Minggu, 11 Maret 2012

Salah Lastri


            "Persetan dengan perempuan laknat itu. Harusnya dia tahu cara membuka mulut yang benar dan kapan waktu yang tepat. Asu! Dasar perempuan kampung, tak tahu diuntung, tak pernah menginjak bangku sekolah!" Kutekan ujung rokok yang masih menyala ke asbak untuk mematikan apinya. Bosan menyumpah-nyumpah, aku berdiri. Berkacak pinggang. Kuelus cambangku yang mulai ditumbuhi uban. Sial, emosiku tak kunjung reda. Masih panas telingaku mendengar pengakuan mantan istriku bahwa aku telah meninggalkan kewajibanku menafkahi putri kami selama enam bulan terakhir. Sudah kubilang, meski kami sudah bercerai, dia tak boleh membuka aib dapur kami. Biarlah ia tahu kini aku jatuh miskin, terlilit hutang, dan dikejar-kejar debt collector. Namun mulut setannya tidak mau kompromi. Perempuan itu mengeluhkan keadaan kami pada seorang kerabatnya di kampung sebelah. Ia mencoreng martabatku, kepala desa Raiwangi!

            Berita jelek itu pasti gampang menyebar. Tanpa perlu ba bi bu, belum setengah hari perempuan bodoh dan hina itu curhat pada kerabatnya. Semua orang di desaku sekarang telah mengetahui bahwa aku bangkrut. Bahkan membayar uang sekolah putri kami, putriku dengan perempuan sial itu, aku tak mampu. Ah, perempuan macam apa dia? Dia mempermalukan aku, mantan suaminya sekaligus ayah dari anaknya! Tolol! Anakku pasti dirundung malu akibat ulah ibunya. Silakan, silakan ia bicarakan keburukanku. Sampai mati nanti, dia akan nelangsa! Lihat saja!
            Kusarungkan golok yang sedari tadi tersimpan di atas lemari. Kuselipkan pada sabuk di pinggang yang tertutup sarung. Tak sabar aku mendatangi perempuan itu. Sepanjang jalan, orang-orang menatapku dengan pandangan menghina. Beberapa ibu seperti berbisik dan menuding atau melirik sinis setiap langkah majuku. Dasar mantan istri bajingan! Mau apa dia dengan semua kebusukan dari mulutnya? "Mau kemana pak kepala desa?" seorang lelaki dengan kumpulan bebek angon yang berkumpul di belakangnya menahanku. Aku mendengus. Mau kujawab apa dia?
            "Jalan-jalan, cari udara segar," jawabku sembari memaksakan seulas senyum. Ah, lelaki beda dengan perempuan. Lelaki tidak terlalu heboh dengan gosip. Bisa jadi lelaki di hadapanku ini belum dengar tentang aibku yang dibocorkan mantan istriku itu. "Bapak sedang kesulitan keuangan? Kebetulan sedang ada dana segar di koperasi pak. Nanti bapak bisa dapat pinjaman modal untuk…." Sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, aku telah berlalu, mempercepat langkahku menuju rumah mantan istriku.
            Aku berdiri dengan jarak lima meter dari gubuk kecil tempat mantan istri dan putriku berdiam. Gubuk ini dibangun tak lama setelah Lastri resmi bercerai denganku. Sebagai seorang ibu, hak asuh putri semata wayangku jatuh ke tangannya. Belum apa-apa semakin sebal aku dibuatnya. Lastri membangun gubuk di tengah kebun, jauh dari rumah tetangga. Seakan ia ingin mengisolasi putriku dari pergaulan dengan para tetangga. "Lastri!" teriakku. Tidak ada sahutan.  Jangan bilang perempuan itu takut lalu sembunyi ketika mengetahui kedatanganku. Dia tidak boleh begitu! Dia harus mempertanggungjawabkan mulut tercelanya. Berjingkat-jingkat, kudekati bagian samping gubuk kecilnya. Jendelanya tersingkap sedikit. Seorang perempuan dengan jarik dan kaus lusuh tengah berdua dengan………….….laki-laki? Lastri benar-benar keterlaluan! Selain mencoreng mukaku, nampaknya dia mau mencoreng mukanya pula yang berarti semakin mencoreng muka putri kami! Mau apa dia berduaan dengan lelaki di dalam kamar? Kalau dia butuh lelaki, nikah saja! Jangan dengan cara begini!  Kuangkat golok. Aku memutar, mencari jalan dari belakang rumah. Pintu belakang tidak dikunci.
            Aku menyergap masuk kamar. Ketika pintu kudobrak, terdengar teriakan perempuan yang terkejut. Tanpa memandang siapa yang ada di dalam dan tanpa menunggu, langsung kuayunkan golok. Kalap, hingga pandanganku kabur. Aku tak tahu apa yang telah dihantam golokku. Semua kutebas, kupotong, kuhancurkan. Kamar itu segera porak poranda. Terdengar suara mengaduh dan menangis. Aku tak mempedulikannya. Biarlah Lastri mati bersama lelaki yang ia bawa ke kamar. Biar! Supaya putri kami hidup tenang tanpa aib yang dibuat ibunya!
            Sebuah tangan lemah mencengkeram kakiku. Kuhentikan golok. Aku tak kenal lelaki itu, lelaki yang berusaha mencegah perbuatanku menjadi lebih brutal. Tapi aku kenal perempuan yang telah mati lemas kehabisan darah di dekatnya. Perempuan yang salah satu tangannya terpotong itu ternyata bukan Lastri. Itu anak perempuanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar