Jumat, 05 Juli 2013

Di Antara Teh dan Kopi

           
shutterstock.com
 Berkali-kali saya menatapnya di antara cangkir-cangkir teh dan kopi. Diikuti menahan napas sekian detik kemudian jantung saya merosot sampai mata kaki. Setelah itu rasa panas meruap ke wajah sampai kelihatannya akan merekah. Ketika dia berlalu cepat-cepat, hentakan keras menyadarkan saya. Jantung saya meloncat ke tempat semula. Lantas saya akan berpikir apa yang bisa saya lakukan untuknya. Pada akhirnya, seperti biasa, saya terlalu lambat dalam berpikir dan dia berlalu tanpa tahu ada saya yang menunggu.

            Terlintas hal konyol dalam pikiran saya bahwa kejadian yang sudah jadi kebiasaan tadi harus diuji. Apakah ini hanya kebetulan-kebetulan yang saya paksakan seperti cerita FTV atau mungkin jalan Tuhan Yang Maha Baik Hati? Saya harus membuktikannya! Kalau diperhatikan, saya selalu datang membeli kopi, roti, dan telur pukul enam lewat lima belas menit. Saya akan memajukan jam kedatangan.
            Sambil bersiul, saya berjalan riang ke arah kedai teh dan kopi langganan. Waktu masuk, aroma robusta menendang indera penciuman. Hal yang sama juga berlaku pada indera penglihatan. Bukan, bukan wujud secangkir kopi yang membuat saya mengejang. Tapi sosoknya yang berjarak tak lebih dari sepelemparan batu. Sedang duduk di kursi bar, mengaduk gula dalam cangkir teh oolong-nya. Saya ingin sekali balik badan dan berlari keluar secepat yang bisa dilakukan kaki-kaki tidak terlatih ini. Namun saya tak mampu. Dia sudah terlanjur bersitatap dengan saya.
            Dalam benak, saya merasakan kulit wajah mengalami exfoliasi yang dramatis. Lebih parah dari sekedar merekah. Sekarang wajah saya tak berkulit. Cuma tulang dan daging. Ini mungkin rasanya tak punya muka kalau kamu terlihat absurd di mata yang kamu suka.
            Tanpa saya sadari, dia telah pergi. Satu kali lagi hilang kesempatan saya menyapanya. Begitu pula, semakin besar keyakinan saya bahwa pertemuan kami diatur semesta. Namun saya masih merasa harus membuktikan dengan percobaan berikutnya. Saya akan memundurkan jam kedatangan.
            Hari berikutnya, saya melangkah masuk kedai bersama rasa penasaran yang hampir menembus jantung. Deretan toples berisi beragam teh dan kopi berderet di rak yang menempel ke dinding. Beberapa pelayan hilir mudik membawa nampan berisi sarapan. Apa yang terakhir saya sadari adalah dia tidak ada di sini.
            Sedikit kecewa terselip dalam hati karena saya harus menerima kenyataan bahwa harapan tidak terbukti. Pertemuan kami bukan ditakdirkan. Buktinya dia tidak datang. Anehnya, ada kelegaan yang tak bisa dijelaskan menyelusup dalam bentuk segaris senyum. Saya merasa bebas! Saya tidak merasakan lagi jantung yang berloncatan atau panas yang mengantang. Saya tidak perlu merasa telah melakukan hal bodoh atau kehilangan kesempatan.
            Saya baru memesan secangkir teh (kenapa minum teh, saya juga tidak tahu) waktu seseorang datang ke dalam kedai dan duduk di samping saya di kursi bar. Karena sedang senang dengan kebebasan yang saya dapatkan tanpa perjuangan, saya bermaksud menyapa orang yang duduk di sebelah dengan senyum mengembang. Dia mengangkat sebelah alis. Senyum saya berubah menjadi seringai.
            “Ada apa?”
            “Tidak apa-apa.”
            “Selamat pagi. Kamu minum teh apa?”
            Saya melirik cangkir. Oolong. Persis seperti yang dia minum tiap pagi. Matanya melirik isi cangkir saya lalu senyum penuh rahasia. Gejala salah tingkah mulai menghantui saya. Hati saya merapal mantra yang terdengar kejam. Jangan bertindak bodoh, jangan bertindah bodoh. Tapi bibir saya berkhianat. Bibir saya terus mengajaknya bicara padahal saya menyuruhnya diam dengan sekuat tenaga
            Saya sudah mencoba mengelabui diri sendiri dengan mengubah waktu tapi saya tetap dipertemukan dengan dia. Apakah saya harus bersorak girang dan mengakui bahwa kami ditakdirkan?

            Saya mengikutinya berjalan keluar kedai. Dia melambai pada saya lalu masuk dan duduk di balik kemudi. “Kamu bisa ikut. Arah kita sama,” katanya. Saya menggeleng dan tersenyum. Di sampingnya duduk seorang perempuan yang ikut tersenyum pada saya. Tadi dia sudah bilang, di mobil ada pacarnya.




#proyekcinta bintang berkisah

2 komentar: