Kamis, 04 Juli 2013

Prompt #19 Jembatan Kepulangan

            “Bu, bapak pergi dulu ya.”
            Bapak mengecup kening ibu dengan sayang. Lalu ibu mengantar bapak ke pintu depan. Ibu terus memandangi bapak hingga punggungnya hilang dari pandang.
            Dengan setia ibu menunggu bapak. Seminggu. Dua minggu. Tiga minggu. Itu hal biasa bagi ibu. Pekerjaan bapak sebagai pemborong tidak memungkinkannya pulang kapan pun ia mau. Namun bapak patut bersyukur dikaruniai istri seperti ibu yang tidak banyak pinta. Kadang bila sedang tidak ada pemasukan, ibulah yang menggantikan peran bapak dengan menjadi buruh cuci. Sebisa mungkin bapak tidak membiarkan ibu meninggalkan rumah karena ada anak mereka dengan beberapa keponakan yang ikut tinggal dan butuh pengawasan.

            Tepat sebulan bapak berpamitan. Inilah waktu terlama bapak meninggalkan rumah. Maka tepat sebulan bapak belum pulang, ibu yakin ini hari kedatangan bapak. Ibu memasak ayam dan telur dengan sedikit sisa uang yang ia punya.
            “Ibu aku mau makan ayam,” pinta Aim kecil yang tahun depan akan masuk sekolah.
            Ibu menggeleng sambil mengusap kepala Aim. “Nanti, kalau bapak sudah di rumah. Kita makan sama-sama. Mana Kak Pipit dan Kak Suci?”
            “Berangkat mengaji, bu.”
            “Kok Aim tidak ikut?”
            Aim melingkarkan tangannya di pinggang ibu dan mulai merajuk. Si kecil ini tahu ibu tidak suka memaksa. Padahal kalau bapak di rumah, bapak sendiri yang akan mengantar Aim mengaji.
            Mendekati maghrib, bapak belum juga pulang. Padahal jalanan kampung akan gelap. Apalagi tanah licin akibat hujan sejak siang. Ibu khawatir bapak tidak bisa melewati jembatan di ujung jalan masuk kampung. Ibu pun menyusul dengan payung dan senter di tangan.
            Aim tidak pernah tahu bahwa kepergian ibu akan membawa petaka. Ibu pulang tanpa membawa kesadaran. Ibu ditemukan orang-orang dalam keadaan pingsan akibat terpeleset di jembatan. Ketika bangun, ibu hanya bisa meracau dan menggumam tanpa dapat dipahami kata-katanya. Mata Aim membelalak. Ia hanya berani memperhatikan ibu di dekat pintu. Beberapa hari kemudian, bapak pulang.
***
            “Bu, ayo mandi.”
            Aim menarik tangan ibunya ke belakang rumah. Ibu mengeluh. Ocehan tidak jelas keluar dari mulutnya. Ketika melihat ember di samping sumur, ibu meronta dari genggaman Aim. Namun Aim tak kehabisan sabar. Ia membujuk ibu untuk duduk di atas kursi kayu kecil.
            “Ggagagagagaga.”
            “Ibu mandi dulu ya. Biar cantik, biar wangi. Aim sudah siapkan airnya buat ibu.”
            “Ngin.. ngin.. ggagagaga! Ngin!”
            “Ibu mau mandi pakai air panas?”
            “Huh huh huh. Ngin!”
            Aim memasak air yang sudah ia timba dari sumur. Ia meniup-niup api dalam tungku. Setelah menunggu beberapa lama, air bergolak. Perlahan Aim menuangkannya kembali ke dalam ember. Lalu membawa embernya ke dekat ibu. Sambil menyanyi dengan suara kecil, Aim mulai mengguyur tubuh ibu. Suara nyanyian Aim mulai menenangkan ibu, membuatnya tidak menolak air yang membasahi tubuhnya.
            Aim tidak perlu punya alasan atas apa yang ia lakukan. Semua ia kerjakan dengan senang. Meski kadang lelah menguasai tubuhnya atau kekusutan meracuni pikirannya, tapi harapan itu tetap tumbuh. Suatu hari, ibu akan kembali menguasai diri. Ibu akan pulih. Ibu yang menyambutnya waktu pulang sekolah, memasakkannya makanan, dan menceritakan banyak hal menakjubkan pada Aim.
            “Uh. Uuh. Uuuuh!”
            Ibu memukul-mukul pintu. Aim berusaha menenangkan ibu dengan mengajaknya bicara, memeluknya, menawarinya makan dan minum, hingga menyanyikannya lagu-lagu. Ibu masih terlihat gusar dan semakin keras memukul pintu. Aim tak perlu takut hal itu menganggu para tetangga. Mereka sudah tahu terbiasa dan justru prihatin dengan keadaan ibu.
           
Dok. pribadi Nurul Noe
Aim pun membukakan pintu. Ibu berjalan dengan tangan dan kakinya. Aim menggandeng tangan ibu, membiasakan ibu berdiri dan berjalan dengan dua kaki. Ibu melangkah tertatih. Ke jembatan. Lalu duduk, seperti menanti pikirannya pulang.



Monday Flash Fiction lain bisa dilihat di sini

14 komentar:

  1. Ibunya jadi gitu gara-gara kepleset itu ya? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, liat di tv ada yg kayak gitu ga sembuh2 padahal udah belasan tahun, mungkin ada bagian otak yg kebenturnya keras banget

      Hapus
  2. ini idenya keren bangetttt..

    bisa juga dengan cara begini.

    Langsung aja ke adegan Aim yang memandikan ibunya itu. IMO, suasana kasih sayangnya kerassssa banget! Trus masa kecil Aim, diceritakan dalam flashback2 kayak sedang berjalan di ingatan Aim.

    :D *Carra bikin cerita sendiri*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe gapapa mbak bikin cerita sendiri kayaknya itu juga seru :D

      Hapus
  3. Kerennnn :)
    Anak harus gitu yah.. Sayang Ibunyaa

    BalasHapus
  4. huwahh...idenya bagus *jempol*

    BalasHapus
  5. woh, gegar otak parah ya... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. gatau ya ini dibilang gegar otak apa gimana hehe

      Hapus
  6. Melas ibunya, tapi salit si Aim penuh cinta merawatnya :)
    Oya mba, kalo boleh fotonya minta diganti linknya ke blog saya. makasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke mbak siap :D maaf ya mbak kalo kurang berkenan sama linknya

      Hapus