Minggu, 29 April 2012

Lamaran Jono


shutterstock.com/pic-6636634
            Boys will be boys. Sialan. Persetan. Siapa orang sok tahu yang berani membuat pepatah demikian? Siapa makhluk sok pintar yang berani menganggap semua anak lelaki akan tetap menjadi bocah lelaki? Tahu apa dia, memangnya dia sudah melakukan survei terhadap laki-laki di seluruh dunia? Pasti dia tidak tahu dampak dari perbuatannya, membuat slogan itu!
            "Kata orang, lebih baik perempuan menikahi laki-laki yang lebih tua dibanding dirinya. Laki-laki tidak setahan banting perempuan. Laki-laki tidak sedewasa perempuan. Karena seorang perempuan akan mudah mengubah diri menjadi seorang wanita dewasa, seorang perempuan akan menjadi ibu bagi anaknya. Ketika seorang perempuan memiliki anak, akan tumbuh rasa tanggung jawab dan ingin mengayomi dalam hatinya. Sehingga ia segera menyesuaikan diri dan paham betul posisinya. Apa kamu percaya?" Aku bukan percaya. Aku nelangsa.

            "Kamu tahu? Seorang perempuan yang menikah muda dipandang lebih baik dibanding seorang lelaki yang terlalu muda menjadi ayah. Bila setelah menikah si perempuan tidak mnunda waktu kehamilan dan cepat memiliki anak, orang percaya dia akan mampu merawat anaknya. Sebab ia memiliki kodrat. Jauh dalam sanubarinya, ia tahu apa tugas dan kewajiban seorang ibu. Kamu juga percaya kan, tidak ada ibu yang menjerumuskan anaknya? Semua ibu tahu cara terbaik membesarkan anaknya. Bukankah surga di telapak kaki ibu? Karena ibu begitu berjasa, begitu mulia." Tidak semua ibu memiliki sifat keibuan, itu yang kupercaya. Zaman telah berubah, beban kehidupan bisa mendorong seorang ibu bertindak nekat dengan membuang  bayinya atau membunuh anaknya. Aku menolak pendapatnya.
            "Sementara kalau seorang lelaki menikah muda lalu menjadi ayah terlalu cepat, orang menjadi khawatir. Sudahkah ia mampu mencukupi kebutuhan anak istrinya? Sudahkah ia mampu mengemban tanggung jawab yang besar? Ia sebagai kepala keluarga, tugasnya berat dan tidak main-main." Aku juga tidak pernah menganggap tugasku kelak akan menjadi tugas yang enteng. Aku bahkan tidak berani membayangkan terlalu jauh bagaimanan nantinya jika aku menjadi seorang ayah.
            "Jadi, apa kamu yakin melamarku sekarang? Kamu sanggup memikul beban lebih berat? Kuliahmu belum selesai, keuanganmu belum stabil. Usia kita sama-sama muda, kamu lebih muda beberapa bulan dariku. Bagaimana caranya kamu meyakinkan keluargaku dan keluargamu kalau kita siap menikah?" Bukan mereka yang kurang yakin, kamu yang belum yakin. Seandainya kamu cukup yakin, kamu tidak akan bilang begini. Kamu yang pusing, kamu yang pening. Tidak bersangkut paut dengan keluargamu apalagi keluargaku. Buatku, selama kita sama-sama yakin, restu turun dengan mudah.
            "Asal kamu minta izin pada orangtuaku untuk menikahiku. Tidak masalah walau kamu belum punya gelar sarjana, walau toko online kamu masih bertumbuh." Aku bangkit dengan jemari menggenggam erat tepian meja hingga kukunya memutih hingga tanganku terasa sakit. Hingga nafasku naik turun. Khas orang yang tidak sabar untuk melepaskan amarahnya. Kesal. Sebal. Kecewa. Pedih. Sedih. Campur aduk menjadi satu. Aku tidak punya cara lain untuk menggambarkan bahwa aku marah. Terlampau marah untuk menjelaskan.
            "Kalau mau menolakku, katakan. Kalau tidak suka, bilang. Jangan berpanjang-panjang kata dulu! Kamu yang tidak yakin padaku, kamu yang meremehkan aku. Harusnya kamu berani, aku mengajak nikah berarti aku sudah yakin. Aku saja bisa yakin memilihmu sebagai calon istri, kamu malah mengombang-ambing perasaanku. Ucapkan terus terang, dari pada kamu melanjutkan basa basi busuk ini. Ya sudah, tidak perlu ada pernikahan dalam hubungan kita. Kita akhiri saja. Beres." Kamu yang dari tadi bicara hati-hati mendadak semakin hati-hati. Kamu yang tadi memilih kata menjadi bungkam tanpa kata.
            Pandanganmu kehilangan asa. Mulutmu kehilangan busa. Penjelasan yang terlanjur kamu lontarkan semacam ingin kamu telan kembali. Seharusnya. Sebaiknya. Setidaknya. Coba saja. Mungkin begitu sekelumit yang berputar dalam otakmu yang dibungkus kulit cantikmu. "Kamu mencabut lamaranmu?" Suaramu, ya, suaramu, terdengar aneh di telinga. "Iya," jawabku singkat.

Tiga Tahun Berlalu

            "Dis, kamu ingat Jono? Aduh, kalau ingat dia, ibu miris Dis! Dulu dia itu calon menantu kesayangan ibu. Tapi kenapa kamu lepas? Lelaki sebaik dia malah kamu biarkan menikahi perempuan lain. Ngenes rasanya ibu kehilangan Jono, seperti kehilangan anak sendiri. Seperti kehilangan emas 24 karat. Ibu kira ibu akan segera mendapatkan cucu karena ibu lihat Jono serius sekali sama kamu. Tiba-tiba Jono datang ke rumah waktu kamu lagi di kampus. Jono mengantar surat undangan pernikahannya ke ibu. Ya ampun Dis, asal kamu tahu ya, ibu nangis sesenggukan! Ibu tidak menyangka kamu bisa putus dari Jono. Ibu kan sudah kenal baik dengan ibunya Jono. Dis! Dis! Kok diam saja? Ibu kan sedang bicara. Kamu ini bagaimana."
            Gladys meyembunyikan kepalanya dalam benaman bantal. Ia tidak peduli ibunya mau bicara apa. Ia lebih tidak ingin peduli lagi kalau tahu ibunya masih membahas Jono. Sudahlah, Jono bukan jodohnya. Apa susahnya ibu menerima kenyataan itu? Gladys saja berjuang melepaskan Jono setengah mati. Sekarang ibu malah menyeret-nyeret pikiran dan hatinya mengenang keindahan yang sempat ia reguk bersama Jono. Bukan, bukan salahku, jerit Gladys dalam hati. Jono yang memutuskannya, jadi bukan dia yang meninggalkan Jono. Mana ia tahu sebulan kemudian Jono menikahi orang lain? Dia tidak menyangka, semudah itu Jono mendapatkan wanita. Sampai detik ini, tidak pernah tercium bau busuk dari pernikahan Jono. Ia tampak bahagia dan harmonis dengan istrinya.
            Tapi hati Gladys lah yang tidak harmonis.
            Jauh dalam hatinya, ia menyalahkan kesalahan sekaligus keteledoran idir. Mengapa ia kurang yakin pada Jono? Itu alasan Jono meninggalkannya dan memilih perempuan lain untuk melahirkan anaknya. Kenapa bukan dia saja? Dia bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik. Jono akan bangga. Ia, bangga, seandainya Jono memberinya kesempatan mencicipi menikah muda. Namun Jono malah memboyong orang lain dalam bahtera rumah tangganya.
            "Dan kamu harus tahu, dia itu suami sekaligus ayah kebanggan istri dan anaknya! Di lingkungan tempat tinggalnya, mereka dikenal pasangan yang rukun. Semua orang berkata, kehidupan Jono sangat bahagia. Setelah menikah, dia diterima bekerja di sebuah perusahaan swasra. Taraf hidupnya meningkat! Pernikahan memberinya limpahan rezeki tak terkira. Sayang anak, sayang istri, penuh tanggung jawab, berpenghasilan tetap, mana yang kurang? Pasti istrinya setia sekali pada Jono," ibu tetap meneruskan cerita penuh kebanggannya tentang Jono. Ah, sehebat apa Jono sekarang? Dulu diapun sudah hebat.
            Jono tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Dia sangat dewasa dan penuh keceriaan dalam mengemban banyak tugas. Dialah Jono.
***
shutterstock.com/pic-60018625
            Jono telah menerima berkas permohonan cerai dari istrinya. Setelah mengamati beberapa saat, ia memutuskan menyimpannya. Ia telah membulatkan tekad. Ia tak kan menahan diri. Bila istrinya tidak sanggup lagi, bila istrinya lebih suka menyerah dalam pernikahan mereka. Karena ia bukan seorang milyarder yang bisa terus menerus menggelontorkan uang demi memenuhi hasrat belanja sang istri.
            "Kamu memang suami yang baik. Aku akui, kamu sangat menyayangi anak kita. Kamu tidak seperti kebanyakan ayah yang gila kerja lalu lalai ikut membesarkan anaknya. Tapi kamu belum paham apa yang aku mau. Kalau cuma ini pekerjaanmu, kamu tidak bisa memenuhi aku. Aku mau yang lebih. Aku tidak terbiasa hidup susah. Kamu tahu itu, kamu kenal keluargaku. Kamu pasti mengerti." Jono membantu membereskan pakaian istrinya ke dalam koper besar. Ia membawakan koper itu ke teras. Istrinya pamit, pulang ke rumah orangtuanya.
            Jono menelpon seseorang. Terdengar suara riang di seberang telpon. "Nak Jono? Ibu kangen! Ayo, kapan silaturahmi ke sini, kapan ketemu ibu dan Gladys. Bawa istri dan anakmu ya!" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar