Jumat, 15 April 2016

Untuk Eyang

“Eyang sudah makan? Sudah diminum obatnya?”

“Hmm.”

“Pakai pampers kan?”

Eyang malah berceloteh hal lain. Ia mengomentari pemberitaan media yang terus menyinggung-nyinggung masalah relokasi. Tangannya memencet-mencet remote, mengubah saluran televisi. Namun di semua saluran beritanya sama saja. Mungkin ia bosan atau tidak tertarik dengan topiknya.


“Eyang sudah baca koran baru?”

“Tadi udah tak bolak-balik tapi gelap. Ga keliatan.”

“Aku geser ya kursinya ke dekat jendela? Jadi lebih terang. Bisa kelihatan tulisan di korannya.”

“Boleh-boleh.”

Kudorong kursinya mendekat menghadap jendela. Eyang lalu duduk, mulai membuka-buka koran.

“Lupa, kacamataku,” eyang terkekeh-kekeh.

“Nanti aku ambilkan. Eyang duduk aja.”

Setelah yakin eyang sudah asyik membaca, kutinggalkan eyang untuk makan siang. Kuhitung-hitung, tempe yang kugoreng tadi pagi masih utuh. Eyang belum menyentuhnya.

“Kok eyang belum makan?”

“Nanti ajalah.”

“Bosan ya? Lagi mau makan apa?”

“Terserahlah. Apa aja.”

Katanya apa saja tapi disediakan ini itu pun tak disentuhnya. Kadang aku bingung sendiri bagaimana mengurus orang tua. Ada banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi kalau soal memilih makanan. Makanan itu tidak boleh keras atau pedas. Makanan itu juga tidak boleh mengandung susu atau keju. Makanan itu juga bisa berdampingan dengan nasi. Jadi roti, mie, dan pasta tidak termasuk. Eyang juga tidak suka buah-buahan yang memiliki bau tajam maupun telur. Satu lagi, eyang mudah bosan. Tidak ada pilihan yang benar-benar aman. Ia lebih sering tidak nafsu makan. Tidurnya juga tidak nyenyak karena keinginannya untuk buang air kecil yang bisa mencapai hingga lima kali tiap malam membuatnya terus terbangun. Susahnya lagi, eyang sangat tidak suka memakai pampers sehingga kadang ia ngompol karena tubuhnya tidak cukup gesit untuk pergi ke toilet.

Aku lebih suka kalau ia tidak menua.

Kurasa bukan tulang rapuhnya atau kulit keriputnya yang menakutiku. Tapi fakta bahwa aku kesulitan memahaminyalah yang menyiksaku.

“Eyang, kalau ngantuk dimatikan saja tevenya.”

“Siapa yang ngantuk?”

“Itu eyang tidur?”

Ga kok aku ga tidur.”

“Eyang kan tadi sudah salat isya. Sudah makan juga. Tidur aja, ga ada yang larang.”

Aku tidak berani mematikan televisi karena eyang akan cemberut. Serba salah sekali rasanya mencoba menanggapi secara tepat perilaku orang setua eyang. Kukira hanya mengasuh bayi saja yang sedikit merepotkan karena tangisannya yang kadang kusalahartikan.

Aku seringkali tak tega harus sibuk kuliah di luar kota sehingga jarang bertemu eyang. Aku hanya punya waktu di libur semester seperti sekarang. Biasanya eyang hanya didampingi sepupuku yang masih SMA, Abdi juga orangtua Abdi dan seorang asisten rumah tangga.

Setiap hari, Abdi pulang mendekati malam. Ia sibuk dengan sekolah dan les-les mata pelajaran dengan jadwal padat. Di akhir pekan ia lebih banyak tidur di kamar atau bermain video game berjam-jam. Om dan tanteku sibuk bekerja. Berangkat pagi pulang malam. Kalaupun sudah di rumah mereka akan mencari kesempatan beristirahat seperti tenggelam dalam buku-buku atau koleksi film-film yang terlupakan akibat sibuk bekerja. Asisten rumah tangga itu tidak bisa dihitung karena dia selalu memiliki sesuatu yang harus dikerjakan.

Pendek kata, eyang selalu kesepian.

Bahkan saat di sampingnya pun seringkali aku lupa kalau ia ada. Aku lupa, selama satu semester kuliah dengan segudang aktivitas benar-benar menyita pikiran dan tenaga. Akhirnya, di masa liburan seperti saat ini, aku terlalu lelah untuk diajak bicara. Menonton berita adalah hal yang aku benci karena itulah salah satu yang harus kulakukan selama masa kuliah agar selalu up to date. Membaca koran jelas lebih menyiksa otak karena tugas kliping yang harus dikumpulkan seminggu sekali sudah menimbulkan trauma permanen. Kebanyakan yang kulakukan adalah kegiatan yang tidak membutuhkan banyak perhatian dan bisa membantuku lebih rileks menghadapi semester depan.

“Ha? Gimana?”

Aku menatap eyang sambil tersenyum. Pasti aku tak sadar lagi kalau sedang diajaknya bicara. Kalau ia sudah mulai bertanya, aku cuma sanggup menyunggingkan senyum. Ia tertawa. Lalu eyang melanjutkan ceritanya yang karena tak kuikuti sejak awal sehingga aku tak paham mengenai apa sebetulnya yang tengah dibahas.

Aku merasa ulu hatiku ditonjok.

Mataku menatap tembok. Ada banyak foto. Abdi dan om tante. Aku dan almarhum kedua orangtuaku. Aku, Abdi, dan eyang. Eyang yang selalu ceria merawatku sejak kecil setelah kedua orangtuaku pergi. Eyang yang menemaniku tiap malam karena beberapa tahun pertama setelah kecelakaan tragis yang hanya menyisakan aku membuatku mimpi buruk dan terus memanggil ibu dalam tidurku. Eyang yang menemaniku belajar hingga aku lulus SNMPTN dan masuk PTN favorit.

Sepertinya selalu ada eyang untukku.


Tapi, di mana aku untuk eyang?

2 komentar:

  1. Tentu kamu selalu ada di hati Eyang, sebagai cucu tersayang. Meski tidak selalu disampingnya, aku yakin doa - doamu selalu menyertainya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini fiksi lho, aku ga punya eyang :v punyanya mbah sama nenek.

      Hapus