Kamis, 28 Maret 2013

Porsi Besar Mie Kocok Mawar


            
Kemarin saya dan dua orang teman memutuskan untuk makan malam di luar. Sebenarnya ini untuk keperluan tugas wawancara saya, mata kuliah Kewirausahaan. Kami memutuskan mencari makan di daerah Mawar, Bogor. Selain karena tempatnya tidak begitu jauh dari rumah, di sana juga banyak makanan enak yang harganya bisa dibilang terjangkau.

            Salah satu teman saya memperkenalkan warung tenda yang menjual mie kocok, tak jauh dari tempat les Nurul Fikri. Dari jauh, warung tenda itu terlihat penuh sesak. Bahkan banyak yang mengantri dengan berdiri. Saya dan kedua teman sempat menunggu di emperan sebuah toko. Tak lama, kami mendapatkan tempat duduk.

            Dua laki-laki bekerja cekatan membuatkan mie dalam porsi besar di dalam mangkuk-mangkuk yang berjajar di gerobak. Dua orang perempuan melayani pembayaran. Kurang dari sepuluh menit, mie kocok yang kami tunggu-tunggu sampai ke meja. Uap panas mengepul dari dalam mangkuknya. Terlihat potongan besar daging ayam tanpa tulang dan kikil sapi. Juga bawang daun, bumbu, mie, dan bakso yang berkumpul menjadi satu sajian dalam porsi yang bisa dibilang lebih banyak dari rata-rata mie ayam atau bakso yang pernah saya nikmati. Jelas harganya juga beda. Setengah porsi saja Rp12.000,00! Satu porsi dihargai Rp18.000,00.
            Herannya, meski harga mie kocok ini lebih mahal dibanding makanan lain yang dijual di sekitar Mawar, tapi penikmatnya tak pernah berkurang. Tiap kesini, teman saya juga selalu memesan untuk dibawa pulang. Selain antrian pengunjung yang tak ada habisnya, yang membeli dalam bungkusan pun tak kalah banyaknya. Saya sampai takjub sendiri melihat pedagang mie kocok itu yang gerakan tangannya cepat dalam meracik mie dan bumbu-bumbu.
Saya mewawancarai Teh Hani tentang asal mula usaha mie kocok ini. Ternyata warung tenda mie kocok di Mawar telah ada sejak 1970. Menurut Teh Hani, yang namanya usaha makanan tidak akan pernah sepi. Panas atau hujan pun semua orang suka makan mie. Ditambah lagi Teh Hani yakin racikan mie keluarganya memang unik dan berbeda dari racikan mie yang biasa ditemui. Kini kata-kata Teh Hani terbukti melihat aliran pembeli yang tak berhenti. Sekarang warung tenda mie kocok di Mawar mempekerjakan tujuh orang pegawai demi melayani para pembeli.
Bila ingin menikmati minuman dingin setelah kenyang melahap mie, Anda bisa memesan minuman di gerobak sebelah. Tersedia minuman sachet yang diolah dalam gelas plastik dengan tambahan meses, keju, chocochip, dan jeli dengan harga Rp4.500,00. Ada pula pedagang es cendol, molen mini, tahu goreng, ayam goreng, hingga cakwe. Tak heran bila malam menjelang daerah parkiran swalayan Bigmart di Mawar dipenuhi mobil dan motor yang pemiliknya ingin berwisata kuliner di sekitar sana.

10 komentar:

  1. matkul kewirausahaan ^^ kami juga lagi belajar itu, tapi belum sampe dapat tugas..
    waah mienya mahaaal. tapi kelihatannya enak. ngileeeeeer..

    http://mylittlecreambutton.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi yang dagang ga merasa kalo mie-nya mahal hahahaha

      Hapus
  2. Mie kocok mawar ini mie kocok pertama yang aku coba selama di Bogor dan... langsung nambah! Meskipun harganya gak sesuai sama kantong mahasiswa, tapi gak ada salahnya nyoba :D

    BalasHapus
  3. Haha jadi malu buka forum disini :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan malu2 beranda ini terbuka untukmu :D

      Hapus
  4. Ish, jadi ngiler.... Untung foto mie kocok yg udah jadinya nggak diliatin... Hahaha...

    *saya pencinta mie lho.. :9 hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha ga sukses nih reportasenya. ga bikin ngiler! XD

      Hapus
  5. Sayang penampakan mienya kurang jelas mbak :p
    Harganya lumayan mahal ya, tapi gak apa lah porsinya kan banyak dan enak pula :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhe memang untuk ukuran mie kocok kaki lima mahal hehe makanya makannya ga sering2

      Hapus