Minggu, 16 Desember 2012

Sempurna

/http://www.shutterstock.com/pic-58627348/

            Ini hari jadi kami.
            Hujan turun rintik-rintik bersama angin dingin menusuk kulit. Kurapatkan jaket dan kuselipkan tangan di bawah ketiak. Sebentar-sebentar aku menengok ke arah jam dingin atau memeriksa kehangatan teh dalam cangkir. Kepulan uap hangat dari tehku mulai menghilang. Dudukku mulai tak diam, gelisah menunggu datangnya seseorang.
            Kunyalakan televisi. Suara dari layar kaca membuatku sedikit melupakan kegelisahan. Namun aku terus mengganti saluran. Hingga petir mulai menyambar di kejauhan. Aku terpaksa mematikan televisi dan kembali terdiam.
            Hampir satu jam.
            Lalu lonceng sapi dari kuningan yang kupasang sebagai ornamen di pintu depan berdenting. Wajahku menjadi hangat. Bibirku terangkat. Senyum lega segera kupasang. Sebelum membuka pintu, buru-buru aku mematut diri depan cermin.

            “Maaf ya, tadi jalanan macet,” katamu dengan wajah sedikit mengiba. Di tanganmu ada sebuket mawar pink dan putih. Di tanganmu yang satunya ada sekotak lasagna buatanmu yang selalu kau masakkan di hari spesial kita.
            “Ngga apa-apa. Ayo masuk. Kamu pasti capek.”
            Kita makan dengan perlahan. Kita lebih banyak tertawa dan bicara. Kau terus menggoda bahwa aku begitu cantik. Dan aku terus terpesona dengan buket bunga yang kau letakkan di sisi meja.
            “Eh, tadi aku telpon kamu di jam makan siang. Tapi kamu ngga angkat.”
            “Oh. Maaf aku lupa telpon balik. Tadi aku makan siang sama klien di luar.”
            “Sms aku sampai ngga? Kok ngga kamu balas?”
            “Aku ngga tahu ada sms. Hapenya aku silent.”
            Kutuangkan air putih ke dalam gelasmu. Kau makan masakanku dengan lahap seperti orang kelaparan. Dan setiap melihatmu seperti itu, aku memperhatikan seakan takut kehilangan momen-momen kecil semacam ini. Aku tidak mau mengusikmu. Melihat sosokmu di sampingku saja membuatku dadaku berdesir dan pipiku bersemu. Aku terlalu sulit mengungkapkan betapa bahagianya aku memilikimu.
            Kamu terbatuk, mungkin tersedak. Kusodorkan air dengan sayang.
            “Katanya makan di luar sama klien. Kok masih kelaparan gini?”
            “Makannya cuma sebentar, kebanyakan bahas kerjaan. Kliennya kurang suka makan. Aku jadi ngga enak kalau kelihatan nafsu sendiri.”
            Pengakuanmu yang terasa polos menggelitik perutku. Antara merasa lucu, dan lagi-lagi senang. Aku selalu senang mendengar cerita-ceritamu, entah penting atau tidak bagiku. Intinya aku senang mendengar suaramu atau mengetahui keterbukaanmu padaku. Itu lebih dari cukup mengingat kita jarang bertemu karena tinggal di kota yang berbeda.
            “Besok kamu jadi kan temenin aku ke ulang tahun Uti?”
            “Ya, soal itu, aku minta maaf. Bos mendadak minta rapat. Aku ditelpon waktu lagi di jalan mau ke sini.”
            “Yah....”
            “Tapi kalau resepsi Anton, aku bisa kok temenin kamu. Tenang.”
            “Kayaknya tiap aku ajak kamu pergi, jadwalnya sering kurang cocok ya.”
            “Itu juga bukan maunya aku..”
            “Mending kamu aja yang ngajak jalan, jangan aku duluan. Biar bisa menyesuaikan sama kesibukan kamu.”
            “Kamu ngambek, sayang?”
            “Ya mau gimana lagi? Kamu kan kerja. Kecuali kamu pengangguran, baru aku ngambek kalau kamu keluyuran dan nyuekin aku.”
            Kau mengusap-usap tanganku dan memandang lekat-lekat. Caramu memandang yang membuatku tak kuat. Rasanya aku ingin lebur ke dalam bola matamu, mengambang di sana, dan menunggu hingga kiamat. Di sana aku bisa melihat kehidupan yang kuimpikan dan ketenangan yang menghipnotis.
            Setelah menghabiskan waktu berjam-jam, kau pamit pulang karena besok harus kembali bekerja. Aku melepaskan kepulanganmu dengan sedikit bersedih. Mungkin kau baru bisa menyambangiku seminggu ke depan. Mendadak kangen menghujam jantungku dan mengiris-iris rasaku. Kedua tanganku memeluk tubuh, seakan dengan melakukannya membuatmu tetap tinggal.
            Esoknya, teman-teman dekatku di kantor saling memberi selamat untuk hari jadi kita yang sudah menginjak empat tahun. Mereka banyak memuji betapa langgeng dan adem ayemnya hubungan kita. Coba kau ada di sini, aku ingin sekali memamerkanmu pada semua orang. Aku ingin memperlihatkan betapa lengkapnya kita ketika bersama.
            “Pacarmu itu sempurna banget ya. Padahal kalian long distance. Tapi dia ngga pernah selingkuh.”
            “Hehehe, begitulah.”
            “Pacarmu romantis banget masakin lasagna sama bawain bunga. Duh, pacarku belum pernah masakin aku.”
            “Minta sana sama pacarmu, hehe.”
            “Kalian jarang berantem ya? Kok di twitter mesra terus..”
            “Semua orang yang pacaran pasti ada aja berantemnya. Cuma aku milih ngga nunjukin di depan umum. Itu kan masalah pribadi...”
            “Apa sih resepnya biar langgeng?”
            Kutatap satu per satu wajah teman-temanku yang sejak tadi memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Mereka terus bertanya hal-hal kecil yang menurutku terasa aneh. Bukankah mereka juga tahu rasanya pacaran? Kenapa mereka heran melihat hubungan orang? Menurutku, hubungan dengan seseorang itu rasanya sempurna. Tidak manis, tidak pahit, tapi pas. Ada beragam bumbu di dalamnya. Ada berbagai macam pengalamannya. Walau karakter orang yang menjalani berbeda-beda.
            “Aku ngga punya resep. Siapa bilang aku jarang berantem? Kadang berantem itu perlu biar hubungan kita makin berbumbu. Siapa bilang komunikasi lancar? Yang jarak dekat aja bisa salah paham apalagi yang jauh. Pacarku kan sibuk. Kadang dia ngga balas smsku. Kadang dia ngga angkat telponku. Kadang mau jalan aja susah. Soal romantis itu bukan cuma usaha dari pihak si cowok. Cewek juga bisa romantis kok. Dan romantis itu bukan cuma dinilai dari bunga atau masakan. Dia duduk di sampingku dan bicara sambil menatap mataku aja rasanya sudah wow.
            “Pacarku bukan pacar yang sempurna. Aku juga ngga sempurna. Yang sempurna itu kalau kami bersama....”
            Teman-temanku tertegun sambil berujar ooh dan mengangguk-angguk setuju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar