Selasa, 03 September 2019

Tips, Trik, dan Pengalaman Wawancara Kerja Sebagai Dosen

via unsplash
Halo! Dalam postingan kali ini, saya ingin membagikan tips, trik, dan pengalaman wawancara kerja sebagai dosen. Saya menulis topik ini karena masih banyak yang penasaran mengenai gambaran dari wawancara kerja untuk lowongan sebagai dosen. Dosen merupakan salah satu profesi yang lowongan kerjanya jarang kita ditemukan di internet. Kebanyakan kampus tidak memasang lowongan kerja sebagai dosen di situs resminya. Kampus lebih senang merekrut alumni atau dosen dari kampus lain yang memang sudah diketahui latar belakangnya.

Pengalaman saya melamar kerja di Universitas Pakuan Bogor, lowongan kerjanya sendiri berasal dari broadcast. Saya mendapatkan broadcast dari dosen saya semasa di Diploma IPB. Saya juga mendapat broadcast itu dari Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya karena dia menjadi kakak kelas di Sekolah Pascasarjana IPB. Saat itu saya belum lulus sehingga saya tidak bisa langsung mengajukan lamaran. Kakak kelas tersebut lalu memberikan semangat agar saya cepat lulus dan mengajukan lamaran. 


Mengapa saya tidak mengajukan lamaran ke IPB? Ini karena universitas negeri jarang atau bahkan tidak mau merekrut yang gelarnya "hanya" magister. Saya harus menjadi seorang doktor terlebih dahulu baru bisa melamar menjadi dosen. Prosesnya juga berbeda. Universitas negeri tidak menyelenggarakan sendiri proses rekrutmen tersebut. Tes dilakukan oleh negara. Karena itu, rekrutmen tidak selalu dilakukan setiap tahun. Tetapi, kita masih bisa melamar kapan saja selama kaprodi menerima surat lamaran kita. Namun nantinya kita menjadi dosen magang terlebih dahulu sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebab bila ingin menjadi dosen tetap, kita harus menunggu tes yang dilakukan oleh negara.

Inilah mengapa menjadi dosen di universitas swasta terasa "lebih mudah". Karena yang menentukan dan melaksanakan tes adalah universitas itu sendiri. Kita tidak perlu menunggu negara melaksanakan tes. Selain itu tiap universitas swasta memiliki kebijakannya masing-masing dalam melaksanakan tes. Saya sudah bertanya kepada teman-teman dari berbagai universitas. Di Jabodetabek sendiri umumnya tahapan tesnya sederhana yaitu wawancara kerja maupun melakukan micro teaching. Ada sih beberapa universitas yang melakukan tahapan lain seperti focus group discussion, tes tertulis, maupun tes psikologis. Tapi intinya tes utama yang umumnya dilakukan adalah wawancara kerja dan micro teaching.

Micro teaching adalah tes yang dilakukan terhadap calon dosen untuk melihat kemampuannya mengajar. Calon dosen akan diminta berpura-pura mengajar tim panelis yang melakukan wawancara. Artinya, calon dosen akan berpura-pura mengajar di depan para dosen senior. Biasanya calon dosen diminta memilih sendiri mata kuliah apa yang akan dia ajar lalu dia diminta mempraktikkannya.

via unsplash
Micro teaching ini dilakukan dalam waktu yang singkat saja. Setelah itu tim panelis akan menyampaikan kritikannya secara terbuka. Saya sendiri dikritik karena suaranya terlalu rendah. Saya diberi tahu bahwa di Universitas Pakuan tidak disediakan microphone di dalam kelas. Sehingga saya dituntut memiliki suara yang besar agar seluruh mahasiswa dapat mendengar dengan baik apa yang saya katakan. Tentunya saran maupun kritik yang diberikan setelah micro teaching ini akan berkaitan dengan sarana dan prasarana tempat kita melamar kerja sebagai dosen. Setiap universitas memiliki keunikannya sendiri-sendiri sehingga kita tidak bisa menyamaratakan keadaan.

Ada beberapa tips yang bisa saya sampaikan mengenai pelaksanaan micro teaching:

  1. Pastikan Anda memilih mata kuliah yang paling Anda kuasai.
  2. Tidak perlu mengajar secara kaku seperti menghapal isi text book. Anda juga dapat berimprovisasi seperti menceritakan pengalaman atau fenomena yang sesuai dengan konteks bahan ajar.
  3. Tatap satu persatu wajah panelis. Sebagai seorang dosen, nantinya Anda akan menghadapi mahasiswa dengan berbagai macam kepribadian. Anda harus mampu terlihat percaya diri dan tegas.
  4. Jangan berdiri di tengah-tengah ruangan. Pastikan Anda bergerak dan berjalan secara natural. Jangan lupa untuk berekspresi dan menggerakkan tangan juga. Bersikap seakan Anda sedang mengobrol dengan teman akrab.
  5. Anda juga bisa memilih untuk menulis di papan tulis. Tidak perlu khawatir bila tulisan tangan Anda jelek. Yang penting, ukuran huruf dapat terbaca dengan baik oleh seluruh tim panelis.
  6. Anda juga bisa berpura-pura menekankan suatu topik. Misalnya dengan mengatakan "Bab ini pasti akan masuk sebagai salah satu bahan ujian".
  7. Anda bisa berpura-pura ada mahasiswa yang bertanya dan mencoba membangun dialog imajiner.


Trik yang dapat saya berikan adalah tersenyum. Bila Anda tiba-tiba merasa blank atau ragu untuk melanjutkan kalimat, cobalah tersenyum atau tertawa. Hindari merasa ragu-ragu, menunduk, atau gugup. Itulah mengapa saya nenyarankan Anda untuk berjalan dan menggerakkan tangan. Sebagai seorang dosen apalagi di era saat ini, Anda perlu memastikan suasana kelas tidak hanya kondusif tetapi juga menghibur. Hindari memberikan kuliah dengan cara yang membosankan. Karena itu membangun interaksi menjadi penting.

Trik ini saya lakukan baik ketika melakukan micro teaching, wawancara kerja, maupun ketika sidang tesis. Setiap saya merasa kesulitan, saya akan tersenyum atau tertawa. Saya melihat bahwa ternyata ketika tersenyum atau tertawa, hal tersebut dapat mencairkan suasana dan menumbuhkan simpati. Saya selalu berhasil lolos. Justru ketika kita terbata-bata dalam menjawab, pewawancara kerja atau penguji sidang justru menjadi "gemas" dan kesal karena kita terlihat tidak siap. Mereka cenderung akan memojokkan atau justru tidak berselera untuk memberikan pertanyaan lanjutan. Mungkin kita bebas dari pertanyaan tapi bisa jadi hal tersebut akan memengaruhi penilaian.

via unsplash
Selanjutnya saya akan memberikan daftar pertanyaan yang diberikan ketika wawancara kerja sebagai dosen:

  1. Mengapa Anda memutuskan menjadi seorang dosen? Bisa dibilang profesi dosen bukan profesi yang populer. Di generasi saat ini, bekerja di start up atau malah membuka usaha sendiri terdengar lebih "keren". Generasi milenial maupun generasi setelahnya umumnya lebih suka jam kerja fleksibel, tidak diwajibkan ke kantor setiap hari, dan beragam benefit lainnya. Hal seperti ini tidak didapatkan bila kita menjadi dosen. Kita tentu wajib hadir di kelas untuk mengajar. Memang ada elearning tetapi kelas tatap muka masih menjadi mayoritas sistem belajar mengajar di sebagian besar universitas di Indonesia. Selain itu kita tidak bebas cuti atau memiliki cuti yang banyak seperti di corporate maupun start up. Bahkan ketika masa libur mahasiswa pun kita masih bergelut dengan penghitungan nilai demi IPK mahasiswa. Selain itu bila kita mengajar banyak kelas dan isi tiap kelas saja lebih dari 30 mahasiswa, bisa dibayangkan berapa banyak waktu yang habis untuk memeriksa tugas maupun hasil ujian. Memang ada universitas yang menggaji dosennya dengan tinggi. Tetapi itu kalau kita menjadi dosen di universitas untuk kalangan kelas menengah atas seperti Pelita Harapan, Binus, dan lain-lain. Universitas lokal di kota, apalagi kota kecil, memiliki gaji rendah
  2. Mengapa Anda tidak menjadi dosen negeri saja? Pertanyaan ini akan diajukan bila Anda adalah alumni universitas negeri dan melamar ke universitas swasta.
  3. Mengapa Anda tidak menjadi dosen swasta saja? Pertanyaan ini akan diajukan bila Anda alumni universitas swasta dan melamar ke universitas negeri yang umumnya (tidak semua) menawarkan gaji lebih rendah dibanding universitas swasta.
  4. Apa mata kuliah yang akan Anda ajar? Agar tidak menjadi boomerang, pastikan Anda menjawab mata kuliah yang memiliki nilai A. Apakah menjadi dosen harus memiliki nilai A di semua mata kuliah? Tentu saja tidak. Saya pun memiliki nilai C. Biasanya setelah pertanyaan ini, akan berlanjut dengan tes micro teaching. Pilih saja materi yang paling mudah dijelaskan dalam waktu singkat tetapi memiliki sisi menarik. 
  5. Bagaimana cara Anda menangani mahasiswa yang nakal? Nakal di sini artinya mahasiswa itu senang membolos, melakukan titip absen, tidak terima dengan nilai yang Anda berikan, hingga menolak mentah-mentah apa yang Anda ajarkan. Saya sendiri pernah melihat seorang mahasiswa yang bersikap menghina dosen ketika masih di S1. Padahal dosen ini memiliki latar belakang mengesankan karena ia tak hanya dosen tetapi juga petinggi di industri media. Namun dosen ini adalah seorang difabel. Sayangnya saya harus mengatakan pada Anda bahwa tidak semua mahasiswa berpikir bahwa menghina orang itu tidak boleh. 
  6. Bagaimana cara Anda menangani mahasiswa yang usianya tidak jauh berbeda? Ini karena bila Anda masih muda, bisa dipastikan usia Anda tidak terpaut jauh dengan mahasiswa. Saya sendiri memiliki perbedaan usia kurang dari 10 tahun dengan mahasiswa. Bahkan kalau mahasiswanya tidak juga lulus, sepertinya beda usia hanya terpaut lima tahun. Beberapa dosen senior mengatakan saya harus "terlihat keren" di depan mahasiswa. Itulah mengapa, bila Anda memiliki pengalaman kerja yang menarik sebelum menjadi dosen akan menjadi nilai tambah di kelas.
  7. Apa Anda tetap mau menjadi dosen meski gajinya kecil? Kenyataannya gaji dosen maupun guru memang kecil. Bahkan seorang dosen yang saya kenal akrab dan sering mondar-mandir di televisi karena menjadi pengamat politik juga menyebutkan hal yang sama. Pekerjaan menjadi dosen memang melelahkan tetapi gajinya tidak setinggi bila mengejar karir di corporate. Namun, menjadi dosen umumnya adalah passion. Orang memilih menjadi dosen meski gajinya tidak seberapa. Gaji bisa naik degan cepat bila Anda rajin melakukan penelitian, pengabdian masyarakat, atau memiliki jabatan struktural. Misalnya menjadi dekan. 
  8. Apa Anda memiliki pekerjaan lain selain menjadi dosen? Jawaban iya tidak akan membuat Anda rugi. Mereka justru tahu ketika Anda memiliki pekerjaan lain artinya Anda memiliki cara lain untuk mencari nafkah. Bila Anda memiliki sumber nafkah lain, maka Anda tidak terbebani bekerja sebagai dosen meski bergaji rendah. Saya sendiri menjelaskan pekerjaan lain ketika melakukan wawancara dosen dan justru itu menjadi nilai tambah. 
  9. Kenapa menjadi dosen bukan profesi lain saja? Bekerja menjadi dosen artinya Anda harus selalu up to date dengan perkembangan dunia. Anda harus selalu belajar dan banyak membaca. Bila Anda suka berada di zona nyaman dan malas berkembang, profesi dosen akan berat untuk dijalani. 
  10. Apa rencana Anda ke depan? Berkaitan dengan nomor sembilan, artinya bersekolah lagi harus menjadi salah satu rencana jangka panjang Anda. Bila baru bergelar magister, Anda perlu mengejar gelar doktor. Bila sudah doktor, Anda mengejar gelar profesor. Kalau sudah menjadi dosen Anda dapat mencari program beasiswa khusus dosen. 
  11. Tahu dari mana ada lowongan di sini? Karena lowongan dosen yang umumnya tidak disebarluaskan, mereka akan penasaran dari mana Anda tahu universitas tersebut membuka lowongan. 
  12. Di bidang apa Anda paling menguasai materi? Anda bisa menjelaskan bahwa di bidang tersebut Anda memiliki nilai A. Atau bisa saja Anda memilih bidang tersebut sebagai topik penelitian. Bidang itu juga tak harus berkaitan dengan kuliah. Bisa saja Anda bilang jago public speaking. Sehingga Anda diberi kesempatan mengajar kelas Retorika. 
  13. Bisa diceritakan pengalaman mengajar Anda sebelumnya? Bila sebelumnya pernah menjadi asisten dosen, ini akan menjadi nilai tambah. Tapi bukan berarti fresh graduate tanpa pengalaman tidak memiliki kesempatan. Anda perlu membuktikannya ketika micro teaching. 
  14. Apa saja pengalaman Anda di luar mengajar? Ceritakan pengalaman yang berkaitan dengan bidang yang Anda ajar. Misalnya karena saya melamar menjadi dosen Komunikasi maka saya menjelaskan pengalaman ketika magang sebagai humas. Saya juga menceritakaan pekerjaan sebagai penulis. Anda juga bisa menceritakan pengalaman bila Anda tergabung dalam organisasi profesi tertentu. 
  15. Apakah Anda keberatan menjadi dosen magang di sini? Ini karena lamanya menjadi dosen magang di universitas negeri bisa memakan waktu sangat lama. Ada yang sampai lima tahun masih menjadi dosen magang. Sementara di swasta sendiri umumnya selama enam bulan. 
  16. Apakah Anda keberatan menjadi dosen tetap di sini? Pertanyaan ini diajukan karena ada dosen yang mengajar di lebih dari satu kampus. Dia perlu memilih di mana ingin menjadi dosen tetap. Kampus tersebutlah yang akan menjadi home basenya. 
  17. Apakah Anda keberatan mengajar kelas karyawan? Artinya Anda akan mengajar di malam hari. Berbeda dengan mahasiswa reguler, Anda akan menemukan gairah belajar lebih rendah di kelas karyawan. Sebab mereka adalah orang-orang yang telah merasa lelah karena bekerja sepanjang hari. 

via unsplash
Bagaimana dengan outfit yang digunakan untuk wawancara kerja? Ini tergantung dengan budaya dari masing-masing universitas. Di negeri Anda mungkin harus memakai batik atau blazer. Tetapi di beberapa universitas swasta, Anda bahkan bisa memakai kaos. Namun saran saya, pakai saja baju yang formal. Bisa menggunakan kemeja atau blus dengan celana atau rok bahan. Gunakan saja pakaian yang tidak terlalu tipis atau tidak terlalu tebal tetapi menyerap keringat. Gunakan juga riasan tipis. Bawa saja parfum sehingga Anda dapat menyemprotnya sebelum memasuki ruang wawancara. Gunakan juga sepatu yang nyaman misalnya pantofel. Hak terlalu tinggi akan membuat kesulitan bila Anda tidak terbiasa menggunakannya. 

Ketika wawancara nanti kita juga akan diberi tahu gaji yang diterima bila menjadi dosen. Tidak seperti profesi lain, profesi dosen tidak memungkinkan kita untuk melakukan nego gaji. Bila keberatan, maka sebaiknya Anda tidak menerima pekerjaan tersebut. Gaji ini akan naik bila Anda telah menjadi dosen tetap atau mengumpulkan kredit tertentu selama mengajar. Seperti yang telah saya sebutkan di atas kredit tersebut berupa: pengabdian masyarakat, penelitian, atau memiliki jabatan struktural di kampus. Selain itu memang ada tunjangan tetapi besarannya di tiap kampus berbeda. Universitas negeri memiliki aturannya sendiri. 

Oh ya satu lagi, tidak ada kewajiban mengenai pendidikan seorang dosen harus linier. Di angkatan saya, beberapa dosen barunya tidak hanya berasal dari satu bidang saja. Begitu pula ketika di Diploma dulu. Intinya yang terpenting Anda menguasai bahan ajar dan menyukai kegiatan belajar mengajar. 

8 komentar:

  1. Halo kak Linda, maaf saya mau bertanya. Unik jadi dosen, IPK minimalnya harus berapa ya? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. 3. Kenapa saya bilang 3? Soalnya beberapa teman diterima jadi dosen walau IPK-nya di bawah 3,5 dan bukan cum laude. Ada teman yang sudah mengulang kuliah berkali-kali, ada yang lulusnya lama sekali. Menjadi dosen tidak harus punya latar pendidikan sempurna kok asal mau terus memajukan diri (kuliah, menulis jurnal, turun lapang)

      Hapus
  2. Thank you... Saya tertarik sekali dengan ulasannya..
    Saya baca ini karena punya rencana kedepannya ingin jadi dosen, walaupun yah sekarang baru lulus s1.

    BalasHapus
  3. Thank u infonya linda..love it

    BalasHapus
  4. nice sharingnya ka

    BalasHapus