Minggu, 22 April 2012

Tempat Kembali

            "Pak, sudah waktunya pindah." Pak Kar mematung di depan foto mendiang istrinya yang tergantung di dinding. Cuma itu satu-satunya potret sang istri yang ia miliki. Lama ia tidak bicara kecuali membiarkan matanya merekam tiap titik dalam foto dan berusaha mengembalikan memori. Tentang istri yang ia cintai. Tentang rumah yang ia tinggalin. Tentang kehidupannya, masa bahagianya, pencapaiannya, rasa penuh sykukurnya. Akhirnya ia rela. Dalam hatinya ia mencoba melepaskan jepit-jepit yang mengempit. Ketika pandangannya hanya terfokus pada satu hal dan pikirannya melayang bukan hanya wajah istrinya yang rupawan.

            "Pak," desak Boh. Boh adalah pelayan setia Pak Kar. Hingga tuannya telah lanjut usia dan sering pulang jalan pulang, ia tetap setia merawat. Menyediakan makanan yang lunak untuk mulut tanpa gigi dan membacakan koran bagi mata yang rabun. Seminggu yang lalu, sebuah perusahaan membeli tanah di sekitar wilayah itu, termasuk rumah Pak Kar. Seluruh rumah di situ akan dirobohkan lalu dibangun apartemen mewah. Katanya, akan ada lebih banyak orang yang bisa tinggal meski di sepetak tanah. Karena orang-orang akan tinggal dalam bangunan yang memiliki banyak lantai. "Sebentar lagi," pinta Pak Kar dengan suara serak.
            "Ini cuma rumah pak. Bapak bisa tinggal di mana saja. Uang pensiun bapak jauh lebih dari cukup untuk mengontrak sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Bapak masih bisa makan enak dan berlangganan koran. Jangan khawatir, pak. Dengan menjual rumah ini, bapak telah membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk mempunyai tempat tinggal. Bapak kan tahu, harga tanah di pusat kota terbilang mahal. Keluarga muda yang baru mulai membangun kehidupan rumah tangga pasti kesulitan bila harus membayar kredit rumah tipe mungil yang cicilan perbulannya bisa menghabiskan tiga per empat gaji. Saya paham kok, ini kesempatan bapak menghabiskan masa tua sembari menikmati kenangan indah bersama mendiang istri. Tapi bapak tidak kehilangan kenangan itu cuma karena pindah rumah."
            Kata-kata seorang perempuan yang rajin bertandang ke rumah Pak Kar sejak setahun belakangan benar-benar mengusik ketentraman batin Pak Kar. Di satu sisi, ia enggan meninggalkan rumah yang telah ia beli dengan susah payah bersama sang istri. Mengumpulkan sedikit demi sedikit dengan cara menggabungkan gaji mereka berdua hingga terwujud cita memiliki rumah sederhana yang dekat dari tempat kerja. Walaupun tidak memiliki anak, perkawinan mereka bahagia. Pak Kar merasakan kelengkapan luar biasa. Ia tidak pernah iri apalagi mendengki melihat rekan-rekan sejawatnya menyelenggarakan pernikahan bagi anak atau acara sunatan bagi cucu. Baginya, ia patut bersyukur mendapatkan seorang istri berhati mulia. Istri yang tidak pernah mengeluh dan lebih senang menguatkan suami. Istri yang tidak menyerah merawat Pak Kar yang sakit-sakitan ketika memasuki usia empat puluhan.
            Di sisi lain, ia kasihan melihat pasangan-pasangan muda yang kesulitan mendapatkan rumah dengan harga murah. Ia tahu benar, banyak karyawan di tempat kerjanya yang baru menikah hanya mampu mengontrak rumah dan letaknya jauh dari pusat kota. Pak Kar teringat perjuangannya bersama sang istri dulu. Mereka menguatkan diri, berpuasa selang seling demi menghemat uang belanja. Mereka menguatkan diri, kadang tak berlebaran di rumah orangtua. Bersama, berdua, telah menentramkan Pak Kar.
            Setelah menimbang setahun penuh, mencoba mengingat apa alasan terkuatnya meninggalkan rumah, Pak Kar menyerah. "Boh, saya dulu sakit-sakitan. Saya pernah opname hampir sebulan. Kata dokter, salah satu ginjal saya menurun fungsinya. Istri saya memutuskan pensiun dini. Dia ingin fokus menemani saya. Waktu saya stres karena takut dipecat, istri saya malah memarahi. Katanya, rezeki itu dari Tuhan. Walaupun saya dipecat, saya masih mampu cari kerja lagi. Bahkan istri membantu mencari ide untuk buka usaha. Asal saya sehat, dia tidak peduli kalau saya dipecat atau jadi pengangguran. Untung dia pintar berinvestasi. Sekarang, tiap bulan saya bisa menikmati perjuangan di masa muda. Rekening saya tidak pernah kosong."
"Lalu pak?"
"Akhirnya saya sembuh. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya sampai seluruh penyakit yang menyerang saya menjadi lumpuh. Saya seperti terlahir kembali, terperangkap dalam tubuh tua tapi punya semangat muda. Saya berjuang menaikkan taraf ekonomi kami kembali seperti sebelum sakit."
"Bapak hebat."
"Benar, Boh. Saya pun bangga pada diri saya sendiri. Tapi sejak itu saya justru merasa kacau."
"Kenapa pak?"
            "Dunia seakan terbalik. Ketika saya mencapai puncak kesuksesan untuk kedua kalinya, istri saya sakit keras. Tanpa pertanda atau aba-aba, dia meninggalkan saya. Sekarang saya seorang diri. Saya tidak punya apa-apa selain tubuh tua dan uang pensiun di rekening bank. Tapi itu bukan hal yang terlalu penting. Saya cuma mau dekat dengan istri saya." Pak Kar melangkah keluar sembari memeluk foto istrinya. Sekali lagi, ia berbalik, memandang ke dalam. Seakan ada istrinya di sana, tengah menantinya. Ia tersenyum. Ia akan rela sepenuhnya. Istrinya tetap hidup dalam hatinya. Dan ia tak perlu merasa meninggalkan istrinya. Tapi rumah ini bukan istrinya. Rumah ini perjuangannya. Atapnya. Tempatnya berlindung.
            Sebulan kemudian, seluruh rumah di wilayah itu telah rata dengan tanah. Termasuk rumah Pak Kar. "Bagaimana perkembangan proyek apartemen di sini?" tanya Pak Kar pada seorang pekerja. "Beberapa hari lagi akan dilakukan peletakan batu pertama, pak." Pak Kar memandang tanah tempat dulu bekas rumahnya berdiri. Tidak ada apa-apa di sana kecuali tanah dan tanah.
            Pak Kar pulang ke rumah kontrakannya. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun pada Boh. "Pak, makan? Saya sudah masak buat bapak," ujar Boh. Namun Pak Kar menggeleng. Setelah beberapa hari, di hari tepat acara peletakan batu pertama akan dilakukan, Pak Kar datang ke tanah di mana rumahnya pernah berdiri. Tubuhnya yang rapuh berjalan merambat perlahan. Wajahnya yang kuyu tanpak kurang makan. Tapi langkah Pak Kar tak mapak istirahat saja di rumah," pinta Boh. Pak Kar menggeleng. "Aku mau melihat rumahku yang dulu." Jangtungnya berdebar-debar. Ia merasa kelelahan. Keringat dingin mulai mengucur. Pak Kar merasa tidak kuat. "Boh, sini," panggil Pak Kar. "Tuntun saya ke sana." Meski matahari begitu terik dan udara kering semakin membuat suasana panas, Pak Kar tetap berkeras. Dadanya naik turun dengan kepayahan. "Bapak tidak kuat," ujar Boh. "Siapa bilang?"
            Orang-orang telah berkumpul dan ingin menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan apartemen. Pak Kar telah sampai. Aku sampai, bisiknya lirih. Ia menoleh pada Boh, "Setelah ini, kamu bebas. Kamu tidak perlu lagi melayani saya. Saya sudah capek hidup sendirian. Saya kangen istri saya. Saya cuma mau pulang ke rumah."
"Maksud bapak?"
Tubuh Pak Kar limbung. Ia jatuh. Orang-orang menoleh. Boh terlihat panik. Terjadi keributan. Namun wajah Pak Kar terlihat damai. Ia bergumam meski matanya terpejam, meski air matanya menetes. Aku kembali, aku pulang, ke tempat yang sama, seperti istriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar