Minggu, 08 September 2013

Hakikat Kesabaran

Kau tahu apa hakikat dari kesabaran? Adalah ketika kau berhasil membiarkan dirimu bertahan hingga sampai tujuan. Bukan berarti kau harus mendapatkan yang kau inginkan. Tapi bagaimana caranya kau tetap bersabar atas apapun yang digariskan Tuhan. Hal terpenting dari pelajaran kesabaran ini adalah kemampuanmu menerima kenyataan. Ya, sesederhana itu. Belajar kehidupan memang tak perlu muluk-muluk. Tak ada rumus pastinya. Namun kau dijamin merasakan manfaatnya bila berhasil melaluinya.

Saat ini pun kau tengah berada dalam masalah. Sebuah cobaan menghadang tekad bajamu. Masalah ini menekanmu sampai ke akar, merangsek dengan kasar ke dalam celah sanubarimu, dan merusak konsentrasimu. Ia memiliki daya serupa seluruh dunia beserta bencananya ditumpahkan ke dalam kepalamu. Begitulah kira-kira yang kau rasakan. Padahal kau alpa, ada tujuh milyar manusia, dan bukan cuma kau yang dicintai olehNya. Bukan cuma kau yang menerima cobaan dariNya.


Waktu itu lututmu bergetar hebat. Kau tak sanggup berjalan walau dengan kecepatan lebih lambat. Seluruh tubuhmu melemah, begitu pula keinginanmu untuk berjuang. Pandangan matamu mengibakan. Kau paksakan dirimu berjalan ke dalam kamar. Mengunci diri, mencari ketenangan. Sayangnya, kemanapun kau menuju, kesedihan tetap membayangimu.

Kau memeluk diri dengan erat. Dadamu terasa sakit secara fisik. Detak jantungmu menjadi tak menentu. Perasaanmu apalagi, macam tali yang dipuntir-puntir. Kau merasakan lubang digali dalam dadamu, menganga perih oleh sembilu. Kau ingin lari tapi tak punya tujuan. Kau ingin mencari penyelesaian tapi tak tahu ke mana kau harus memulai perjalanan.

“Kalau abang tidak buru-buru melamarku, aku keburu dinikahi orang.”

“Tapi abangmu ini bukan anak gedongan. Sama sekali tak masuk kriteria ibumu.”

“Pernikahan itu bukan cuma bicara makan dan uang. Kriterianya banyak, bang. Ibuku juga pasti melihat kalau abang pantas jadi suami. Abang orang yang bertanggung jawab, rajin beribadah, dan sayang padaku. Keluarga abang juga sudah menerimaku dengan tangan terbuka. Apalagi yang dicari ibu? Dia tak kan rela anak gadisnya jadi perawan tua.”

“Hus! Hati-hati adik bicara. Abang khawatir dengan pandangan keluarga. Adik bukan dari keluarga sembarangan. Orang tua adik orang terpandang. Kalau dipikir-pikir, tentu mereka sayang menikahkan adik dengan orang biasa seperti abang. Semua yang abang punya sebar pas. Pendidikan pas-pasan, keuangan pas-pasan, ilmu agama pas-pasan. Walau abang belajar dari sekarang, sulit menyamai bahkan menandingi kriteria yang dibuat orang tua adik. Apa adik tak malu punya suami seperti abang?”

“Bicara apa abang ini? Kriteria itu ketetapan manusia. Di atas langit saja masih ada langit, bang! Apalagi kita? Setiap kita mencapai suatu tingkat, masih akan ada orang yang tingkatannya di atas kita. Tak peduli gelar macam apa atau sebanyak apa yang berderet di belakang nama abang, yang paling hebat itu Tuhan. Tak ada manusia yang sempurna dalam memahami agama kecuali RasulNya. Manusia tidak diciptakan menjadi sempurna. Kewajiban kita adalah belajar dan belajar. Tak ada jaminan pendidikan membawa kita pada kesuksesan. Itu cuma salah satu alat yang kita gunakan. Bukannya abang sendiri yang mengajariku kalau pencapaian kita tak bisa dinilai dari bunga bank?”

“Abang khawatir adik berubah pikiran.”

“Tapi kalau menyangkut abang, aku yakin tak perlu ada perubahan.”

Waktu itu, senyum calon suamimu bagai aurora yang menuju surga. Kau melihat kelegaan dari bola matanya. Kau tahu percikan harapan dapat berbuah kenyataan baginya. Maka kau menguatkan hatimu akan cobaan yang akan menghadang, entah sebentar lagi atau masih nanti. Pertama-tama, yang harus kau luluhkan adalah hati ibumu.

Ibumu berulang kali bilang, dasar pernikahan tak cuma bicara perasaan. Beliau berkata, perasaan manusia bisa berubah sesuai keadaan. Karena serupa kehidupan, tak ada keabadian dalam sebuah ikatan. Bisa saja kau cinta mati sekarang. Namun siapa yang akan tahu apa kata hatimu esok hari? Kalau kau tak tahu apa yang bisa kau makan atau kau gunakan sebagai penutup badan.

Rezeki bisa dicari, katamu meyakinkan diri.

Bagi lelaki, harga diri itu harga mati, tegas ibumu.

Ucapmu, abang tak mungkin membuang sia-sia yang telah ia perjuangkan segenap jiwa raga.

Sayangnya kau lupa. Ibumu mungkin tak selalu benar tapi ia hidup lebih lama darimu. Berarti ia telah lebih banyak melakukan kesalahan dan merasakan akibatnya dibandingkan kau. Maka pengalaman-pengalaman itu membuatnya belajar sehingga ia bisa menasehatimu. Kadang, egoisme yang kau biarkan merambah membuatmu berpikir bahwa pandangan ibumu sekedar benar salah.

Bahwa kau merasa harus merasakan pengalaman hidupmu sendiri, belajar dari situasi yang kau alami, jelas bukan hal yang salah untuk dijalani. Sekali lagi kau lupa. Kehidupan bukan ajang coba-coba. Kau tak bisa menikah berkali-kali hanya karena kau pikir dapat belajar dari kepahitan yang baru dilewati. Kau tak bisa melahirkan berkali-kali hanya karena kau akhirnya tahu bagaimana cara terbaik membesarkan anakmu sendiri. Itulah sebabnya kau butuh seorang panutan, seseorang yang menjadi acuan. Sehingga minimal kesalahanmu bisa diminimalisir dari yang sudah lebih dulu belajar.

Lantas kau menjalani enam bulan pertama dengan tenang. Bersama suami yang kau cintai, kau tatap masa depan dengan keyakinan. Bahwa bersama-sama, gelombang apapun di dunia bisa kalian lawan. Bahwa bersama-sama, kegelapan dan kepahitan yang menerjang kalian rasa terang. Lantas kalian melalui setahun ke depan. Dua tahun. Tiga tahun.

Hal-hal yang nyata mulai datang. Suamimu mulai lambat menyamai laju kehidupan. Kau yang dimintanya fokus pada keluarga, menjadi ibu rumah tangga, hanya dapat berharap ia mampu membuatmu sejahtera. Namun apa yang ia cintai dan tekuni belum menunjukkan hasil positif bagi kalian. Kau yang terbiasa berlebih dari segi sandang pangan kini belajar memperbaiki standarmu atas nama kecukupan.

“Mana suamimu?”

“Dia sedang ada pekerjaan di luar kota, bu.”

“Jadi dia sudah dapat pekerjaan baru?”

“Begitulah.”

“Akhir-akhir ini dia jarang menjenguk ibu.”

“Maklum saja, bu. Setiap aku kemari dia selalu terhalang sesuatu. Kali ini pekerjaan barunya. Mohon ibu tidak tersinggung.”

“Ibu bukannya manja agar kalian rajin menengok. Ibu cuma ingin mendekatkan diri dengan menantu. Dia juga anak ibu.”

Kau tahu kadang kau meragukan alasan-alasannya. Kau lebih tahu apa makna yang terkandung dalam kata-katanya. Suamimu tak nyaman bersama keluargamu, itu fakta. Sementara kakak-kakakmu telah memikirkan hari tua dan saatnya berleha-leha, suamimu berpikir apa yang belum kalian punya. Matamu melihat matanya menatap rumah yang belum lunas cicilannya atau kendaraan roda dua yang dibeli bekas dari tetangga. Sedikit sesal menyembul dari hatimu mengapa kau biarkan masa depan lenyap dengan berkutat di dapur.

Suamimu menjadi mudah tersinggung bila kau ajak ke acara keluarga. Kau tahu baju-bajumu yang lama mengalahi kusamnya dinding rumah tetangga. Sementara ibu dan kakak-kakakmu tampil mentereng dengan baju-baju yang sedang tren. Bila membahas keseharian, isi kepalamu hanya terbayang dapur dan kasur. Namun kakak-kakakmu membahas rencana liburan ke luar negeri atau anak-anak mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi.

Kadang kau berpikir inikah artinya bersabar. Ataukah kau terlalu bebal sehingga nyaman dengan tiadanya perubahan. Setiap detik dalam hidupmu terasa berat dan menyiksa. Orang bilang, begitulah rasanya berumah tangga. Manis indah hanya di awal cerita. Pahit asam adalah penyegar pada tahun-tahun berikutnya.


Lantas kau berpikir ini risiko dari sebuah pilihan atau hukuman atas kekeraskepalan. Maka kau melihatnya dengan gamang. Kau takut tak benar-benar menginginkannya tetap mendampingimu. Sebab kau takut tak ada hari esok yang ia bawakan untukmu. Akhirnya kau berpikir. Kesabaran memang tak berbatas. Namun kau mungkin bisa mempertimbangkan bersabar untuk melepas sesuatu yang kau inginkan untukmu agar kau bisa meraih yang lebih baik bagimu.



Tulisan ini diikutsertakan dalam #IWriteToInspire

8 komentar:

  1. subhanallah,.. tulisan ini bagus banget..
    "dengan judul" sabar...

    ya, harus sabar dalam segala hal.

    BalasHapus
  2. Salam Mba Linda,
    Sekali lagi terima kasih sudah berkenan meramaikan GA pertamaku ya...
    Pemenangnya sudah diumumkan :)

    BalasHapus
  3. Lindaaa,,bagi ilmunyaa dooong,,kok bisa sih sebulan bisa posting lebih dari 10 postingan,,idenya darimana siih >_<...
    upps maaf OOT dari postingannya,hehe...

    salam EPICENTRUM

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh kebiasaan aja, atau ya kayak gini karena ikut2 lomba

      Hapus