Jumat, 08 Agustus 2014

Di Balik Pagar Kawat Berduri

thanysthought.wordpress.com
Sebelumnya saya telah menulis tentang film berlatar belakang perang dalam bentuk animasi, Grave of The Fireflies. Kali ini saya ingin mengulas The Boy in The Striped Pajamas yang dirilis 2008 silam. Film ini berlatar belakang pembantaian massal yang dilakukan Nazi Jerman terhadap Ras Yahudi.


Dikisahkan Ralf, seorang petinggi di militer Jerman yang dipindahtugaskan ke luar Berlin. Ternyata ia bertanggung jawab terhadap sebuah kamp Yahudi yang berada di tengah hutan. Masyarakat sipil tidak tahu mengenai keberadaan kamp itu atau apa yang terjadi di dalamnya. Namun seringkali terlihat asap hitam dan bau menyengat yang keluar dari cerobong di kamp itu.

Ralf membawa serta istri dan kedua anaknya ketika berpindah tugas. Putranya, Bruno, seorang anak lelaki berusia delapan tahun yang bercita-cita sebagai petualang. Bruno ingin sekali memiliki teman baru di rumah barunya. Tanpa sengaja ia menemukan kamp Yahudi tersebut. Drama pun dimulai, mengisahkan pertemanan dua anak lelaki yang saling tidak memahami kenapa ada satu kelompok manusia yang ingin memusnahkan kelompok manusia lainnya atas nama negara. 
aceshowbiz.com

dillonw1996.wordpress.com
The Boy in Striped Pajamas menggambarkan interaksi dua bocah polos dengan sangat sederhana. Bruno dan Shmuel yang memiliki wajah imut-imut menjadi daya tarik tersendiri. Celoteh dan tingkah polah khas anak-anak sudah mampu mencuri hati saya ketika menonton. The Boy in Striped Pajamas juga menggambarkan bagaimana Nazi Jerman mencekoki warga negaranya untuk mencintai negara. Namun mereka tidak menerima pihak yang berpandangan politik berseberangan. Ralf bahkan membiarkan ibunya mendapat hukuman. Intinya, seluruh warga negara harus memiliki satu pemikiran yang dianggap sebagai bentuk cinta negara. Sebaliknya, mereka didoktrin untuk memusuhi Yahudi dan menganggap seluruh ras tersebut sebagai makhluk hina tanpa terkecuali.

Namun seluruh doktrin itu tidak memengaruhi Bruno sama sekali. Ia tetap berteman dengan Shmuel meski diam-diam. Ia bahkan rela menyamar menjadi salah satu penghuni kamp Yahudi untuk menolong Shmuel menemukan ayahnya yang hilang. Inilah awal petaka sekaligus akhir dari petualangan keduanya.

Film ini tidak banyak memberi kejutan. Jalan ceritanya seperti mendongeng karena memang dibuat berdasarkan sebuah novel. Namun ending-nya menghenyak. Terasa seperti hukuman bagi Ralf yang membiarkan kejahatan kemanusiaan di bawah kepemimpinannya. Satu hal yang bisa dipetik, tidak ada kebaikan di balik sebuah peperangan dan tidak boleh memusuhi suatu golongan tanpa alasan.

8 komentar:

  1. Sepertinya cerita ini menarik sekali dan perlu dibaca untuk menambah wawasan

    BalasHapus
  2. kayanya makna dibalik film ini, dalem banget deh...sangat baik ngga yah buat kita terapin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg mana nih pak yg baik buat diterapin? tidak memusuhi tanpa alasan? menurut saya iya :)

      Hapus
  3. ini film atau buku ya ? bagus sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. film yg diadaptasi dari sebuah novel :)

      Hapus
  4. Halo Linda, nice review. Jadi pengen nonton. td liat link blog dari grup keb. visit dan follow back ya :) clinicoustic.blogspot.com

    BalasHapus