang duda kaya raya dari tempat yang jauh. Kenyataan ini membuat Devdas goyah dan hancur. Ia yang merasa tidak mencintai Parvati dan tidak peduli pada pernikahan Parvati ternyata merasakan sebaliknya. Ia kembali ke Kalkutta, tidak untuk melanjutkan pendidikannya tetapi menceburkan diri dalam dunia minum minuman keras. Di saat-saat terberat dalam hidupnya, hadir seorang pelacur, Chandramukhi, yang mencintainya dengan luar biasa dan mau melakukan apa saja untuknnya. Sekali lagi, Devdas menghadapi seorang perempuan yang mencintainya dan memujanya.
            Awalnya, novel setebal 257 halaman ini terasa asing. Selain nama-nama India―beberapa sulit dalam pengucapan―yang berseliweran, masalah lain adalah kedudukan perempuan maupun sistem kasta yang tidak akrab bagi sebagian besar dari kita. Hubungan Devdas-Parvati sendiri telah menunjukkan penghambaan berlebihan seorang perempuan kepada lelaki yang justru digambarkan tak tahu diri dan cenderung merendahkan orang lain. Sementara hubungan Devdas-Chandramukhi menunjukkan kebutuhan dalam arti yang berbeda. Devdas membutuhkan Chandramukhi yang memahaminya dan mencintainya sekaligus membencinya dan menghina profesinya. Chandramukhi membutuhkan Devdas meski ia hampir tak punya rasa hormat dan penghargaan dari lelaki itu. Melalui ocehan-ocehan Devdas di kala mabuklah Chandramukhi pun mengenal sosok Parvati, perempuan yang menjadi tujuan terakhir sebelum ajal menjemput Devdas.
            Tak salah bila novel Devdas disebut seperti Romeo-Juliet, Siti Nurbaya, dan Layla-Majnun. Bila harus memilih satu kata, secara keseluruha novel ini patut digambarkan sebagai "tragis". Bukan hanya emosi maupun konflik antartokoh yang membentuk rantai masalah sambung menyambung. Hal-hal yang berkaitan dengan adat dan norma, budaya, agama, maupun sosial-ekonomi diungkit. Semisal, kebiasaan Parvati menyentuh kaki Devdas yang juga dilakukan Chandramukhi maupun sentuhan di kepala antara Parvati dan suaminya sebagai tanda pemberkatan. Bagaimana pada usia tiga belas tahun dianggap waktu yang cukup bagi kedua orangtua Parvati untuk mencarikannya seorang suami entah itu perjaka atau duda. Juga sikap merendahkan diri Parvati terhadap anak perempuan tirinya dengan menyebut diri sebagai si miskin.
            Walaupun berupa novel percintaan, Devdas tak boleh dibilang menghimpun romantisme belaka. Justru banyak masalah-masalah tak terselesaikan dan tak berujung dalam novel ini. Misal, ketika Devdas merasa hidupnya penuh rasa hampa dan sakit, Chandramukhi membuka cakrawala berpikirnya dengan berkata, "Kalianlah, laki-laki, yang memuja perempuan tanpa akhir, lantas kalian pula yang menyalahkan mereka dan menjatuhkan mereka dari singasana pemujaan," (hal 175). Pada titik ini, Chandramukhi mencoba mengeluarkan keremangan dalam hati Devdas mengenai kebimbangannya hidup tanpa Parvati yang telah berkeluarga.
            Saya sendiri merasa kesal sekaligus hanyut pada tokoh Devdas. Jarang menemukan seorang novelis menjadikan lelaki bajingan malang yang susah diatur  (hal 252) seperti Devdas menjadi tokoh sentral dan justru dicintai dua perempuan dengan latar belakang jauh berbeda. Ia yang menolak tawaran Parvati untuk kawin lari tapi ia pula yang jatuh dalam kubangan lumpur pesakitan akibat keputusannya. Hingga mendekati akhir hayatnya, ia menjadi kesepian dan penuh derita. Ia punya ibu, kakak, Paro―panggilan akrab Parvati―yang lebih dari sekedar adik baginya, dan Chandramukhi. Ia memiliki banyak orang, tapi tak seorangpun yang memilikinya (hal 237). Devdas memutuskan tidak menikahi Parvati maupun Chandramukhi.
            Namun novel Devdas memberi kesegaran dan cara pandang  lain terhadap topik kasta, sosial-ekonomi, maupun kedudukan perempuan di India. Tokoh Parvati layak diacungi jempol. Meski jelas keluarga Devdas menolaknya menjadi menantu akibat sistem kasta, ia tak patah arang dengan mengajukan diri menikah dengan Devdas. Devdas tidak berani menerima risiko kawin lari ataupun memaksakan restu dengan kawin baik-baik karena ia tahu itu menyakiti kedua orangtuanya. Di sini terjadi metamorfosa sosok Parvati yang awalnya selalu takut dan berusaha menuruti kemauan Devdas. Ia menunjukkan kedewasaan dan harga dirinya. Ia tak malu bila apa yang diperjuangkan maupun diinginkannya dapat mencoreng wajahnya.
            Devdas berakhir tragis dalam usaha terakhir Devdas menemui Parvati. Tarikan nafas terakhir Devdas dilakukannya di halaman rumah suami Parvati dengan mulut dan hidung mengucurkan darah. Digambarkan, mayat Devdas tidak disentuh orang hingga para pembakar mayat harus mengambilnya lalu berakhir mayat gosong Devdas dicabik anjing dan serigala.
            Devdas telah menjadi secuil potret kisah cinta dua anak manusia di tanah India yang begitu berkesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar