Rabu, 04 Januari 2012

Chang, Pejuang Tanah Timur-Bagian 7

Rim
            Puluhan orang berkumpul di lapangan desa. Beberapa orang masih kukenali dengan baik. Di sana, itu Pak Goar, dia pemilik satu-satunya rumah minum di tanah timur. Lalu lelaki dengan celemek kulit selutut berkantung banyak yang berisi alat-alat dapur pasti Slom, si tukang jagal. Lelaki bertopi jerami dengan cambang tak terawat dan kulit hitam legam adalah Vost, peternak kuda. Nah, yang berdiri tak jauh dariku bernama Pak Dreem yang bekerja di kota. Ia penjaga gudang yang letaknya dekat dengan tempatku bekerja dulu. Kupikir ia mendapat libur karena dulu sebelum merantau, ia jarang pulang. Ayahku, Rou, sibuk mengepulkan asap rokok tembakaunya. Tembakau terbaik yang dapat kubeli dengan uang tabunganku. Ayah terlihat senang dan puas. Perempuan-perempuan tidak ikut rapat semacam ini tapi mereka diizinkan menonton dari pinggir lapangan. Anak-anak dijauhkan. Keluarga Freoh mengajak anak-anak bermain ke padang rumput di balik bukit.
Ibuku, Jemima, terlihat tenang. Ia mengangguk dan tersenyum padaku. Ia memperhatikan dengan seksama. Orang yang dituakan di tanah timur, Loi, berdiri di mimbar. "Saudara-saudaraku, kaum tanah timur. Hari ini merupakan hari yang penting bagi masa depan kaum kita. Setelah kedukaan hebat, musibah yang menimpa tanah timur, kita telah kehilangan pemimpin sekaligus pemuka agama yang hebat semasa hidupnya. Jem meninggalkan dunia akibat sakit yang tidak ditemukan obatnya. Ia tanpa lelah berjuang melawan penyakit selama lima bulan. Tugas kita memilih orang yang tepat untuk menggantikan sosok Jem demi ketentraman tanah timur." Loi berdeham dan menurunkan pandangan. Mata tajamnya menatap satu persatu wajah lelaki di lapangan.
            "Walaupun satu-satunya keturunan Jem memilih pergi meninggalkan tanahnya, kita tidak boleh menyerah. Kita tak perlu merasa sedih atau putus asa dengan nasib kaum ini." Kuduga, tentang pegganti Jem akan menyebabkan kisruh. Benar saja, suara-suara bernada protes terdengar dari berbagai penjuru. Orang-orang mulai ribut. Sudah jamak diketahui, berdasarkan peraturan yang ditetapkan leluhur kami. Pendahulu Jem datang kemari dua ratus tahun yang lalu dan membuka lahan untuk pemukiman. Jem pernah bercerita bahwa kami bermula dari daratan lain, jauh dari Benua Mata Angin. Di sini kami hanya pendatang. Desa-desa lain di sekitar tanah timur telah ada jauh sebelum kedatangan kami. Mereka berbaik hati menerima dan menjadikan kami tetangga. Sejak itulah pedoman-pedoman dibuat agar kerukunan hidup antardesa terjaga.
            Slom mengangkat tangan, "Kau akan melanggar pedoman yang telah dibuat dua ratus tahun lalu? Apa kau memikirkannya masak-masak? Pedoman itulah yang memandu kita dan meluruskan hidup kita. Bagaimana jadinya jika melanggar sebuah pedoman? Nampaknya pedoman bukan lagi sesuatu yang harus dipatuhi secara sakral. Lalu buat apa menciptakan pedoman bila dengan mudah kita langgar?" gumaman-gumaman setuju memenuhi udara. Ribut. Aku melirik Elepta. Mata coklat dan rambut singanya mencolok di tengah kerumunan perempuan di tepi lapangan. Ia terlihat serius. Berdiri tegak, seakan menantang siapa saja yang ingin bicara dengannya. Itu juga alasan aku mengaguminya. Ia bukan perempuan biasa.
            Loi berdeham lagi. Aku bersemangat menghitungnya dalam hati. "Slom, bisakah kau memecahkan masalah yang tengah kita hadapi? Jika tidak mendobrak tradisi kana terjadi kekosongan kekuasaan. Tidak ada yang memimpin upacara kelahiran, kematian, dan pernikahan. Siapa yang akan sembahyang, membacakan mantra  demi kesejahteraan tanah timur bila bukan pemimpinnya? Siapa yang memimpin ritual tiap matahari terbenam? Siapa yang meniup terompet kulit lembu pusaka tanah timur? Kalau kau punya jawaban, aku tak segan mendengarkan." Aku melirik Elepta lagi. Ia sedikit mengerutkan kening, menambah eksotik raut wajahnya. Tangannya bersedekap di dada. Rambutnya berkibar-kibar ditiup angin. Ia mungkin punya mantra untuk menyihirku.
            Magogi mengangkat tangan, "Bagiku, mengubah sesuatu yang telah berakar sejak dua ratus tahun menimbulkan masalah baru. Kita mengkhianati pendahulu kita. Bahkan kita mengkhianati Jem." Magogi adalah sepupu Rou. Ia tinggi besar, tangan penuh kapal, dan punya sorot mata bengis. Kapak yang tak kalah besar menggantung di pinggul kirinya. Goar menyela, "Tapi kita tidak biasa berlama-lama membiarkan kekosongan kepemimpinan!" Dreem ikut menimpali, "Persetan dengan Chang. Ia yang menyebabkan kerumitan ini. Dengan kepergiannya secara diam-diam menunjukkan kepengecutan luar biasa sekaligus sikap tidak bertanggung jawab. Aku yakin kepergiannya sebagai penolakan melanjutkan tradisi kepemimpinan. Mengapa kita harus menantikan seorang pemimpin yang bahkan tak ingin memimpin?" Ungkapan-ungkapan menyetujui terdengar kencang. Lagi-lagi aku ingin melirik Elepta. Ia memandang ke arahku dan tersenyum. Aku merasa terbakar panas terik. Buru-buru kubenampak wajahku semakin dalam di balik topi lebar milik ayah.
            Loi mengangguk-angguk senang. Sikap setuju inilah yang ia cari. "Adakah di antara kalian yang dapat memberikan saran siapa yang dapat memimpin kaum tanah timur? Dia harus berkomitmen kuat. Dia pastilah orang yang rela memberikan waktu, hidup, dan masa depannya demi kaum tanah timur. Kembali orang-orang berdengung ribut. Memilih siapa yang memimpin perlu kau perhitungkan baik-baik. Jika kau salah memilih, sama saja dengan menggariskan nasib burukmu. Ayah bersiap-siap. Ia berbisik padaku, "Tampillah meyakinkan agar orang-orang percaya kau memang mampu. Jangan permalukan ayahmu." Untuk sesaat, aku berusaha mencari kekuatan yang dapat mendukungku. Setelah menatap sosok Elepta, kepercayaan diriku meningkat seribu kali. Aku tersenyum puas.
            "Loi, kau tahu kan, aku dan Ancehe telah dididik Jem? Aku bukan keturunannya tapi Jem menganggapku layaknya anak kandung." Rou menghentikan kalimatnya, membuat orang-orang gelisah tidak sabar menunggu apa yang akan selanjutnya ia katakan. Ibuku terlihat menguasai diri. Ia tidak terusik. "Sepeninggal Ancehe, bagi Jem, Chang lah satu-satunya harapan dan pilihan. Aku tidak menyalahkan cara berpikirnya karena memang itu kenyataannya. Jem juga tahu, aku mendidik Rim seperti ia mendidikku dulu." Gumaman-gumaman timbul. Ayahku Rou mungkin telah melatih pidatonya. Ia tampil dan berhasil menarik perhatian serta memancing rasa ingin tahu orang. "Rim telah kembali. Ia masih muda, hanya lebih tua empat tahun disbanding Chang. Namun ia bukan anak-anak. Ia sepenuhnya dewasa. Ia paham seluk beluk kepemimpinan di tanah timur. Maka aku mengusulkan putra kesayanganku menjadi pemimpin kita, pemimpin kaum tanah timur."
            Banyak orang nyata-nyata memperhatikanku. Agak risih memang. Aku berusaha menyungingkan senyum terbaikku. Wajah Elepta tanpa ekspresi. Ia masih menyimak rapat ini. "Apa saja pertimbanganmu menunjuk seorang yang begitu muda menjadi pemimpin kita? Kita tidak cuma butuh pemimpin tapi juga pemuka agama," komentar Dreem. Dadaku serasa diterjang banteng. Ah, orang-orang mempertanyakan kematanganku. Berapa usia Jem saat diangkat menjadi pemimpin? Dulu ia hanya bocah lima belas tahun. Ayahku seperti membaca pikiranku, "Jem memegang tampuk kekuasaan sejak ia lima belas tahun dan ia berhasil memimpin kita hingga delapan puluh lima tahun kemudian." Keraguan Dreem terpecahkan. Slom memotong kelegaan yang baru sedetik kurasakan, "Apakah nanti garis keturunan pemegang kepemimpinan berpindah? Apakah keturunan Rim akan memimpin kita, begitu seterusnya?" Aku bangkit. Kurasa ini saatnya aku angkat bicara. "Jika Chang kembali, ia tidak bisa menyentuh kepemimpinanku. Namun bila ia meminta haknya, aku akan mengizinkan keturunannya berkuasa setelahku. Aku hanya dibutuhkan untuk mengisi kekosongan yang darurat. Kalau Chang pulang, bagiku tidak ada lagi hal darurat yang kita khawatirkan sehingga aku tak dibutuhkan, begitupun dengan keturunanku.
            Elepta memperhatikanku. Ia tertegun melihatku bicara. Ibuku tampak bangga. Matanya memancarkan ungkapan kasat mata penuh kasih. Loi merentangkn tangan. "Apakah kita sepakat?" Orang-orang bersorak. Ayahku gembira. Ia menoleh dan memberiku isyarat. Beberapa orang lainnya masih menunjukkan ketidaksetujuan. Namun suara mayoritaslah yang berkuasa.
Xzat
            "Raja telah memerintahkan kita untuk menyerang beberapa titik," Xzat menunjuk peta, "hari ini kita menuju tempat Gosheang." Prajurit-prajurit itu memperhatikan dengan seksama. "Untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, kita akan melewati jalur memutari Gunung Suci." Seorang prajurit protes, "Itu sangat jauh, tuan. Lagi pula salju turun dengan deras. Akan sangat berbahaya bagi kita." Xzat tidak memedulikan nada-nada protes lainnya. "Bersiap-siaplah. Jika benar kalian adalah prajurit Kerajaan Selatan yang gagah berani dan mau mempertaruhkan nyawa demi kejayaan negara. Xzat berbalik ke tenda. Ia mengelus pedang kesayangannya. Pedang itu ramping dan ringan. Bilahnya terbuat dari kayu Draecwol yang dikenal dengan kekuatannya. Bahkan kayu ini tak rusak dimakan api. Sebongkah kecil permata yang telah dimantrai, pemberian Raja Korguz, berkilau-kilau.

            Pasukannya telah berbaris rapi. Tenda-tenda dirubuhkan, perbekalan disimpan, kuda-kuda disiapkan. Di dekat Xzat, berdiri penyihir Raja, seorang kepercayaan Raja Korguz untuk menjaga pasukan itu. Ia mendesis. Mata layu dan kulit beningnya betul-betul menipu. Jubah tuanya menyapu tanah. Ia mendekati Xzat, "Apa rencanamu dan raja?"
"Menggertak desa-desa di perbatasan. Kami akan membuat garis luar Kerajaan Timur lumpuh. Mereka akan mematuhiku. Nantinya ketika pasukan yang lebih besar datang bersama raja, mereka justru membungkuk hormat mempersilakan lewat."
"Obsesi menarik," ujarnya. Penyihir itu mengenakan tudungnya. Sedikit rambut ikal keluar, semakin menyembunyikan wajahnya. "Hei, kau tahu apa yang dipikirkan anak buahmu? Mereka acap kali bertanya-tanya siapa aku. Mereka kira aku perempuanmu. Hahahaha, lucu sekali. Penampilanku terlalu cantik untuk disebut sebagai penyihir." Xzat diam saja. Ia tengah mengenakan baju dan helm jala baja.
Chang
            "Aku tidak suka orang yang perfeksionis. Kebanyakan dari mereka memaksakan keperfeksionisan mereka pada orang lain. Mereka pikir hanya pendapat merekalah yang sempurna dan harus dipakai. Apalagi kalau mereka memaksa kita menjadi bayangan mereka." Chang menyesap teh pahitnya. "Apa kau melakukan perjalanan ini seorang diri?" tanya orang itu. "Begitulah. Oh ya, terima kasih untuk teh ini. Aku akan mencari kapal yang dapat membawaku ke Hallendoirf." Orang itu mengangkat alis, "Tujuan kita sama." Ia terkekeh. "Kau bisa naik ke kapal itu," ia menunjuk sebuah kapal kecil di dermaga, "aku naik kapal itu. Nahkodanya adalah kawan lamaku."
"Ya, tentu. Aku tidak perlu mencari kapal lagi." Chang memanggul buntalannya. "Sedari tadi kita mengobrol, kau belum menyebutkan namamu." Chang mengulurkan tangan. Orang itu menyambutnya. "Aku Yher. Tujuanku ke Hallendoirf untuk menemui keluarga kekasihku. Aku ingin melamarnya." Orang-orang berbondong-bondong menaiki kapal yang ditunjuk Yher. "Ayo kita naik," seru Chang. Yher adalah kawan seperjalanan Chang yang baru. Mereka baru bertemu di dermaga hari ini setelah Chang menyusuri sungai sehari semalam dengan berlari. Ia hanya berhenti untuk buang air dan minum. Meski tubuhnya kelelahan, ia tak peduli. Ia ingin secepatnya sampai. Ketika Yher bertanya apa alasan Chang meninggalkan desanya, Chang beralasan memberontak. Baginya, Jem telah memaksakan keinginannya pada Chang menjadi seorang pemimpin. Chang menolak. Ia yakin ia tidak ditakdirkan memimpin kaumnya. Ia bukan Jem. Menurutnya, Jem seorang perfeksionis yang memaksakan keperfeksionisannya.
Hallendoirf berjarak seminggu perjalanan dengan kapal. Dengan catatan cuaca bagus. Nahkoda kapal nampak cerah. Wajah bulatnya terang terpantul cahaya matahari. "Selamat datang di kapal Hoewr," ujarnya ramah. "Selamat menikmati perjalanan anda." Di kejauhan, awan hitam bergulung-gulung. "Kau yakin perjalanan aman?" seseorang berteriak pada nahkoda. "Tenang, aku yakin itu cuma awan hujan."

Peppe
            Aku bertemu tabib yang tempo hari dibawa Taremb untuk menyelamatkan penduduk sebuah desa yang kusinggahi. Ia masih ingat aku. Ia mengajakku datang ke kliniknya. "Setelah menguburkan semua jasad di desa Gloem, penduduk desa Wring membantuku memecahkan kasus aneh ini. Kukira kau tertarik mengetahuinya juga. Aku yakin kau sekaget aku melihat kejadian itu. Aku menemukan ada yang aneh dengan sumber mata air di desa Gloem. Airnya kotor, bau menyengat, dan panas. Aku melihat seekor burung gereja minum dari sana. Tak lama kemudian, burung itu terlihat aneh. Aku terus mengamatinya. Lalu burung itu mati." Aku menelan ludah. Dugaanku benar. Taremb benar. Ada yang salah.
            "Kami punya ini," aku mengulurkan botol obat kecil. "Periksalah. Kau seorang tabib, kami tidak tahu soal ramuan obat."
"Apa ini?"
"Kami mendapatkannya setelah barter dengan pasukan dari Kerajaan Selatan. Mereka memberi tahu kami mengenai wabah penyakit misterius yang melanda desa-desa di perbatasan terluar Kerajaan Timur." Tabib itu mengecilkan suaranya, tatapan dramatisnya membuatku merinding, "Tidak ada wabah penyakit. Desa-desa di perbatasan aman. Kalau benar ada wabah, harusnya aku tahu mendahuluimu." Aku terkesiap.

Rim
            "Ini apa ayah?" aku memandang ayahku. Rou menoleh. "Itu salah satu perkamen dari perpustakaan rahasia Jem."
"Untuk apa?"
"Tata cara penobatan seorang pemimpin. Bacalah. Kita tetap mengikuti pedoman itu. Upacara penobatanmu dilaksanakan lusa." Ibu datang. Ia membawa sesuatu di tangannya. "Pakailah, nak. Ini setelan kesayangan ayahmu. Ia memakainya saat datang ke kota atau perayaan-perayaan besar." Aku memperhatikan, kemeja beludru dengan manset dan kancing-kancing terjahit rapi. Sedikit renda menghiasi celana dan kerahnya. Sebuah rompi menambah keindahan setelan itu.
            Aku ingat Chang. Seandainya ia datang pada malam penobatanku. Ia teman sepermainan sejak kecil, bagai saudara sedarah untukku. Namun kalau ia benar muncul, justru akulah yang datang ke upacara penobatannya. Chang tidak pernah belajar atau diajari seperti aku. Aku beruntung ayah mau membekaliku dengan beragam ilmu yang ia serap dari Jem. Hati kecilku terusik. Mengapa Chang pergi? Kenapa ia melakukannya? Apa rencananya? Tahukah ia aku ingin melihatnya memimpin kaum kami?







4 komentar:

  1. Makin seru ini.... idenya lancar amat lin..jadi ngiri he..he...tapi aku tetap mengejar di belakang. jangan lengah ;p :D

    BalasHapus
  2. kejar mbak silakan silakan hahahahha ini kan emang kejar2an sama waktu :D 31 januari depan mataaa

    BalasHapus
  3. lanjut!
    Bagaimana kisah keracunannya?? *mata berbinar penasaran... :)

    BalasHapus