Minggu, 22 April 2012

Ketika Media Menjadi Pembunuh


http://en.wikipedia.org/wiki/Mad_City_(film)

            Media dapat mengubah hidup seseorang. Media dapat berperan dalam membesarkan atau menjatuhkan nama seseorang. Kira-kira itulah sebagian pesan dari film Mad City yang dibintangi oleh John Travolta dan Dustin Hoffman. Film ini tidak sekedar menunjukkan kisah seorang satpam yang dipecat lalu bertindak nekat akibat frustasi kehilangan pekerjaannya. Mad City juga menunjukkan betapa media berperan besar dalam membangun bahkan menggiring opini dan keberpihakan masyarakat.
            Dikisahkan, Max Brackett (Dustin Hoffman) dan rekannya Laurie mendapat tugas meliput sebuah museum. Max Brackett mewawancarai kurator musem tersebut, Nyonya Banks. Ketika Max berada di toilet museum, ia melihat Sam Baily (John Travolta) mengeluarkan senapan dan terlibat sedikit adu mulut dengan Nyonya Banks. Sam yang merasa Nyonya Banks tidak mau memberinya kesempatan bicara melepaskan sebuah tembakan yang mengenai Cliff, satpam museum yang juga kawannya. Sementara di dalam toilet, Max mengabarkan keadaan genting di dalam museum kepada atasannya di kantor berita KXBD. Kemudian mereka membuat siaran langsung dan pembaca berita di studio berkomunikasi dengan Max melalui sambungan telpon di dalam toilet museum.

            Sam yang terkejut melihat van kantor berita KXBD di muka museum segera menyalakan televisi. Ia semakin terkejut mengetahui perbuatannya ketahuan dan tengah disiarkan dalam siaran langsung. Akhirnya Sam menemukan Max di dalam toilet. Di sinilah dimulai drama baru ketika Max meminta Sam memberi masyarakat kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi melalui sudut pandang Sam. Max menyarankan sebuah wawancara eksklusif di dalam musem, di antara sekelompok pengunjung museum yang kebanyakan anak-anak dan sang kurator yang disandera Sam. Sam menyetujui rencana itu dan berbicara di depan kamera bahwa ia tidak bermaksud melukai Cliff. Ia hanya ingin pekerjaannya kembali. Ia ingin mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Tanpa pekerjaan, ia takut membayangkan kehidupan anak istrinya kelak.
            Langkah Max cukup berhasil dalam mendongkrak citra positif Sam di mata masyarakat. Hingga Hollander, salah satu pesaing Max, mencoba membalik opini publik. Sam pun terdesak ketika isu rasial muncul karena Cliff yang tak sengaja ia tembak, berkulit hitam.
            Ide cerita film ini menarik dan jarang ditemukan. Meski sejak awal kisah yang ditampilkan adalah Sam dan penyanderaan dalam museum yang ia lakukan, kenyataannya pesan-pesan yang disisipkan dalam film ini tidak menjadi tenggelam. Keberadaan dan kemampuan media dalam bertindak dan mendorong tindakan masyarakat terlihat jelas. Wawancara eksklusif Max terhadap Sam Baily membuatnya menjadi terkenal. Di sisi lain, Hollander pun melakukan hal yang sama dengan cara berkebalikan. Jika Max memperjuangkan citra positif dan meminta masyarakat melihat Sam sebagai warga biasa, Hollander mencoba mematahkan anggapan itu dengan meniupkan berita tentang Sam yang harus dihadapi secara hati-hati.
            Siapa yang menang dan siapa yang kalah? Menurut saya, semua pihak dalam film ini telah kalah. Seseorang yang begitu terpengaruh terhadap pemberitaan media atas dirinya dapat mengalami tekanan sangat besar yang membuatnya tak mampu berpikir jernih. Dalam beberapa adegan terlihat media seringkali berlebihan dalam mengeksploitasi subyek maupun obyek berita. Media dapat membuat sebuah berita bergulir sesuai keinginannya. Siapa yang menguasai informasi tentulah menguasai permainan. Sam tidak hanya menjadi korban atas kecerobohannya sendiri melakukan penyanderaan. Sam juga menjadi korban dari pemberitaan media habis-habisan dan tidak sepenuhnya berasal dari sumber yang kompeten. Misalnya, seorang pria yang diwawancarai dan mengakui sebagai teman dekat Sam mengatakan hal buruk tentang Sam sekalipun sebenarnya mereka tak saling kenal.
            Seseorang yang terpojok dan merasa tidak punya harapan serta tertolak bisa saja bertindak nekat. Termasuk Sam yang memilih bunuh diri dengan dinamit. Ketika ia meledakkan diri, Max ikut terlempar dan terluka di bagian kepala. Ironisnya, saat Max ingin membersihkan darah yang mengucur di kepalanya, Laurie melarang. "Itu nampak bagus untukmu," ujar Laurie yang awalnya mendukung perjuangan Max dalam membantu mencitrakan Sam. Laurie telah pindah menjadi repoter stasiun TV CTN yang digawangi Hollander.
            Ketenangan dan kepintaran yang ditonjolkan tokoh Max betul-betul mengena bagi saya. Ia tidak mencoba tampil heroik meski ia satu-satunya lelaki yang berada di dalam museum. Ia justru berusaha menguntungkan posisi Sam dan bertindak halus agar Sam mau menyerahkan diri. Sebaliknya, tokoh Cliff pun digambarkan menarik karena ia tidak mempersalahkan kejadian salah tembak yang dilakukan Sam. Namun tetap, porsi media menyita perhatian. Persaingan antarmedia dan bagaimana media memanfaatkan sebuah momen yang dianggap bernilai berita besar. Adegan penutup terasa sedikit menohok ketika Sam yang bunuh diri dan Max berteriak "Kita membunuhnya!" Ya, media benar-benar mampu membunuh seseorang dengan kedigdayaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar