Selasa, 08 Januari 2013

Bukan Orang Pertama

http://www.shutterstock.com/pic-116034259/

            Ini selalu menjadi rutinitas tiap pagi. Bangun tidur, membereskan kasur, lalu beranjak menuju kalender di tembok kost-kostan yang telah menguning. Kucek tanggal berapa sekarang dan adakah catatan untuk hari ini. Jangan heran dengan kebiasaanku. Maklum, seorang pelupa sepertiku harus rajin-rajin mencatat rencana yang akan kulakukan di kalender.
            Ini tanggal delapan. Bertepatan dengan hari ulang tahun adikku satu-satunya. Adik lelaki kesayanganku. Ia tinggal jauh di desa, bersama nenek kami. Orang tua kami sudah lama pergi. Tinggal aku yang ia miliki. Sehingga ia begitu menggantungkan harapannya tinggi-tinggi padaku. Seperti misalnya beberapa waktu lalu.

            “Kak, kapan pulang?”
            “Masih lama, dek. Kakak belum libur. Harus UAS dulu.”
            “Kapan UASnya?”
            “Tiga minggu lagi dek. Kenapa?”
            “Kakak bisa kirim uang? Uangnya mau aku pake beli sepatu futsal. Aku mau ikut lomba futsal. Tapi ngga punya sepatunya.”
            “Uang yang dua minggu lalu kakak kirim, habis?”
            “Dipakai buat biaya berobat nenek.”
            “Kok kamu ngga telpon kakak kalo nenek sakit lagi?”
            “Kata nenek, kakak lagi banyak tugas. Kasihan kalo diganggu.”
            Uang pensiun seorang janda veteran tidaklah seberapa. Apalagi keadaan nenek yang sakit-sakitan membuat kebutuhan kami membludak. Sembari kuliah, aku bekerja serabutan demi mengumpulkan sedikit uang. Beruntung aku berhasil mendapatkan beasiswa sehingga beban keuanganku sedikit lebih ringan.
            Adikku memang suka olahraga. Walau nilai akademiknya biasa-biasa saja, aku tak peduli. Hal itu tak membuatku malas mendukungnya. Aku tetap bangga dengan keahliannya menggocek bola. Mungkin bagi orang-orang sepertiku yang datang dari keluarga sederhana, cita-cita menjadi atlit tidaklah menjadi sesuatu yang cocok dijadikan tujuan masa depan. Namun asal ia bahagia dengan yang dilakukannya, sudah cukup beralasan bagiku untuk memperjuangkannya.
            Sayangnya, tiga minggu terakhir aku benar-benar tidak punya kemampuan mengumpulkan uang membeli sepatu futsal untuk adikku. Beberapa kali aku menelponnya, menceritakan kesulitanku saat ini, dan ketidakmampuanku memenuhi permintaannya. Dengan berbesar hati adikku berkata ia akan ikut turnamen lain waktu. Aku beruntung memilikinya sebagai adikku.
            Tugas kuliah yang begitu banyak menghadangku untuk mencari nafkah. Otakku menjadi buntu. Kalau uangnya tidak terkumpul dari sekarang, libur akhir semester nanti pun aku terancam tak bisa pulang. Padahal aku harus segera ke desa. Aku harus membantu adikku merawat nenek.
            Di tengah kebimbangan, aku melihat sebuah poster di majalah dinding kampusku. Mataku berbinar-binar. Akhirnya, sebuah jalan keluar! Poster lomba menulis cerpen dengan hadiah uang tunai menggiurkan. Uangnya sangat cukup untuk membeli sepatu futsal sekaligus ongkos pulang.
            Sepulang dari kampus, dengan semangat aku mulai merangkai kata-kata. Setelah mengirim soft copy-nya kepada dewan juri, aku harap-harap cemas menunggu pengumuman lomba. Optimismeku tumbuh. Aku yakin, ini jalan dari Tuhan. Ia memberiku bantuan karena tahu aku akan berusaha untuk adikku. Senyum terus mengembang di wajahku menanti pengumuman lomba.
            Dan hari pengumuman tiba.
            Buru-buru aku melihat pengumuman pemenang di website. Namaku tertera! Aku menang! Rencanaku berhasil! Dengan penuh syukur aku mengambil uang hadiah lomba dan segera membeli sepatu futsal yang diidam-idamkan adikku. Kubayangkan kebahagiaan yang muncul di matanya dan senyum lebar yang terbit di wajahnya.
            Singkatnya, aku sampai di desa. Sepatu futsal itu kubungkus rapi dengan kertas coklat. Kusembunyikan di dalam koper berisi baju. Kupanggil adikku ke kamar dan kusuruh ia membuka kopernya.
            “Oh ya, kak, aku mau cerita.”
            “Cerita apa?”
            “Aku dikasih penghargaan sama kepala sekolah sebagai murid berprestasi di bidang nonakademik, lho!”
            “Iya? Wah, bagus dong?”
            “Terus aku bukan cuma dikasih piagam. Aku juga dikasih sepatu futsal!”
            “Sepatu futsal?”
            “Iya, sepatu futsal. Sekarang aku punya sepatu futsal sendiri, kak. Eh, kak, ini yang dibungkus kertas coklat, apa ya?”
            Aku memandang keluar jendela. Hadiah sepatu futsal dariku sudah basi. Adikku sudah punya sendiri. Aku bukan orang pertama yang memberi.
***
Selamat ulang tahun Lerick J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar