Senin, 20 Oktober 2014

Mati atau Lari

mazerunnerbook.tumblr.com
Judul:     The Maze Runner
Penulis:  James Dashner
Tebal:     478 halaman
Cetakan: Dua, September 2014
Penerbit: Mizan Fantasi

Coba sebutkan hal-hal yang membuat Anda putus asa. Putus cinta? Ditolaknya lamaran kerja? Kehilangan gawai? Bandingkan dengan keputusasaan beberapa puluh anak lelaki yang tinggal dalam sebuah labirin tanpa pintu keluar. Lalu tambahkan variabel menarik berupa monster seukuran anak sapi yang siap melumat apa saja. Hal tersebut berlangsung lebih dari dua tahun, seakan hidup tak pernah berjalan. Hanya ada kesengsaraan.

Itulah sebuah kisah apik yang ditawarkan oleh James Dashner. Dimulai dengan seorang anak lelaki bernama Thomas yang tiba-tiba menemukan dirinya berada dalam kotak dan mengalami lupa ingatan. Saat keluar dari dalam kotak ia bertemu puluhan anak lelaki usia belasan tahun dengan berbagai tipe fisik mulai dari ragam kulit hingga rambut. Mereka telah tinggal di Glade dalam kurun waktu berbeda-beda. Glade merupakan titik tengah Maze, sebuah labirin raksasa yang selalu berubah polanya setiap malam. Perubahan pola itu menyebabkan semua orang yang berada di Glade tidak bisa keluar.

Awalnya The Maze Runner tidaklah cukup memberi rasa frustasi pada para pembaca. Sejujurnya tempat itu adalah surga, bila menihilkan pemikiran bahwa para tokohnya tinggal dalam labirin raksasa yang dikelilingi monster hewan setengah mesin. Namun Glade menawarkan kecukupan untuk sekedar hidup sederhana bagi sekelompok anak. Ada rumah, listrik, sumber air, ladang, dan peternakan yang mencukupi kebutuhan mereka. 

James Dashner seperti bermain-main dalam penggunaan POV (point of view atau sudut pandang). Kadang ia berbicara sebagai pikiran Thomas, kadang ia menjelma menjadi bukan sesiapa yang terlibat dalam kisah. Ia menggambarkan pertentangan batin Thomas yang tidak mampu mengingat masa lalunya, tertekan hidup dalam sebuah labirin, dan merasakan kebencian dari penduduk Glade yang lain. Kesengsaraan mendorong para penghuni Glade menjadi orang-orang yang tak suka banyak ditanya dan terbiasa bicara dengan kasar. 

Setting yang digambarkan cukup menarik. Meski sekilas saya teringat Hunger Games-bagaimana permainan itu diciptakan dalam sebuah lokasi yang gejala alamnya dapat dikendalikan melalui komputer. Bahwa ternyata tembok Glade yang tingginya mencapai 100 meter dengan Maze yang luasnya tak dapat digambarkan itu berada dalam sebuah laboratorium, sungguh hampir mustahil. Bahwa, ya, ada sekelompok ilmuwan yang cukup tega menjadikan anak-anak usia belasan tahun percobaan hingga satu persatu dari mereka mati atau berlari. 

Untuk membuat sesuatu yang mendebarkan dan memberi gambaran kejamnya kehidupan, James Dashner patut diacungi jempol. Apalagi ending yang tak terduga dan masih membuat bertanya-tanya karena nyatanya The Maze Runner adalah sebuah trilogi. Tidak seperti Hunger Games yang memberi ending di bagian pertama triloginya dengan kemenangan Katniss, Thomas justru merasakan kehilangan teramat sangat. 

Sebagai poin plus, buku ini menunjukkan dalam keadaan semenyakitkan apapun harapan tidak boleh padam. Bukan berarti tidak hidup di labirin akan membuat keadaan lebih menyenangkan. Nyatanya beberapa kenangan yang muncul justru membuat salah satu anak tidak mau kembali ke kehidupan asalnya. Hidup tetaplah pilihan walau tak ada yang benar-benar bagus untuk dipilih.

6 komentar:

  1. Bukunya aku gak baca, tp filmnya sudah ku tonton. Bagus...entah apakah sekeren bukunya atau lebih keren filmnya. Menurutku tentang harapan, benar yg mak tuliskan. Lebih baik mati dgn berusaha dengan segenap harapan, dari pada diam tdk melakukan apapun dan mati sia-sia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe itu yg saya simpulkan dari baca bukunya

      saya malah belum nonton :)

      Hapus
  2. datang berkunjung kemari, salam perkenalan ya :)

    BalasHapus