Jumat, 13 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-Bagian 12

Chang
            Sepanjang malam aku tak bisa lelap. Tubuhku menolak tidur. Ketika akhirnya aku dapat memejamkan mata, Waldon justru membangunkanku dan menugaskanku ke dapur. Kepalaku terasa pening. Ditambah lagi keadaan kapal yang bergoyang-goyang membuatku kesulitan berdiri tegak. Tubuhku seakan mengikuti arus air laut dan ikut bergelombang. Wajahku muram ditelan kelelahan. Aroma tubuhku tak ubahnya gelandangan kota. Menjijikkan, amis, entah bagaimana lagi caraku mendefinisikannya.
            Waldon dan awak kapal lain sudah menunggu. Mereka duduk berjejer rapi di ruang makan. Piring-piring bersih dan gelas-gelas kosong tertata di ujung meja. Sementara tong brendi dan whiski telah disiapkan. Aku menata mangkok-mangkok berisi daging rusa asin dan bermacam jenis ikan yang diasap. Waldon menepuk bahuku lalu berkata, "Makanlah. Lupakan ceritaku kemarin. Fokus pada hidangan ini dulu. Kau lapar." Aku mengangguk sekenanya. Tanpa mempedulikan sekitarku, aku keluar menuju buritan. Kutengok lagit. Cerah, matahari telah bersinar. Awan berarak indah serupa goresan kapas di langit.
            Kerajaan Selatan melawan Kerajaan Timur? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana dengan keadaan kaumku? Siapa yang menggantikan tanggung jawabku sebagai pemimpin? Apakah mereka masih mau menerimaku--minimal melihatku--sekembalinya aku dari Hallendoirf? Beragam pertanyaan memenuhi benak. Aku terlalu bodoh dengan nekat meninggalkan kampung halaman. Ini sebuah kesalahan. Tapi, bagaimana memperbaikinya? Kalau kembali sekarang, apa yang bisa aku lakukan untuk kaumku?
            Aku ingat Jem. Aku bisa membayangkan kekecewannya padaku. Aku, cucu kesayangannya, satu-satunya harapannya, memilih pergi demi mengingkari keharusanku sebagai pemimpin. Laki-laki tidak boleh begini! Laki-laki tidak begini! Aku benar-benar menyesal sekarang. Nampaknya Waldon dan awak kapal lainnya telah selesai makan. Kudengar mereka mulai menimbulkan keributan. Pasti mereka tengah menikmati whiski dan brendi. Aku tak ingin bergabung. Aku ingin menjernihkan suasana hatiku yang buruk.
            Sepanjang hari tak ada yang benar-benar kulakukan dengan benar. Waktuku habis berdiam. Jika Waldon memerintahlu melakukan sesuatu, baru aku beranjak dari buritan. Namun konsentrasiku terpecah. Aku terus mengingat Jem dan kaum tanah timur. Entah apa yang harus kulakukan demi menghilangkan rasa gundahku. Tiba-tiba suasana kapal riuh. Waldon meneriakiku. "Chang, kemari! Aku butuh bantuan!" Lalu aku menghampirinya. "Ada apa Waldon?" Ia agak ragu, "Kompasku tidak berfungsi. Kompasku tidak dapat membaca arah mata angin!" Kudengar di luar, angin menderu hebat. Kulirik sekilas. Layar kapal kami robek. Robek? Firasatku segera buruk. Roda kemudi kapal berputar kencang.
            "Bantu, bantu!" teriak Waldon. Aku membantunya sebisaku. Namun roda kemudi berputar sendiri tanpa menghiraukan beban tubuhku dan beban tubuh Waldon yang berusaha keras menahan putarannya. Aku mengaitkan kakiku ke belakang dan berusaha mendorong roda kemudi ke arah sebaliknya. Roda kemudi itu tidak menuruti keinginanku. Waldon dilanda panic teramat sangat. Salah satu anak buah kapal melapor. "Lambung kiri bocor! Pompa penyedot macet!" Waldon terlihat histeris. "Siapkan sekoci! Cepaaat!" Aku dapat memahami ekspresi Waldon, mukanya memucat, buku-buku jarinya memutih. Ia mulai tak fokus. Tiang layar pertama telah patah. Beberapa anak buah kapal berusaha membuangnya ke laut agar tidak menghalangi gerak. Tiang layar kedua terlihat mulai goyah. "Potong itu!" perintah Waldon.
            Aku meloncat kea rah tiang itu dan membantu dua anak buah kapal yang masih muda untuk memotongnya. Kami tidak sempat memasang layar darurat. Ombak yang sangat tinggi bergulung dari jauh, membentuk dinding air yang gelap dan siap menerkam kapal. Sinar bulan tertutup berkas awan. Langit seperti kehilangan warnanya. Gelap gulita di sekeliling. Kapal berputar-putar tak tentu arah. "Awas!" teriak seseorang. Ombak yang tadi kutakuti menghantam kapal. Airnya menyapu dek. Aku berteriak ketika salah satu anak buah Waldon yang tadi memotong tiang layar terseret air. Kapal tiba-tiba miring. Namun nyawaku masih terjamin. Kakiku terjebak lilitan tali jangkar yang entah bagaimana ada di dekatku. Lelaki itu, lelaki yang hampir terseret air, berpegang erat dengan tanganku. Tubuh kami licin akibat basah. Ia memelas, tatapannya memohon agar aku tidak melepaskannya. Kami berbaring rata dengan dek.
            Kami tidak tahu dan tidak mau tahu dimana awak kapal lain. Waldon sepertinya bersembunyi di ruang kemudi. Kulihat roda kemudi yang patah meluncur keluar dan tersapu air. Dalam hati, tak henti kurapal mantra. Kumintakan perlindungan pada dewa mana saja yang pernah kudengar disebut Jem. Aku tak peduli bahwa dulu kukatakan aku tak percaya akan kehadiran dewa-dewa itu. Intinya siapapun, yang kupikir adalah Sang Pencipta. Sang Pemberi Nyawa. Sang Pemelihara Kehidupan. Aku rela mengganti masa depanku nanti bila ini perlu untuk ditukar dengan keselamatanku saat ini. Jika aku harus menjadi orang baik, oranguntuk ditukar dengan keselamatanku saat ini. Jika aku harus menjadi orang baik, orang bijak, berkeliling dunia dan menyebarkan kebaikan serta makna kehidupan pun aku mau. Asal aku tidak mati sia-sia. Tolong. Jangan lagi. Aku tak mau hidup terkatung-katung lagi di laut seorang diri.
            Kapal berputar makin cepat bagai roda kemudi Waldon. Kepalaku pening, perutku mual. Rasanya sepotong biscuit berlapis krim daging yang tadi kutelan dua potong hampir meloncat keluar. Aku bersyukur tidak banyak mengisi lambung. Namun lelaki yang tengah berpegang pada tanganku ini telah memuntahkan semuanya dan dengan cepat disapu air. Bau amis tercium. Perutku makin bergejolak. Lantai dek antara aku dan lelaki itu agak licin dan lengket. Aku berusaha memalingkan wajah tapi segulung ombak menghantam lagi kapal kami dan mulutku penuh air asin. Kumuntahkan air itu. Tenggorokanku akan kekeringan.
            Sebuah gelombang menghentak kapal. Seakan kapal digantung di udara. Lelaki itu, yang berpegang padaku, menjerit seperti wanita. Aku menutup mata. Rasanya kapal ini dibanting. Begitu keras hingga usaha kerasku bersikap tenang pun pecah. Jantungku melonjak-lonjak. Berbagai pikiran buruk menghampiri. Aku belum bertemu Jem, kumohon. Aku belum sempat membalas segala kebaikannya. Tolong. Jangan. Selamatkan nyawaku. Kumohon. Demi apapun. Demi dewa-dewa.
            Kapal akan segera terbalik. Dan benar, kapal terbalik. Aku menahan nafas. Gulungan-gulungan air menyerbu dari berbagai arah. Gelembung-gelembung udara yang terperangkap bergoyang-goyang di dalam air, mencari jalan untuk keluar. Miris kulihat gelembung-gelembung udara itu. Aku berharap dapat memasukkannya ke dalam paru-paruku. Mataku sakit. Air mataku sekarang bercapur dengan air asin. Kupastikan, mataku akan sangat merah. Ini lebih lama dari yang kukira. Terlalu banyak air! Aku meronta berusaha melepaskan belitan tali jangkar tapi lilitannya sangat kuat dan memaksaku membuang tenaga. Tubuhku makin lemas dan paru-paruku meneriakkan oksigen. Pusaran air besar yang terbetuk akibat karamnya kapal semakin dalam menyeretku ke bawah. Meski aku memaksa, aku tak juga mencapai permukaan air. Lelaki itu, lelaki yang berpegang padaku, telah melepas genggamannya dariku. Aku tak peduli lagi. Aku pun kesulitan keluar dari situasi ini.
            Dalam ingatanku, tergambar jelas wajah lelah Jem. Itu ketika ia tengah menyelesaikan perselisihan antardesa yang saling klaim sebuah area di hutan. Desa Bvath akan memakainya untuk perkebunan sementara kaum kami akan menggunakannya untuk menjebak unggas liar. Waktu itu, Jem berkata padaku, "Aku ingin memutuskan perkara ini secara bijak dan adil. Aku tak mau mengecewakan ekdua belah pihak. Namun aku sadar pasti bahwa tidak ada kebijakan yang sempurna yang akan menyenangkan dan diterima semua orang. Aku tetap berpegang teguh bahwa hutan itu harus kita kelola bersama dengan kearifa dan kesadaran untuk menjaga kelangsungan flora fauna di dalamnya. Agar penerus kita masih bisa menikmati hasilnya. Semua butuh kompromi. Semua ingin dimenangkan dan memenangkan suatu perkara berdasarkan kebutuhannya sendiri."
            Aku tak tahu berapa lama aku di bawah air. Aku tak punya harapan. Atau tak ada yang bisa diharapkan dariku. Kata-kata yang pernah diucapkan Jem berseliweran di kepala. Ia slelau datang mengusik dan menghantuiku. Aku harus segera kembali ke tanah timur. Jika memang demi kedamaian hatiku agar tidak terus dihantui rasa bersalah. Ya, aku memutuskan kembali dan menjalani hak sekaligus kewajibanku sebagai pemimpin kaumku. Ya! Itulah yang akan kuminta pada para dewa untuk membebaskanku! Aku akan kembali pada kaumku asal nyawaku dijaga!
            Tiba-tiba air yang tak kutahu dari mana datangnya mendorongku sekuat tenaga dan melemparku ke permukaan air. Gelagapan. Aku membuka mata dan mendorong air. Mencoba melihat ke sekeliling. Kakiku mulai kram. Kulitku keriput karena terlalu lama berinteraksi dengan air. Haus! Butuh air! Kusentuh dadaku. Masih ada, terompet kulit lembu pusaka kaumku masih ada! Aku meniupnya sekencang mungkin. Keras. Suaranya membahana. Kutiup lagi. Terus kutiup terompetnya. Tanganku menggapai ke atas, setinggi mungkin. Di kejauhan nampak kapal lain berlayar menujuku. Badai telah berlalu. Bulan telah menjadi ratu. Malam tidak segelap tadi. Angin yang bertiup hanya mengelus pipiku. Tanganku jatuh ke air. Aku kelelahan. Mataku meredup.
            "Angkat dia!" teriak seorang lelaki dengan suara berat. Suaranya terdengar sangat dekat dari ini. Aku membayangkan dalam mimpiku bahwa aku ditolong seorang kapten kapal penuh wibawa yang memimpin sebuah kapal penumpang yang sangat besar. Tak ingat apa yang terjadi selanjutnya karena aku tak bisa membedakan antara bermimpi atau tengah menjalani sesuatu dengan mata tertutup. "Bawa dia ke ruanganku," perintah lelaki itu. Lalu semua benar-benar bias.
Dcoff
            Lelaki yang kutolong berkalung sebuah terompet kulit lembu. Persis seperti seseorang. Milik seseorang yang pernah ia perlihatakan padaku. Tapi siapa? Siapa dia? Mana kapalnya? Mana orang-orang yang berlayar bersamanya? Kudengar ada kapal yang nekat berlayar ketika badai tengah buruk-buruknya di laut. Aku sendiri terpaksa berlayar untuk patroli di sekitar pulau.  Ia orang pertama yang kulihat di laut. Sebelumnya aku tak lihat perahu, sampan, sekoci, kapal atau manusia. Lautan terlihat kosong. Seakan tanpa tanda kehidupan. Musim badai kali ini benar-benar memporak-porandakan perairan dan mata pencaharian orang-orang yang bergantung pada laut. Pengiriman ikan tersendat. Tak ada yang melaut untuk memeriksa jaring ikannya. Tak ada yang memanen rumput laut. Sampai kapan kami harus tegar menunggu laut melunak?
            Kami dikhianati alam. Laut mempermainkan banyak kapal. Salah satunya, orang ini, orang yang tak sadar dan tengah beristirahat di ruanganku. Aku tak dapat membayangkan bagaimana keadaannya terombang-ambing di laut. Mataku masih sesekali memperhatikan terompet itu. Bentuknya agak aneh. Dari kulitkah? Bukan dari kerang? Semakin membuat penasaran dan bertanya-tanya. Tapi terompet itu bisa berbunyi!
            Lelaki itu menggumam. Aku mendekatkan telingaku pada bibirnya. Aku hanya mendengar satu kata, "Jem". Aku tersentak. Ingatanku melayang pada sosok pria tua yang sering berkunjung diam-diam ke istana. Ia menemui ayahku dan menghabiskan waktu mendiskusikan berbagai masalah kenegaraan. Ayah sangat mempercayai Jem. Dan, Jem selalu membawa terompet seperti yang dibawa lelaki ini! Aku langsung mengguncang tubuhnya denga keras. Ia terkejut dan terduduk di tepi ranjang. Matanya berkeliaran menatapku dan seisi ruangan. "Siapa kau? Kau yang menolongku? Terima kasih tuan! Berkat kau, aku masih hidup!"
            Ia menggenggam tanganku dengan erat dan berulang kali mengucapkan terima kasih.a ku mengangguk sekenanya dan ikut duduk di tepi ranjang. "Kau basah, kau harus berganti pakaian. Sepertinya ukuran tubuh kita tak jauh beda. Aku akan mengambilkanmu baju. Oh ya, minum dulu. Tenggorokanmu pasti tersiksa. Kukira, kau banyak menelan air asin." Matanya mengerjap-ngerjap. Aku yakin ia merasa perih dan sulit melihat. Kusodorkan sebaskom air, "Basuh mukamu." Ia menuruti kata-kataku dan mulai membasuh mukanya. Ada semacam bekas luka di belakang telinga. Seperti….seperti…..
            "Chang!" Ia menoleh, terkesiap. "Kau?" ujarnya. "Ingat tidak?" tanyaku. Ia sedikit memiringkan kepala, lebih memperhatikan wajahku, nampaknya berusaha mengingat sesuatu. "Dcoff!" Ia bangkit dengan tubuh basah dan memelukku erat. Air matanya tumpah. "Kemana kapal ini berlayar? Kau sudah lama tidak ke tanah timur. Maukah kau mengunjungi kampong halamanku? Ayo kesana. Aku ingin pulang!" Aku mendorongnya halus agar ia duduk lagi. "Sabar, kapal ini menuju Hallendoirf. Istirahatlah dulu. Ganti baju lalu kita keluar dan mengisi perut. Banyak hal yang perlu kau ceritakan padaku. Ada apa? Kenapa kau di luat, jauh dari tanah timur? Bagaimana kabar Jem?" Segera setelah aku menyebut Jem, ia memalingkan wajah. "Aku sulit menjelaskan semuanya. Dari mana aku mulai? Aku lelah."
            Kami sama-sama diam dan saling pandang dalam waktu lama. Aku pamit keluar ruangan dan memberikannya waktu berganti pakaian. Setelah itu aku mengajaknya berbaur dengan orang-orang di atas kapal. Waktunya sarapan. Perut kenyang, aku menawarkan tabib di kapal untuk memeriksanya. Ia tak menolak. Beberapa luka gores menghiasi kulitnya. Selain dehidrasi, ia juga mengalami hipotermia dan masalah pada mata. Tabibku merawatnya dengan baik. Ia lelap. Aku belum tertarik mengusiknya lagi. Nanti saja, kutanya lebih banyak. Rasa penasaranku masih bergaung dalam kepala.
            "Dcoff! Sebentar lagi kita akan sampai!" ujar Pollen. "Baiklah!" jawabku. Sebentar lagi kami akan merapat ke dermaga Hallendoirf.
 Rim
            Tanda-tanda kehadiran pasukan Kerajaan Selatan belum muncul. Sepanjang malam, tiap dua jam sekali para pemuda bergilir berjaga. Kini hari sudah pagi. Sepanjang malam salju turun dan sekarang salju tebal menutup permukaan tanah dengan rakusnya. Semangkuk sup yang dimasak darurat dibagikan. Aku melahapnya dengan semangat. Beberapa dari kami tidak tahan dengan hawa dinginnya. Jari kaki dan tangan membiru. Kuku-kuku membiru. Nafas kami pun berasap. Betapa menyedihkannya harus berada di luar rumah dalam keadaan kedinginan dan kurang makan. Aku membayangkan daging tebal yang dibumbui ibu. Pasti enak.
            Dari kejauhan, Istr, pemuda desa tetangga, memberi isyarat. Kami berada di atas bukit, tertutup rimbunan semak dan pohon. Selain burung diper yang asyik di sungai kecil di bawah bukit, sekelompok tentara dengan panji Kerajaan Selatan lewat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar