Minggu, 30 September 2012

The Hungar Games, Membunuh atau Dibunuh

http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/82746/The-Hunger-Games

Judul               :           The Hunger Games
Penulis             :           Suzanne Collins
Alih Bahasa     :           Hetih Rusli
Tebal               :           408 halaman
Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama

            Pasti seru kalau sebuah negara membuat permainan yang melibatkan remaja-remaja dari seluruh pelosok tanah air yang menjanjikan hadiah berupa kemakmuran hidup sekeluarga. Namun, bagaimana kalau yang dipertaruhkan dalam permainan tersebut adalah nyawa? Sebab pilihannya cuma dua. Membunuh atau dibunuh. Apa kau rela membunuh laki-laki yang menyelamatkanmu dari kelaparan demi sebuah gelar kemenangan?

            Pertanyaan itulah yang menghantui pikiran tokoh utama novel Hunger Games, Katniss Everdeen. Berdasarkan pengocokan tahunan yang dilakukan di alun-alun distrik di kedua belas distrik negara Panem (dulunya Amerika Utara) adiknya―Primrose Everdeen―dan seorang anak lelaki yang pernah memberinya roti, Peeta Mellark, harus terjun ke arena pertarungan. Katniss yang sangat mencintai sang adik mengajukan diri menggantikan adiknya mengikuti permainan Hunger Games. Kegamangan muncul karena ia tak punya pilihan selain membunuh Peeta. Tidak ada kawan, semua adalah lawan.
            Suzanne Collins menciptakan sebuah negara dengan pemerintah yang buruk dan keji. Tak hanya menciptakan permainan membunuh-atau-dibunuh ini, Negara Panem juga menciptakan kepahitan demi kepahitan yang harus diterima rakyatnya. Para peserta Hunger Games didandani layaknya raja dan ratu yang akan pergi ke pesta mewakili distriknya. Mereka disanjung sebagai pahlawan dan mengikuti wawancara televisi. Persiapan mereka sebelum masuk arena selalu disorot kamera. Kedua belas distrik disuruh ikut merayakannya bagai kenduri akbar yang menyambut kematian satu demi satu pemain.
            Apa yang menarik selain cerita yang unik? Dengan mudah, tokoh utamanya mengundang senyum. Katniss yang menjalani kehidupan yang keras tidak menjadi cengeng atau lemah. Meski perempuan, dengan gagah ia menyandang busur dan anak panah. Hubungan yang rumit dengan ibunya yang depresi, sikapnya yang sangat melindungi pada sang adik, hinga kerekatan persahabatannya dengan Gale mewarnai kisahnya dalam novel ini. Kekuatan hati Katniss diuji ketika ia tahu ia tak hanya berhutang sepotong roti pada Peeta. Anak lelaki yang tulus itu menjadikannya cinta pertama dan meletakkan kepercayaan padanya.
            Walau apa yang dijalani Katniss sekilas terasa mudah dan narasi yang panjang awalnya membuat saya bosan. Cerita mulai menarik ketika Katniss dan Peeta berusaha memberontak dan keluar dari aturan main Hunger Games. Bukan berarti kisahnya tidak mudah ditebak. Tapi sosok Peeta yang terlalu sempurna kadang membuat saya berpikir Katniss sebagai gadis yang dicintainya terlalu beruntung.
            Petualangan tidak berhenti ketika pemenang telah diumumkan. Sekali lolos dari lubang jarum dan Katniss tidak tahu petualangan baru yang lebih mencengangkan menunggunya di buku kedua trilogi ini, The Catching Fire. Sebagai penyuka fiksi, buku ini layak dinikmati. Selain inspirasi dari setting cerita dan tokoh Katniss yang tak paham cinta dan benci, novel ini tidak membutuhkan kening yang berkerut untuk dinikmati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar