Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk Surat (Bukan) Dariku

Kuselipkan dengan hati-hati, tak lupa kubiarkan polesan lipstikku menempel di sana, di sudut kirinya.Surat pendek, berisi pesan agar kau jaga diri dan sampi di tujuan dengan selamat. Kupanjatkan setumpuk doa sepanjang hari semoga Tuhan menjagamu nanti. Kupintakan beragam hal pula. Supaya kau sukses di rantau dan segera pulang.

Tapi, surat itu bukan dariku.

Itu surat perempuan yang tengah duduk semeja denganku. Ia bilang kau akan meninggalkan kampung ini dan mencari kerja nun jauh di ibukota. Katanya lagi dengan bangga, kau berjanji melamarnya segera, setelah kalian bisa membangun rumah sederhana dan membeli mobil tua. ah, iri aku dibuatnya. Kerling matanya, senyum cerianya, penantian panjangnya. Kenapa dia yang menantimu pulang? Aku juga bisa!

Kuputuskan tanpa basa-basi. Kulihat menyelipkan surat untukmu, di saku bajumu yang tergantung rapi. Tapi pasti kuganti dengan namaku tertera di sana, dengan sepenuh cinta, dan kecup manis menggigit yang centil. Ya, ketika kau pulang, kau harus ingat, ada namaku di surat. Jadi, beberapa tahun lagi, lamarlah aku, bukan perempuan itu.

4 komentar: