Sabtu, 14 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-Bagian 13

Rim
            Wajah garang pasukan Kerajaan Selatan lewat di hadapan kami. Tanpa sadar, mereka melangkahkan kaki menuju jebakan kami. Dini hari, Istr, pemuda yang memberiku isyarat akan kedatangan pasukan tentara itu, memberi ide menakjubkan. "Kita harus memanfaatkan salju tebal itu!" ujarnya penuh semangat. Aku memberinya kesempatan untuk menjelaskan idenya. "Kita gali saja salju yang menutup jalan setapak di bawah bukit. Lalu kita taruh perangkap beruang di sana." Lalu aku mengumumkan agar kami bergotong-royong menggali di jalan setapak di bawah bukit. Susah payah, kedinginan, dan kelaparan tidak menurunkan semangat kami. Setelah menggali hingga setinggi pinggang orang dewasa--karena salju yang turun benar-benar deras--kami menyebarkan perangkap beruang. Meski jebakan ini terlalu kejam bagi manusia, kami tak punya pilihan. Kami ingin mengusir tentara-tentara itu.
            "Grrk! Grrk!" Bunyi keras dari bawah bukit. Aku dan Istr merangkak agar dapat melihat lebih jelas tanpa ketahuan. Kami merunduk di sela-sela semak. "AAAAaaaaaaaaaaaa!" Lolongan para tentara terdengar memekakkan telinga. Para pemuda bangkit. Mereka mencengkeram senjata lebih kuat. Kulihat beberapa orang mulai melukai tangan mereka hanya dengan mencengkeram senjata. Aku memberi isyarat supaya mereka menahan diri. Para tentara di bawah bukit nampak ketar-ketir. Sebagian yang selamat berusaha menyelamatkan temannya. Darah menggenangi salju. Darah yang membanjir mengalir turun dari jalan setapak yang miring. Kutebak, itulah pemimpinnya. Ia terlihat marah. Matanya memperhatikan sekitar, berusaha menemukan siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini.
            Kuisyaratkan jariku agar kelompok pemuda di bawah komandoku bergerak dari dua arah. Separuh menuruni bukit dan langsung menantang pasukan di bawah sana. Separuh lagi muncul dari belakang. Berjingkat, kelompok yang akan menyergap dari belakang bergerak lebih dulu. Tanpa suara mereka menyisir area itu lalu mengendap. Tanpa disadari pasukan tentara di bawah sana, kelompok penyergap telah sampai tepat di belakang. Sementara kelompok penyergap dari depan berjalan terbungkuk-bungkuk agar rimbun tanaman menutupi langkah mereka.
            Kujentikkan jari. Mohr dan Sarkaw, pemimpin dua kubu penyergap, maju menghampiri pasukan tentara di bawah sana. Mohr mengayunkan pedanganya dengan sigap. Tak kenal ampun ia menghantam helm logam dua orang prajurit hingga mereka terlihat pusing. Aku yakin telinga mereka berdenging. Keduanya berteriak kesetanan. Pemimpin pasukan itu, yang berdiri di depan dan terlihat sangat marah itu, menunjuk sembari berteriak. "Jangan diam saja, bodoh!" serunya. Ia tak berhenti mengeluarkan sumpah serapah. Pasukan Mohr tanpa segan merangsek dan memukul mundur tentara-tentara itu. Sementara sisa tentara masih berteriak minta tolong karena terperangkap dalam jebakan beruang. Sarkaw dan pasukannya pun unjuk kebolehan. Tongkat dan pisau bergerak kilat. Tonglat-tongkat beradu dengan perisai logam. Namun tetap saja tentara-tentara itu terdesak. Mereka tersudut, tepat di bawahku dan Istr.
            Beberap kerikil jatuh akibat kikik geli Istr yang tak tahan melihat tentara Kerajaan Selatan tersudut. Aku dapat memakluminya. Pikiran bocahnya menganggap peperangan ini semacam bermain perang-perangan. Ia tentu tak sadar bahwa tubuhnya yang susah diam justru mengabarkan terang-terangan tentang keberadaan kami di atas bukit. "Hei!" teriak salah seorang tentara. Istr langsung mengatupkan mulutnya. Kebisuan sekian detik ini dimanfaatkan komandan pasukan tentara itu. Ia mengayunkan pedanganya membabi buta dan berhasil membuka jalan untuk dirinya sendiri. Ia lari. Anak buahnya dibiarkan kocar-kacir menghadapi kelompok penyergar Mohr. Sementara kelompok penyergap Sarkaw berusaha mengejar komandan pasukan itu yang menuju kesenyapan hutan lebat.
            Setelah menumpas tentara terakhir, kelompok Mohr naik ke bukit. "Apa menurutmu akan ada pasukan lain sebagai pengganti yang telah kami binasakan?"
"Aku tidak tahu, Mohr. Kerja bagus. Kau dan anak buahmu menghabisi mereka."
"Aku kira pemimpin pasukan tadi akan datang membawa bala bantuan."
"Kita akan menumpas mereka bersama."
"Bukan itu yang kutakutkan. Memang begitulah melawan penjajah. Tapi, apa yang mereka cari? Apa yang mereka inginkan? Mau apa menganggu ketenangan penduduk perbatasan? Mereka nampak beringas dan tak peduli pada nyawa yang akan mereka hilangkan. Mereka benar-benar bernafsu melawan."
"Maksudmu?"
"Kerajaan Selatan dan Kerajaan Timur adalah kerajaan kembar, kerajaan yang dipimpin oleh raja sedarah, berarti penduduk kedua kerajaan juga saudara. Namun mereka tidak mempedulikan fakta ini dan menerobos perbatasan membabi buta. Apa salah kami, penduduk perbatasan?"
            Sarkaw dan pasukannya kembali. "Kita harus pergi! Kita kalah banyak!" Dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Dalam dadaku sesuatu melonjak-lonjak. Kubayangkan jantungku tengah berada dalam genggaman mahluk mengerikan dan meronta-ronta minta dilepakan hingga jantungku menggelembung seperti balon dan hampir pecah. Aku berusaha keras meredakannya. Kutatap langit dan kulafalkan mantra-mantra yang baru kupelajari dari buku-buku Jem. "Ayo pergi!" teriakku. Entah ini perintah bodoh atau cerdas, yang jelas aku merasa sangat pengecut.
            Sebelum meninggalkan bukit kecil itu, Sarkaw memerintahkan anak buahnya menumpuk mayat para tentara. "Biar mereka lihat, kita sanggup melakukan sekeji mereka memperlakukan penduduk desa Gosheang!" Aku ingin melarang tapi Sarkaw meyakinkanku bahwa balas dendam ketika diperangi bukan suatu kesalahan. Mereka mulai menyulut api. Bau daging terbakar bercampur anyir darah dan luka menoreh hati menguar hebat. Sarkaw membuat gunungan mayat itu menghalangi jalan bagi pasukan yang akan segera lewat agar tidak bisa mengikuti kami. Mohr menyuruh beberapa orang tetap tinggal dan bersiap dengan setabung anak panah. Lariku semakin cepat. Kami tidak boleh mati bodoh. Kami harus memikirkan cara untuk menang meski jumlah kami tak sebanding dengan para tentara. Jauh di sudut pikiranku yang melayang-layang, aku kecewa tak cukup berpengetahuan dan berpengalaman menghadapi serangan macam ini.
            Kakiku terantuk sebatang kayu dan tanpa sadar aku telah jatuh terduduk. Pemimpin macam apa aku yang tertinggal di belakang? Orang-orang telah ebrlari lebih cepat. Kugerakkan kaki kiri. Bodoh! Kaki ini tidak mau menuruti majikannya. Kakiku terkilir di saat aku mempertaruhkan hidup-mati dan tanah kaumku. Ironi. Aku merangkak seperti bayi, seorang diri, bersembunyi dekat tunggul pohon mati. Sembari merunduk, kucari rerimbun semak atau tanaman apapun yang dapat menyembunyikan kehadiranku. Derap kaki kuda semakin dekat. Kututup telinga dan mata dengan kalut. Kutentramkan jantungku dengan paksa.
            "Ikuti mereka! Mereka pasti tidak jauh! Mereka berlari, bukan naik kuda!" perintah sang komandan. "Kau, matikan kobaran api di tumpukan mayat. Kau, kejar  orang-orang sial yang menyebabkan kekacauan ini. Dan kau, cepat ke Gunung Suci!" Detak jantungku seperti dimatikan seketika dan dipaksa bungkam. Otakku beku. Alisku bertaut, menggeleng keras-keras. Tidak, ini tidak mungkin, mereka telah mencium rencana kami, mereka tahu anak-anak dan perempuan akan diungsiakn lewat Gunung Suci. Mereka tidak bisa. Tidak!
            Gerakanku yang mengerang akibat sakit di kaki bergemerisik. Sekalipun pasukan itu besar dan banyak, salah seorang dari mereka tetap curiga dengan bebunyian yang kubuat. "Siapa di sana?" Mereka mulai menyibak rerimbun tanaman. Harusnya kakiku tidak sakit lagi sekarang. Tanpa perhitungan dan didorong rasa takut teramat sangat, aku bangkit dan berlari sekencang-kencangnya. "Tangkap diaaaaaaa! Jangan biarkan dia bertemu pasukannyaaaa!" seru pemimpin mereka. Aku tak sempat menoleh tapi angin di sekitarku berdesir. Hujan anak panah!
            Aku berlari gesit dan zig zag menghindari serbuan anak panah. Namun satu anak panah berkelit dan menusuk bahu kiriku. Tanpa kupedulikan darah yang merembes keluar, atau bahkan kakiku yang kesakitan, atau ranting-ranting yang menggores pipiku, atau keringatku yang ditumpahkan, atau rasa takut yang mendera-dera. Keinginanku hanya satu, berada sejauh mungkin dari mereka! Ingin kuteriakkan rasa sakit tapi mulutku terkatup rapat menahan perih. Lelah. Sungguh lelah. Aku telah berlari begitu jauh. Mereka tetap cepat dan hampir menyusulku. Mereka pasti berusaha menghadangku dari depan. Bagaimana ini? Aku hanya punya kaki, bukan kuda. Air mataku meleleh.
            Di kejauhan, Sarkaw berdiri. Tanpa ragu ia menungguku. Entah ia bodoh karena itu hanya akan mengorbankan nyawanya atau demi rasa hormatnya terhadapku. Ia di atas seekor kuda. Oh ya, itu pasti kuda Istr. Istr memang membawa kuda kesayangannya selama berjaga di perbatasan. Tangan Sarkaw meraihku dan menaikkanku di belakangnya. "Merunduk!" ujarnya tegas. Ia memacu kuda itu dengan cepat, sangat cepat, semakin cepat. Pasukan tentara di belakang kami tak mau ketinggalan. Mereka pun memacu tunggangannya makin cepat. Rasa sakit meledak di bahuku. "Aku tidak sanggup," rintihku setengah berbisik. "Tidak, daimlah," uajr Sarkaw. Butir-butir keringat memenuhi keningnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar