Senin, 27 Februari 2012

Di Atas Kereta Api


Ini merupakan perjalanan pertama saya dengan kereta api. Biasanya, saya menggunakan mobil sewa atau menumpang mobil teman. Meskipun distrik tujuan saya kali ini adalah distrik terdekat dengan distrik tempat saya tinggal, saya tidak biasa melakukan perjalanan dengan kereta api. Selain tentu akan lebih menghemat biaya jika saya menumpang di mobil teman, saya jarang memiliki keperluan untuk secara khusus datang kemari. Ini distrik yang besar, tidak sebesar distrik tempat saya berdiam selama sepuluh tahun terakhir. Namun tidak banyak yang bisa saya lakukan di sini kecuali menghadiri pernikahan seorang teman.



Saya hanya perempuan biasa, hidup dengan gaji seadanya dari hasil mengabdi sebagai guru di sebuah sekolah sederhana yang kalau tidak bisa dibilang hampir tak layak. Bangunan sekolah merupakan bangunan tua dan rapuh. Langit-langitnya rusak, pagar temboknya telah roboh, dan halaman sekolahnya telah berubah menjadi sawah. Dulunya, bangunan ini hanyalah gudang untuk penyimpanan sementara sembako bagi warga tidak mampu yang mendapat subsidi dari pemerintah. Sehingga bangunan ini tidak cukup layak sebagai tempat menghabiskan waktu selama lima jam sehari untuk bersekolah.


Kereta berjalan melambat dan berhenti di sebuah stasiun kecil. Ini stasiun ketiga yang disinggahi kereta api yang saya tumpangi. Karena saya berdiri di dekat pintu,saya mendapat pemandangan jelas aliran orang keluar masuk kereta ini. Lalu masuk sepasang suami istri, duduk tidak jauh dari tempat saya berdiri. Sang istri menggendong bayi lelaki yang tengah lasak-lasaknya dan sang suami membawa tas perlengkapan bayi, payung, serta jaket dengan tudung kepala berhiaskan telinga beruang. Jaket yang lucu untuk seorang bayi yang lucu. Keadaan kereta yang asak membuat sang suami mengalah dan berdiri membiarkan istrinya duduk.


Si bayi benar-benar tak mau diam. Setelah berdiri beberapa lama memandang jendela, ia minta turun. Ia sangat lincah, kakinya terus bergerak ingin melangkah kesana kemari. Ayah ibunya nampak kelelahan. Selain sulit bergerak karena padatnya penumpang, udara panas ditambah terik matahari di luar kereta membuat keduanya dibanjiri peluh. Ayahnya mengelap keringat dengan sapu tangan. Refleks, saya pun mengelap butir keringat pada kening. Oh, panasnya! Kemarau yang menyiksa!


Teman seperjalanan saya, seorang perempuan berkaca mata tebal dengan edisi koran baru di tangannya yang saya kenal sejak di stasiun mengamati si bayi dengan takjub. Ah, bayi yang tampan! Beberapa orang mulai memperhatikan si bayi dengan berguman kecil. Ibunya terlihat bahagia, menyadari perhatian orang-orang terhadap bayinya. Ibunya tersenyum pada saya dan mengangkat si bayi. Bayi itu memamerkan keempat gigi mungilnya. "Siapa namamu, tampan?" tanya saya. "Diego, tante," sahut ibunya cerita. Tiba-tiba Diego meraih ke arah saya. Dengan cepat, kacamata saya lepas dan telah berada dalam genggamannya. "Diego, sayang, jangan nak," ayahnya segera mengembalikan kacamata saya. Teman seperjalanan saya tersenyum. Ia membetulkan letak kacamatanya dan mencoba berhati-hati agar Diego kecil tidak tertarik melakukan hal serupa padanya. Namun Diego anak yang ramah. Tidak pada saya, ia pun tersenyum dan memamerkan giginya pada tiap orang yang menyapa atau mengelus pipinya yang selembut mentega.


"Waktunya makan, sayang," ibunya mendudukkan Diego kecil di samping teman seperjalanan saya. Perempuan itu membantu ibu Diego dengan memegangi tubuh Diego. Si bayi masih menggerakkan kaki dan tangannya, menolak diam. Ayahnya mengeluarkan kotak makan kecil dan sendok sementara ibunya menyiapkan termos kecil dan bubur bayi instan. Setelah menyeduh, mengaduk, dan memeriksa suhu bubur instan―dengan meletakkan sesuap di bibirnyaibunya menyorongkan sesendok pada Diego. Wajah Diego berubah agak merah. Ia mengeryit dan menggaruk ujung hidung. Beberapa penumpang kereta api tertawa. Ternyata buburnya masih terlalu panas! Ibu Diego kemudian menuangkan air tambahan ke dalam bubur. Sekarang Diego bisa makan.


Teman seperjalanan saya, si wanita berkacamata tebal, ikut repot dibuatnya. Ia memegangi Diego yang didudukkan di kursi sementara perempuan lain yang duduk di sisi lain Diego membantu memegangi botol dot Diego yang berisi air putih. Ayahnya sibuk membantu menjaga keseimbangan istrinya.


Sepanjang perjalanan di atas kereta, kami semua memusatkan perhatian pada Diego. Betapa bayi kecil lucu itu membuat perjalanan tidak menjemukan. Betapa saya tidak merasa lelah meski sepanjang jalan berdiri dan bergoyang mengikuti irama laju kereta, kadang didorong atau disenggol orang yang lewat. Sementara ayah dan ibunya berjuang merayu Diego menghabiskan makanan. Teman seperjalanan saya, si wanita berkcamata tebal, nampak mengacuhkan koran edisi barunya. Perempuan yang duduk di sisi lain Diego siap sedia menyodorkan botol dot air putih bila Diego membutuhkan minum.


Seorang bayi seperti Diego bisa menyita perhatian kami. Padahal, ia hanya seorang bayi. Tapi lihatlah, ia mengakrabkan kami.


Kereta berhenti di stasiun terakhir. Saya telah sampai. Dari sini saya masih harus menyambung perjalanan dengan bus kota menuju gedung resepsi. Saya melambaikan tangan pada Diego. Bayi itu tertawa, masih tetap lincah, bergerak dalam buaian ibunya. Buburnya telah habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar