Kamis, 26 April 2012

Beragam Kisah, Beragam Nama, Itulah Cinta


kampungfiksi.com

Judul                :           Banyak Nama untuk Satu Cinta
Penulis              :           Kampung Fiksi dan Sahabat
Penerbit            :           Leutikaprio
Tebal                :           193 halaman
Cetakan           :           Pertama, April 2012

            Anda penikmat buku cecintaan? Atau anda pemuja romansa? Pastikan diri anda tidak melewatkan salah satu antologi yang paling ditunggu dan direkomendasikan―setidaknya oleh saya―tahun ini. Tunggu, jangan kira saya penggemar genre ini. Saya termasuk orang yang jarang terbuai cerpen atau prosa bertema cinta. Saya juga kesulitan menulis kisah-kisah manis bertabur bunga dan coklat. Tapi, saya dapat dengan penuh pemaksaan merayu anda, "Bacalah buku ini!"
            Buku berjudul Banyak Nama untuk Satu Cinta merupakan sebuah antologi alias kumpulan cerpen yang ditulis oleh Kampung Fiksi dan para kontributor yang karyanya terpilih. Kampung Fiksi adalah sebuah wadah menulis fiksi bagi delapan perempuan yang menyebut diri sebagai bunglongers. Para bunglongers itu adalah Gratcia Siahaya, Endah Raharjo, Deasy Maria, Winda Krisnadefa, Sari Novita, Indah Widianto, Ria Tumimomor, dan Meliana Indie. Para kontributor sendiri terdiri dari 28 orang perempuan yang mengirimkan naskah dengan sukacita dan lolos seleksi.

            Tentu sebuah antologi terdiri dari banyak cerpen. Total 37 cerpen terangkum dalam buku bersampul ungu. Begini enaknya membaca antologi. Anda tidak perlu memulai baca dari awal, cukup pilih cerpen mana yang mau anda selami lebih dulu. Beberapa cerpen sangat menarik perhatian saya, sebut saja; "Tepat Ketika Bibirnya Mengecup Hangat Tepi Keningku", "Mark & Celia", "Lelaki yang Mencintai Laut", "Chocolate, My Soulmate", "Pernah Mendapat yang Terbaik", "Betis Indah Sang Lelaki", "Tiga Gelas O", "Devadasi", "Sebuah Awal", dan "Pauline".
            "Lelaki yang Mencintai Laut" menampilkan puisi-puisi apik tentang laut. Tentang pengembaraan yang akhirnya menemukan. Sebuah pencarian akan seseorang yang terus memenuhi hati seorang perempuan dengan kisah-kisah lautnya. Meski minim dialog, tidak menjadikan cerpen ini membosankan. Justru pergulatan batin yang ditangkap dari si perempuan tergambar jelas dan ikut mengaduk emosi pembaca.
            "Chocolate, My Soulmate" menjadi salah satu cerpen yang membuat saya terkikik geli. Bagaimana tidak, kisa seorang perempuan yang bisa jatuh cinta dan putus hubungan dengan pacarnya dimulai dengan coklat! Gaya cerita yang menggelitik membuat saya merasa tengah mendengar cerita seorang teman tentang pengalamannya dengan sang soulmate alias coklat. Penuturan yang bagus membuat saya merasa familiar, tak jauh beda dengan seorang kawan yang membagi ceritanya pada saya tentang dia dan si coklat.
            Bisa dibilang, "Tiga Gelas O" benar-benar memikat saya. Meski ide cerita tentang kisah cinta berbeda keyakinan bukanlah hal baru, tapi cerpen ini tidak menjadikannya basi atau cengeng. Cara mengakhiri cerpen cukup membuat penasaran sekaligus deg-degan setengah mati, apa kelanjutannya?
            Saya terkejut menemukan "Devadasi" yang berbau India. Kebanyakan cerpen bersetting kota besar dan kehidupan kaum urban, berbanding terbalik dengan "Devadasi" yang memotret kehidupan di sebuah daerah di India yang mengangungkan ritual keagamaan dan mengatasnamakan para dewa atas penyimpangan. Selain "Devadasi", ada pula "Pauline" yang berlatar luar Indonesia. Kisah Nenek Pauline cukup sederhana tapi mengena sekaligus mengingatkan kita. Betapa kita memerlukan ketulusan ketika orang lain membutuhkan kita dan menganggap kita bagian penting dari hidupnya.
            "Sebuah Awal" tak kalah menarik dibanding cerpen-cerpen lainnya. Tentang keoptimisan seseorang yang percaya, segalanya adalah sebuah awal mula. Meski pada akhirnya ia merasakan sebuah akhir, ia tahu selalu ada awal. Awal tetaplah awal, ia tak perlu berpikir ada akhir.
            Jangan ragu, antologi ini tidak akan membuat anda bosan. Justru anda akan terhibur dengan beragam kisah cinta, mulai dari yang manis sampai yang pahit. Berbagai ironi dan yang terkubur menjadi terungkap. Selain itu, bunga dan coklat masih menempati urutan atas sebagai hal wajib simbol romantisme. Juga secangkir kopi yang jamak ditemui dalam berbagai cerpen, tak hanya cerpen cecintaan. Latar rumah sakit dan kaitan antara penyembuh dengan pasien pun beberapa kali muncul dalam antologi.
            Pilihlah cerpen di dalam antologi ini sesuka ini, mana yang anda suka, mana yang sesuai dengan kisah anda, mana yang memaku perhatian anda. Karena anda bebas mendefinisikan cinta dan menikmatinya. Karena cinta punya banyak nama dan rupa.

6 komentar:

  1. Saya belum abis bacanya mba, tapi.. Yang paling menggugah adalah yang.. kalau ga salah judulnya Nada dan Warna.. Touching banget, Tiga Gelas O juga keren :)

    BalasHapus
  2. iya, nada dan warna itu keyeeen.yg tiga gelas O bikin pembaca pengen garuk garuk tanah hahahahahhaha

    BalasHapus
  3. Wooow, Mbak Erlinda terima kasih ulasan bukunya keyeeeeen. Mbak NF, terima kasih sudah menyukai cerpen saya, "Nada dan warna" :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tulisan mbak juga keyeeeeen :)

      Hapus
  4. Waktu itu belum komentar di sini ya? Padahal udh baca resensinya dari awal huhu...

    Thanks Linda... ditungguin loh antologi cerpen dengan teman2nya. :D Berhubung saya sdg deact fb, hubunginnya lewat fb KF ya.. saya pasti buka fb KF setiap senin-selasa-rabu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak hahahah sekarang lagi ribet ngurusin kuliah. kata temen sih "santai aja ngurus antologinya".yaudah haha.oke mbak ntar kalo ada sesuatu linda bilang kok :D

      Hapus