Rabu, 29 Agustus 2012

[Katanya Sih] Tidak Ada yang Sia-Sia Di Salemba



            "Mbak, dulu waktu nerbitin buku pake akta notaris?"
            "Ga tuh."
            "Tapi di website perpusnas, disuruh pake akta."
            "Ah, gapapa kok. Dulu saya ke sana gampang. Ga pake kata notaris segala. Cuma kudu punya stempel penerbitan. Bikinnya kira-kira 60 ribu."
            Kira-kira inilah percakapan saya dengan seorang mbak penulis yang jadi tempat saya bertanya tentang ISBN. Awalnya saya bingung. Urus ISBN bisa tanya ke siapa? Banyak pertanyaan yang menggumpal di kepala. Googling pun tidak puas rasanya. Namun setelah bertanya ke mbak penulis tadi, saya jadi tenang. Toh dia sudah menerbitkan kumcer dengan ISBN hasil usaha sendiri ke Salemba. Di blog lain saya juga pernah membaca, katanya urus ISBN mudah dan pegawainya juga ramah.
            Ramah?
            Ramah sih.
            Tapi….
            Kok pakai tapi?
            Bayangkan seorang mbak-mbak berbaju pink dengan senyum terkembang dan mengucapkan kata "tapi" penuh penekanan. Sama rasanya kalau kamu diajak keliling kebun raya jalan kaki pakai hak tinggi lima belas senti.

            Saya pernah ke kebun raya, kurang dari lima kali, sayangnya belum puas keliling sampai ke ujung-ujungnya dan belum pula pakai hak tinggi lima belas senti.
            Hal pertama yang saya pelajari hari ini: excited bisa mengakibatkan berbagai komplikasi. Kalau kamu tidak mengendalikan semangat kamu yang meonjak-lonjak padahal belum sampai finish, kamu bisa kecewa. Dan hal kedua yang saya pelajari: kamu akan semakin kecewa saat kamu ngotot. Udah ngotot, salah lagi.
 Mbak-mbak : "Sudah bawa persyaratan?"   
 Teman saya : *ngeluarinberkas* "Kami bawa surat permohonan, surat pernyataan, terus bawa….."
 Mbak-mbak : "Coba saya cek dulu."
Sampai dia berucap begini, saya mulai deg-degan. Kok jadi pesimis….. Ah, tapi banyak yang bilang, gampang kan ngurusnya?     
 "Semua sudah lengkap sih, bagus…"
Kalimatnya kepotong lagi. Coba dengar lanjutan kalimat berikutnya…..
 "Tapi mana akta notarisnya?"
Saya   :  *denganbodohnyangotot* "Tapi mbak, saya tanya ke teman yang punya penerbitan, katanya ga perlu akta notaris. Dia ngurus sendiri  waktu itu ke sini."
Mbak-mbak     :           "Tapi kan ada penjelasannya di website. Coba baca dulu."
            Saya dan teman-teman diam. Kami membaca. Sebetulnya percakapan kami tidak sedatar ini. Saya sempat ngotot-ngototan. Si mbak di belakang meja bilang kalau persyaratan yang diminta itu gampang. Katanya, pernah ada sebuah penerbitan yang mengurus akta notaris cuma sehari. Paling lama dua minggu.
            Gampang sih gampang.
            Saya dituntun keluar. Tapi kami tidak meninggalkan gedung. Kami cuma duduk di lobi menikmati pendingin ruangan. Siapa tahu kepala saya yang dicurigai agak berasap bisa mendingin. Kami tidak tahu apapun soal cara mengurus akta notaris. Sampai akhirnya salah satu dari kami bertanya pada ayahnya. Teman ayahnya yang seorang notaris mengatakan, untuk pengurusan akta bisa keluar dua belas juta.
            Sama saja dengan bayar kuliah empat semester.
            "Tenang aja, Lin, ga pake ISBN juga buku ini bisa terbit kok."
            "Mungkin kalian ga bakal kecewa kalo ngurus ISBN itu ga jauh-jauh ke Salemba, cuma ke Sempur." (Sempur itu dekat kampus kami)
            "Tapi dari semua buku yang gue baca, gue liat ada ISBN-nya."
            "Kalo lu beli buku di stasiun, ga bakal ada ISBN-nya." (stasiun Bogor, pasar buku bekas sekaligus buku aspal)
            Percakapan kami tumpang tindih, antara saling menyemangati dan menguatkan diri. Sampai sore, keputusan kami sih menerbitkan tanpa ISBN. Toh nanti bisa kami urus sambil jalan. Atau menerbitkan lewat self publisher yang menyediakan jasa pengurusan ISBN dengan harga murah.
            Satu hal yang saya sukai dari ucapan teman saya, "Tidak ada yang sia-sia di dunia ini." Setidaknya kami tahu di mana gedung perpusnas berada. Setidaknya kami tahu jalan bila lain waktu ke sana. Setidaknya kami iseng mau mencoba rasanya mengurus sendiri kebutuhan kami. Setidaknya.
            Setidaknya saya tahu, warna pink tidak selalu membawa keceriaan.
           
catatan : kami berempat adalah saya, carly, rani, amal



9 komentar:

  1. hahahaha, setidaknya kita masih bisa tersenyum lebar sambil bilang "makasih paak" ke satpam. seolah-olah ISBN kita sukses :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada mukanya yg lebih kusut dari gue gitu deh hahahah langsung masuk lift. jadi gue masih tahap wajar
      #bapakbapakyangtadi

      Hapus
  2. kalau yakin ke arah yang bener, langkah sekecil apapun adalah berarti. It's progress, but a little. tetap semangatttt....

    BalasHapus
  3. dua belas juta? hm, kalau sekali nerbitkan dapet laba buku nggak sampai angka segitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu.kan malesin ya miss.hahahahahahha.saya tuh cuma kepikiran kalo akta2 begituan duitnya berapa.saya belum berpenghasilan, saya belum punya nama besar di dunia nulis.siapa yang mau beli buku ampe kami berlima dapat laba dua belas juta?ngaco kali hahahha

      Hapus
  4. Whaaattt??? Kok bisa pake akta notaris segala??? *garuk2 kepala* Ya ampun, itu persyaratan baru ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi merasa bersalah ini, berarti info yang di blog J50k itu harus diralat, pakai akta notaris. Ngurus ke perpusnasnya sendiri yg gratis.

      Hapus
    2. hehehehhehe tenang aja mbak, gapapa.awalnya linda kira dari ngerayu sampe ngotot bisa sukses.eh si mbak baju pink ternyata ga sependapat.gapapa, pengalaman jalan2 ke salemba #eh :D

      Hapus